Ada Apa dengan Genre Real-Time Strategy?

1
423
Ada Apa dengan genre Real-Time Strategy? | Esportsnesia.com
via starcraft.com

Masuknya StarCraft 2 sebagai cabang olahraga esports yang didemonstrasikan di Asian Games 2018 merupakan sebuah titik kebangkitan dari sebuah genre esports yang kini mulai terlupakan keberadaannya. Penasaran dengan genre tersebut? Yuk, kilas balik dulu!

Permainan StarCraft 2 via Gamification Co
Salah satu permainan RTS, StarCraft 2 via Gamification Co

Sekilas tentang RTS

Real-time strategy atau disingkat sebagai RTS adalah sebuah subgenre atau pecahan dari genre game strategy. Sebuah game bisa dikategorikan sebagai RTS jika memiliki beberapa elemen gameplay di bawah ini.

  • Bisa memilih dan mengendalikan banyak unit dengan cara “dragging and clicking“,
  • Bisa menggerakkan unit untuk menguasai area penting seperti resource,
  • Bisa menyerang dan menghancurkan unit musuh,
  • Bisa membuat berbagai macam bangunan, seperti untuk sistem pertahanan ataupun untuk membuat pasukan unit,
  • Bisa terus menerus membuat dan mengontrol banyak unit sepanjang permainan berlangsung,
  • Bisa mengumpulkan resource untuk dipakai mendirikan bangunan atau membeli unit,
  • Bisa memberi perintah secara real time kepada unit yang dikontrol tanpa menunggu timer atau menunggu giliran dari player lain.

Contoh yang terkenal dari genre real-time strategy adalah StarCraft, Age of Empires, Command & Conquer, dan Company of Heroes.

Bermodalkan dengan keseruan menyusun strategi, RTS terlihat sebagai genre yang cukup menarik minat para gamer hardcore. Namun pada kenyataan zaman now, masa depan RTS tidak lagi segemilang masa lalunya. Penasaran? Yuk, disimak lebih lanjut.

Asal mula perkembangan genre RTS

Genre real-time strategy yang kita ketahui sekarang tidak lahir secara tiba-tiba, subgenre ini lahir perlahan-lahan, dari pecahan genre strategy. Game paling awal yang bisa dikategorikan sebagai RTS adalah Herzog Zwei (1989).

Walaupun game ini lebih mirip subgenre MOBA karena tujuan permainan dicapai melalui satu karakter hero, game ini memiliki sistem gameplay yang menghancurkan markas musuh dengan memakai banyak unit atau pasukan layaknya genre RTS modern. Gameplay juga dimainkan secara real time tanpa perlu bergantian menunggu pergerakan musuh.

Selain RTS, banyak game lain yang memakai sistem turn-based strategy yang harus menunggu giliran bermain.

Baca juga:  Melirik Peluang Investasi Esports di Genre Fighting Game

Pada tahun 1992, diluncurkan game Dune II yang mempelopori gameplay RTS modern saat ini. Gameplay tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui inovasi yang menggabungkan elemen-elemen game keluaran sebelumnya seperti Populous, Eye Of The Beholder, hingga terinspirasi dari user interface Macintosh.

Salah satu elemen penting yang diambil oleh game ini adalah konsep penggunaan mouse untuk memilih, menggerakkan unit, dan juga mengumpulkan resource. Konsep gameplay yang menggabungkan akurasi kontrol dari perangkat mouse dan banyaknya pilihan tombol di keyboard melahirkan aspek kompleksitas dan akurasi yang sangat penting bagi RTS modern.

Perlahan-lahan, perubahan gameplay RTS mengikuti perkembangan hardware yang terus berkembang, dan persaingan antar game developer pun terus membuat variasi yang lebih unik lagi seiring dengan perkembangan teknologi yang mampu menampung kompleksitas yang lebih besar.

Genre real-time strategy pada tahun 1998 hingga 2000 perlahan-lahan bertransisi ke tahap grafis 3 dimensi.

Tahap pertama transisi ini dimulai dengan membuat peta (map) menjadi tiga dimensi. Map ini bukan hanya menampilkan perbedaan tinggi dari medan dalam game tetapi juga memberikan fitur baru pada gameplay.

Sebagai contoh, Age of Empires yang terbit pada tahun 1997 menggunakan sebuah fitur yang bernama ­fog of war, dimana setiap unit yang berdiri di area yang lebih tinggi akan mempunyai jarak pandang yang lebih besar dibanding unit yang berdiri di tempat yang lebih rendah.

Sebagai contoh, Age of Empires yang terbit pada tahun 1997 menggunakan sebuah fitur yang bernama ¬fog of war, dimana setiap unit yang berdiri di area yang lebih tinggi akan mempunyai jarak pandang yang lebih besar dibanding unit yang berdiri di tempat yang lebih rendah.
Fog of war via Wikipedia

Transisi kedua adalah perubahan untuk unit yang dikontrol. Pergantian dari gambar 2 dimensi atau sprites yang datar dan hanya bisa menampilkan satu sisi gambar saja, menjadi polygon dengan bentuk tiga dimensi, yang akhirnya menyempurnakan tampilan pada kamera untuk bisa berputar 360° melihat ke dalam arena map.

Setelah periode transisi real-time strategy ke era 3 dimensi yang sempurna selesai, banyak orang yang menunggu tahap perkembangan apa selanjutnya yang akan terjadi terhadap genre ini.

Namun, perkembangan teknologi 3D untuk gaming secara keseluruhan bukan hanya mendorong popularitas terhadap genre RTS, tapi juga mendorong popularitas genre lain. Hal ini mengakibatkan munculnya kompetisi besar untuk menarik konsumen baru ke genre RTS.

Saat ini peminat game RTS sudah tidak banyak, sehingga kebanyakan game studio enggan untuk mengeluarkan game dengan genre real-time strategy karena mereka tidak yakin dengan total penjualan untuk mampu menutupi biaya pembuatan game tersebut. Juga mengingat belum lagi masih ada saingan dari game studio lain yang memperebutkan populasi pasar yang sudah mengecil ini.

Baca juga:  Mengamati Asosiasi Esports Korea, KeSPA

Awal penurunan popularitas RTS

Salah satu penyebab penurunan popularitas genre real-time strategy adalah meningkatnya kepopuleran genre fighting game. Bermula sejak tahun 1991 dengan perilisan gim Street Fighter 2, mulai timbul persaingan besar untuk genre real-time strategy.

Awal penurunan popularitas RTS
via Geek.com

Street Fighter 2 mempunyai banyak pilihan roster character, gameplay yang sangat responsif, dan yang paling penting lagi adalah mode versus competitive antara 2 player. Mode versus competitive adalah penyebab utama kenapa player yang sudah menamatkan storyline mode masih mau memainkan Street Fighter 2, karena player terus menemukan tantangan baru dengan melawan player lainnya.

Setelah kesuksesan Street Fighter 2, banyak game studio lain yang mencoba mengikuti kepopulerannya dengan membanjiri market dengan fighting game miliknya sendiri.

Penurunan popularitas RTS di zaman now

Penyebab lain turunnya popularitas RTS adalah kemunculan genre MOBA atau Multiplayer Online Battle Arena. Salah satu contohnya adalah League of Legends, yang dari sudut pandang casual gamer, judul esports ini memiliki banyak elemen gameplay yang mirip dari genre RTS seperti cara mengkontrol unit dengan jumlah ability yang lebih sedikit untuk dipelajari dibandingkan dengan jumlah ability yang ada di RTS.

Penurunan popularitas RTS di zaman now
via Geek.com

Bagi para pemain baru genre MOBA, mereka tidak perlu menghafal semua unit yang ada di dalamnya di hari pertama. Cukup dengan mempelajari beberapa hero saja dan perlahan-lahan mempelajari hero lain. Hal ini berbeda dengan RTS, dimana sejak permainan dimulai, kita sudah harus segera mengetahui dan mengerti semua unit beserta ability-nya.

Dari segi biaya produksi, genre MOBA sangatlah menguntungkan karena lebih mudah untuk menambahkan 1 unit atau hero saja dibandingkan dengan membuat satu faction baru untuk gim RTS.

Tidak hanya itu, hero yang ditambahkan tersebut juga bisa diutilisasi lebih untuk berbagai macam fitur microtransaction dengan menambahkan cosmetic item saja. Cosmetic item ini tidak mempengaruhi gameplay sama sekali, hanya menambah variasi visual saja. Jadi, berapapun cosmetic item yang ditambahkan ke dalam game, balance dalam game tidak akan terpengaruh.

Baca juga:  3 Pelajaran Kehidupan dari PUBG

Apa kabar RTS?

Seiring waktu, setiap game RTS yang baru dirilis selalu menambah keunikan gameplay dan variabel baru yang lebih kompleks dibanding game RTS lain sebelumnya. Hal ini mengakibatkan pemain semakin sulit beradaptasi dan mempelajari game RTS, karena tingkat kompleksitas yang kian bertambah.

Pada awalnya, karena batasan teknologi hardware, permainan RTS hanya bisa mengakomodir keberadaan beberapa unit saja. Akan tetapi, perlahan-lahan setiap game RTS baru yang diluncurkan selalu berlomba-lomba untuk dapat mengakomodir lebih banyak unit di dalam game-nya.

Hal ini juga turut membuat pemain baru takut untuk mencoba dan mempelajari game tersebut karena banyaknya jumlah unit yang harus diingat dan dikontrol untuk bisa memenangkan permainan. Fitur seperti ini menghambat casual gamer yang hanya ingin mencoba game untuk bersenang-senang. Menurut statistik dari salah satu Studio RTS, "80% player yang membeli game-nya hanya memainkan mode single player saja dan tidak mencoba multiplayer-nya."
via Geek.com

Hal ini juga turut membuat pemain baru takut untuk mencoba dan mempelajari game tersebut karena banyaknya jumlah unit yang harus diingat dan dikontrol untuk bisa memenangkan permainan.

Fitur seperti ini menghambat casual gamer yang hanya ingin mencoba game untuk bersenang-senang. Menurut statistik dari salah satu Studio RTS, “80% player yang membeli game-nya hanya memainkan mode single player saja dan tidak mencoba multiplayer-nya.

Aspek multiplayer sangat dibutuhkan untuk menjaga player kembali bermain game setelah menyelesaikan story mode, dan jika kebanyakan player hanya bermain single player saja maka dijamin player count untuk game tersebut akan berkurang secara drastis setelah dirilis, dibandingkan dengan game yang mempunyai fitur multiplayer yang menarik.

Inovasi atau punah

Faktor lain yang mempengaruhi turunnya popularitas RTS adalah kurangnya inovasi sekarang dibandingkan dengan RTS di tahun 1995. Perkembangan variasi gameplay genre ini sudah terhenti dengan strategi utama yang menggerakkan unit untuk mengumpulkan resource dan kemudian berakhir dengan unit kita menghancurkan unit musuh atau dihancurkan oleh musuh.

Dibandingkan dengan evolusi genre lain dan inovasi yang dilakukan RTS jaman dulu, genre RTS akhir-akhir ini terasa tidak mempunyai daya tarik lagi.

Seiring waktu, tiap game developer terus berlomba untuk dapat menciptakan sebuah gameplay yang unik dan eksklusif dengan mengadopsi beberapa unsur dari genre RTS, disertai dengan inovasinya sendiri. Perlahan-lahan game yang mereka buat pun mulai berjalan keluar dari subgenre RTS dan membuat cabang subgenre tersendiri.
Pengembang judul esports StarCraft 2 via blizzard.com

Seiring waktu, tiap game developer terus berlomba untuk dapat menciptakan sebuah gameplay yang unik dan eksklusif dengan mengadopsi beberapa unsur dari genre RTS, disertai dengan inovasinya sendiri. Perlahan-lahan game yang mereka buat pun mulai berjalan keluar dari subgenre RTS dan membuat cabang subgenre tersendiri.