Mempelajari Kehadiran Louis Vuitton di Esports dengan LVxLOL

0
185
Louis Vuitton LVXLOL Collection
Credit: Louis Vuitton

Siapa yang tidak kenal dengan brand mewah Louis Vuitton? Brand yang sama sekali tidak memiliki relevansi di esports (atau disebut dengan non-endemic) ini kini telah melirik pasar esports.

Bersama dengan Riot Games, sang pengembang judul MOBA PC League of Legends, Louis Vuitton (LV) meluncurkan capsule collection LvxLoL. Langkah yang tidak terprediksi ini memicu berbagai macam reaksi di media sosial mengenai produk tekstil tersebut.

Beberapa orang menunjukkan antusiasme mereka, sementara yang lain menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap produk ini atau sekedar dari harganya.

Koleksi pakaian ini dirancang oleh Creative Director koleksi wanita Louis Vuitton, Nicolas Ghesquière, yang juga merancang beberapa skin karakter di League of Legends, True Damage Qiyana Prestige Edition dan Skinny Edition Prestise mendatang yang akan dirilis pada 2020.

Di saat harga skin dalam game lebih kurang hanya beberapa dolar saja (pemain dapat memperoleh skin Qiyana dalam satu paket dengan harga sedikit lebih mahal yaitu $10), harga dari produk LVxLoL ini justru bersifat eksklusif.

Kaos LVxLoL Qiyana dibanderol dengan harga $670. Produk connected watch-nya dijual dengan harga seharga $3,050, ditambah $420 untuk tali pengikatnya. Barang paling mahal dalam koleksi tersebut adalah jaket motor kulit domba berwarna perak seharga $5,650.

Sekilas Mengenai Louis Vuitton

LVXLOL Louis Vuitton

Didirikan di Paris pada tahun 1854 oleh Louis Vuitton (nama sang pendiri), brand Louis Vuitton telah berhasil membangun citranya melewati beberapa dekade dan generasi. Sebagai penghargaan atas kejeniusan ayahnya, di tahun 1896 Georges Ferréol Vuitton menciptakan kanvas Monogram yang secara luas dikaitkan dengan merek LV sekarang, yang menjadi simbol pembedanya dari brand lain.

Pada awal 2010-an, perusahaan ini mengalami sebuah krisis identitas dimana pasar merasa jenuh terhadap banyaknya pilihan fashion. Padahal, di industri fashion, citra sebuah brand adalah segalanya, khususnya untuk target pasar kalangan menengah ke atas. Belum lagi banyaknya produk-produk palsu LV yang turut diproduksi dan dijual.

Di bulan November 2013, Louis Vuitton merekrut Ghesquière, yang membawa perusahaan ini menuju kejayaannya dengan berfokus pada nilai-nilai yang terkandung di dalam brand.

Di bulan April tahun berikutnya, Los Angeles Times memetik pelajaran yang dipetik dari Louis Vuitton, dimana LV tidak berobsesi untuk menyelimuti separuh orang yang ada di Hollywood seperti apa yang telah dilakukan Dior, tetapi mereka justru mengambil langkah untuk mencari teman yang berpartisipasi di runway show 5 Maret.

Hanya beberapa orang terkenal saja yang berkesempatan untuk mengenakan pakaian ini. Strategi Vuitton menunjukkan citra selektif terhadap siapa yang memakai pakaian mereka.

Pada tahun 2019, Forbes mendaftarkan Louis Vuitton di peringkat 12 dari daftar brand paling bernilai di dunia dengan nilai brand sebesar $39,3 miliar serta penjualan tahunan sebesar $15,5 miliar.

Dalam pendapatan Q3 2019, perusahaan induknya, LVMH, menyebutkan bahwa brand mereka baru saja membuka pabrik di Paris untuk memenuhi permintaan produk kulit yang terus meningkat.

Louis Vuitton di esports

Worlds 2019
League of Legends Worlds 2019. Credit: Flickr (@lolesports)

Keputusan pemasaran dan bisnis Louis Vuitton yang berfokus pada eksklusivitas, serta membuka peluang untuk melakukan penjualan secara daring, telah membawanya kepada pilihan untuk berkolaborasi dengan salah satu judul esports populer League of Legends.

Langkah ini sungguh brilian untuk membawa brand LV ini menuju niche yang lebih jauh dalam dunia fashion. Tidak main-main, LV pun langsung bergabung menjadi sponsor untuk ajang Kejuaraan Dunia League of Legends (Worlds 2019) yang membuatnya langsung terlihat di jutaan audiens esports di seluruh dunia.

Akan tetapi, partisipasi LV sebagai sponsor saja tidaklah cukup untuk benar-benar membawa sbeuah perubahan. Perilisan koleksi LVxLoL itulah yang sesungguhnya benar-benar bernilai.

Berkat label harga dan juga targetnya pada pasar audiens perempuan, LV lagi-lagi secara drastis mempersempit potensial pelanggannya. Ia berhasil mengomunikasikan pesan eksklusivitasnya secara efisien.

Meskipun Louis Vuitton semakin menjauhkan dirinya dari negara asalnya di Paris, koleksi LVxLOL ini juga sudah bisa dipesan layaknya menggunakan ecommerce. Orang-orang sudah tidak perlu lagi datang ke Paris khusus untuk membeli.

Dengan menciptakan brand association yang didasari oleh unsur perasaan yang berkesan, seperti pada acara League of Legends World Championship ini, langkah ini sangat berpotensi untuk menciptakan demand (permintaan) terhadap LV dari para penggemar esports yang ditargetkannya.


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)