FanAI: 81% Penggemar Esports Hanya Mengikuti Akun Twitter dari Genre Game yang Disukai

0
442
FanAI: 81% Penggemar Esports Hanya Mengikuti Akun Twitter dari Genre Game yang Disukai
via esportsobserver.com

Intisari:

  • Data yang baru-baru ini dipublikasikan dari FanAI menunjukkan bahwa 81% penggemar esports hanya mengikuti satu genre.
  • Perusahaan tersebut membandingkan komunitas Twitter dari tiga genre populer di esports: FPS, MOBA, dan FGC.
  • Fragmentasi ini menunjukkan bahwa esports mulai terlihat seperti bagaimana olahraga tradisional terpecah.

FanAI , platform monetisasi audiens yang berfokus pada industri esports, telah menyediakan data melalui Cynopsis Media yang menunjukkan bahwa 81% penggemar esports hanya mengikuti satu genre. Fragmentasi semacam ini bisa menjadi tanda bahwa esports — selagi berkembang — dapat memiliki masalah untuk berfungsi dan bergerak maju sebagai sebuah kesatuan.

“FanAI membandingkan komunitas Twitter dari tiga genre populer di esports: First-Person Shooter (FPS), Multiplayer Online Battle Arena (MOBA), dan Fighting Game (FGC),” lapor Cynopsis Media. “Dari 26.7 juta akun unik yang ditinjau, 81% hanya mengikuti judul permainan yang berada dalam genre pilihan mereka. Dengan sedikit tumpang tindih antar genre, hal itu menjadi kunci bagi perusahaan yang ingin mensponsori atau berinvestasi di esports untuk secara hati-hati mempertimbangkan komunitas yang berbeda dan menentukan mana yang paling sesuai dengan produk perusahaan mereka. ”

Berikut adalah ilustrasinya:

Judul permainan yang dipilih, seperti CS:GO , Overwatch, Call of Duty, League of Legends, DotA 2, Heroes of the Storm, Street Fighter V, Super Smash Bros, dan Tekken, memang sudah mewakili berbagai bagian dari esports. Namun, perlu dicatat bahwa masih banyak genre yang terlewatkan, termasuk Battle Royale (PUBG, Fortnite), permainan olahraga (FIFA, PES), permainan kartu (Hearthstone), dan juga Real-Time Strategy (StarCraft II).

Judul permainan yang dipilih, seperti CS:GO , Overwatch, Call of Duty, League of Legends, DotA 2, Heroes of the Storm, Street Fighter V, Super Smash Bros, dan Tekken, memang sudah mewakili berbagai bagian dari esports. Namun, perlu dicatat bahwa masih banyak genre yang terlewatkan, termasuk Battle Royale (PUBG, Fortnite), permainan olahraga (FIFA, PES), permainan kartu (Hearthstone), dan juga Real-Time Strategy (StarCraft II).

Salah satu topik pembahasan yang fundamental seputar industri esports adalah apakah industri ini akan diperlakukan sebagai olahraga tunggal atau tidak.

Ketiga genre yang dianalisis sangatlah berbeda dan membutuhkan kerangka pemahaman yang sepenuhnya terpisah — bukan hal yang mengejutkan jika penggemar dari salah satu genre mungkin tidak mengikuti perkembangan berita genre yang lain.

Analisis terhadap fenomena genre yang memiliki kemiripan, seperti MOBA dengan RTS, atau unsur-unsur ketertarikan publik pada beberapa game simulasi olahraga, pun masih perlu dilakukan untuk dapat lebih banyak mengungkapkan temuan-temuan baru.

Baca juga:  Sudahkah Esports Resmi Menjadi Cabang Olahraga di Asian Games 2022?

Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh FanAI adalah bahwa fragmentasi ini menunjukkan bahwa esports mulai terlihat seperti olahraga tradisional yang terpecah. Salah satu topik pembahasan yang fundamental seputar industri esports adalah apakah industri ini akan diperlakukan sebagai olahraga tunggal atau tidak.

Dengan menunjukkan bahwa penggemar satu genre biasanya tidak menyeberang ke genre yang lain (sebagaimana penggemar olahraga NASCAR mungkin tidak menonton pertandingan tenis selama off-season), laporan FanAI mungkin menjadi sinyal awal bahwa genre individu — atau bahkan game individual — harus diperlakukan secara individual dan tidak bisa disatukan.

Tulisan ini merupakan terjemahan dari esportsobserver.