Perjalanan Karier Crystal Mills Dalam Dunia Jurnalisme Esports

55
Crystal Mills jurnalis esports media partner esports
Photo by Stem List on Unsplash

Penasaran dengan peran perempuan dalam industri esports, khususnya yang berperan di bidang jurnalisme esports? Kali ini, bersama dengan Crystal Mills yang membagikan pengalamannya dengan British Esports, penulis akan membagikan apa yang bisa dipetik dari kisahnya sebagai jurnalis perempuan esports.

Awal mula perjalanan Crystal Mills dalam esports

Kira-kira satu dekade yang lalu, Crystal mempunyai sebuah ide untuk menggabungkan kesukaannya dalam menulis dengan hobinya bermain video game. Ia pun membuat sebuah blog yang bernama Hey CKM, yang merupakan inisial dari namanya.

Blog ini berisi banyak hal, mulai dari berita pertandingan esports seperti Call of Duty, hingga apa pun itu yang berhubungan dengan gaming.

Pada awalnya Crystal bisa menulis rata-rata sepuluh artikel dalam satu hari, dan ini masih belum termasuk berbagai macam review, opini dan hal-hal lainnya. Ia juga sering merekam dan mem-posting banyak video permainan game di YouTube meskipun hal ini membuatnya mendapat berbagai komentar aneh dari banyak orang di saat itu.

Perjalanan Karier Crystal Mills Dalam Dunia Jurnalisme Esports
Crystal Mills (Credit: British Esports)

Di saat itu, Crystal masih belum tahu akan berjalan ke arah mana ia menulis atau membuat konten.

Namun, karena kecintaannya (baca:passion) akan game Call of Duty semakin besar, dari sini ia mendapat panggilan dari eSportsNation, salah satu portal populer untuk berbagai berita tentang game Call of Duty saat itu.

Ia pun diundang bergabung dan menulis berbagai hal baik itu liputan dari suatu event dan juga analisis dari suatu permainan. Tak jarang ia membutuhkan waktu lebih dari 12 jam untuk bisa menyelesaikannya.

Di kala itu, ia hanya dibayar dengan sebotol minuman energi yang sampai sekarang minuman tersebut masih ada di rumah orang tuanya karena saking senangnya ia tidak ingin membukanya.

Crystal terus giat bekerja hingga akhirnya ia berhasil menjadi seorang manajer editor dan kemudian ia pun dihubungi oleh OpTic Gaming.

Berada di OpTic Intel adalah sebuah kesempatan karena para pekerja di sana mempercayai bahwa jurnalisme esports adalah hal yang penting dalam sejarah esports.

Crystal pun menjabat sebagai Pimpinan Redaksi (Chief Editor) dan di sana ia banyak berkontribusi mengembangkan OpTic Intel. Di samping tanggung jawab utamanya, ia juga terkadang membantu melakukan copywriting untuk website OpTic Gaming.

Sebagai seorang fans berat dari divisi Call of Duty-nya tim OpTic, semua pengalaman yang ia dapatkan terasa begitu sempurna!

Plot twist!

Namun, ternyata hal tersebut tidak berlangsung lama. Pekerjaannya hanya berjalan selama beberapa bulan, dan ia pun mulai merasa putus asa dengan begitu lambatnya laju pertumbuhan jurnalisme esports ini. Ia tidak sanggup untuk bisa membayar tagihan dengan apa yang dikerjakannya.

Di saat itu, Crystal mulai mencoba hal baru dengan masuk ke sekolah medis dan mengambil jurusan teknologi bedah. Ketika berada di tahap ini, ia mulai membangun kepercayaan dirinya. Ia pun menikah, dan berpindah ke kota lain.

Crystal lalu berkerja di bidang trauma pediatrik, dan menikmati tantangan yang ada di pekerjaannya. Kendati demikian, ia juga merasa kangen dengan kehidupan sebelumnya yaitu membuat konten esports.

Ia pun memutuskan untuk singgah kembali ke dunia tulis-menulis esports dengan mengambil pekerjaan lepas. Tulisannya pun sempat dimuat di situs bergengsi seperti theScore dan TheLoadout. Tidak hanya sampai di sana, semangatnya bahkan membawanya untuk membuat program podcast yang berjudul Power Level.

Kembali ke dunia esports!

Setelah kembali mengunjungi sedikit tentang masa lalunya di esports, Crystal merasa bahwa apa yang dikerjakannya ini terasa begitu nyaman bagaikan rumah.

Ia pun mulai menulis sebagai jurnalis untuk Esports Insider dan di saat yang sama membantu Benzinga membangun entitas esports-nya. Apa yang ditulis Crystal mulai ditayangkan di situs populer seperti Yahoo Finance dan Robinhood.

Alih-alih liputan turnamen esports, kini Crystal mulai menyelami segmen yang berbeda dan lebih profesional. Mulai dari kesepakatan bisnis, kemitraan, hingga laporan keuangan.

Podcast yang dibangunnya, Power Level, pun mulai disalurkan pada platform mainstream seperti Apple Podcasts dan Spotify. Di tahap ini ia sudah terhubung dengan sesama para konten kreator yang memiliki cara pandang yang sama.

Di saat yang sama, Crystal juga sempat merasakan kebingungan dalam menentukan arah hidupnya antara menjadi seorang tenaga medis, atau jurnalis esports. Kendati demikian, ia mengakui bahwa momen ini adalah pengalaman yang paling berharga dalam hidupnya.

Crystal telah tumbuh sebagai seorang persona dan juga sebagai sebuah brand dalam industri esports ini. Menurutnya, esports adalah industri yang akan terus berkembang dan penuh dengan pelajaran yang tak pernah habis.

Salah satu hal yang paling ia senangi tentang esports adalah betapa terhubungnya industri ini. Sebagai seorang penulis, Crystal harus selalu mengetahui apa saja informasi terbaru yang sedang terjadi.

Menulis hanyalah 40% dari total keseluruhan pekerjaan, sisanya 30% adalah jaringan, branding, dan ide pitching, 10% adalah penelitian, 19% bekerja dengan editor, dan 1% sisanya adalah untuk membaca dan membalas semua email.

Saran terbesar Crystal untuk penulis baru? Bangun portofolio!

Situs Hey CKM miliknya (walaupun tidak begitu bagus) bisa berfungsi sebagai portofolio hingga ia mendapatkan kesempatan di tempat lain.

Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mulai membuat, dan terus mengasah diri hingga kesempatan itu datang. Jika diilustrasikan, mungkin ini terlihat seperti saat kita melompat, di mana saat kita melakukan loncatan, kita tidak benar-benar tahu pasti di mana kita akan mendarat.

Terkadang mungkin kita akan mengalami penolakan ataupun mendapat tawaran pekerjaan yang sangat buruk, namun itu tidak apa-apa! Itu semua adalah bagian dari proses.

Yang terpenting adalah membangun relasi hubungan yang baik dengan sesama pelaku di industri esports, mengasah diri dan membangun portofolio. Selebihnya biarkan karyamu yang berbicara sendiri.