Menjadi Solo Game Developer, Why Not?

0
292
Solo game developer

Saat ini banyak orang yang melihat bahwa industri game yang sedang pesat–pesatnya ini hanya didominasi oleh persaingan antar perusahaan besar yang masing-masing mampu meluncurkan game–game bertaraf AAA.

Akan tetapi, ada hal yang jarang dilihat oleh orang awam terutama pada golongan game developer indie yang mencoba peruntungannya dengan usaha “sendiri” untuk mendapatkan sebuah tempat di jagat industri game.

Banyak di antaranya merupakan one man army atau yang bisa kita sebut juga sebagai solo developer. Akan tetapi apakah menjadi seorang solo developer itu adalah langkah yang realistis di tengah banyaknya “ikan besar” di lautan? Mari kita simak lebih lanjut.

Menjadi seorang developer game merupakan sebuah pekerjaan yang menuntut para kreatornya untuk kreatif dan menjadi unik atau memiliki karya yang appealing di mata pasar peminatnya. Pada pasar game indie sendiri, kita dapat melihat banyaknya game yang bertemakan sama akan tetapi tetap berusaha untuk menjadi unik dan dikenal oleh khalayak ramai.

Sebagai contoh, mari kita eksplorasi game yang bergenre clicker. Genre ini adalah salah satu genre dengan rilisan yang sangat banyak variannya pada saat ini dan telah dikembangkan oleh banyak orang dengan banyak versi, latar belakang, fungsi dan lain sebagainya.

Akan tetapi mereka tetap setia pada beberapa pakem yang telah tertanam secara tersirat pada game ini agar para peminatnya tetap dapat mengerti game mereka dengan baik.

Beberapa kreasi game “clicker” di Steam
Beberapa kreasi game “clicker” di Steam

Lalu di samping itu, beberapa developer game juga menjadikan game yang mereka kembangkan sebagai passion project untuk mendapatkan kepuasan batin tersendiri.

Hal ini bisa diibaratkan seperti orangtua yang menginginkan anaknya menjadi apa yang mereka impikan, namun hal ini bisa menjadi baik atau buruk tergantung dari lingkungan dimana anaknya bergaul.

Stardew Valley

Apa maksudnya? Mari kita bahas kisah beberapa solo developer yang mungkin sudah kamu ketahui kisahnya. Kita mulai dari kisah developer game Stardew Valley.

Game ini dikembangkan untuk memiliki tema seperti game pendahulunya yaitu serial Harvest Moon dimana sang developer merasa bahwa iterasi dari serial game ini sudah kehilangan charm-nya dan mencoba untuk membuat sebuah game yang serupa secara iseng.

Eric Barone, sang developer, menceritakan bahwa awalnya ia hanya mencoba untuk membuat sebuah game untuk memberikan kesempatan kepada para fans serial game ini untuk bermain dan bernostalgia dengan apa yang pernah mereka rasakan di tahun 90-an dulu.

Namun ketika ia mengembangkan game ini, ia mulai menemukan banyak kemungkinan yang bisa terjadi dan banyak lagi hal yang belum pernah ada sebelumnya dan bahkan memiliki pemikiran bahwa ia bisa menjadi indie game developer sungguhan dengan merilis game ini.

Setelah perjalanan 4 tahun dalam mengembangkan game ini beserta dengan dukungan dari para beta tester dan yang lainnya, akhirnya game ini dirilis pada 27 Februari 2016 dan mendapat banyak sekali masukan positif dari para pemainnya.

Tidak hanya itu, hingga saat ini game ini masih merupakan salah satu game terlaris pada tahun 2016. Game ini juga mendapat dukungan penuh dari komunitasnya dan secara aktif mengembangkan game ini bersama para fans nya.

Siapa yang sebenarnya spesial? Game-nya atau developer-nya?

Perlu diketahui bahwa Eric Barone bukanlah seorang developer game komersil dan hanya seorang programmer yang lelah bekerja di cubicle dan iseng mencoba untuk mengembangkan game masa kecilnya dalam format yang baru dan ia telah sukses dalam hal itu. Jadi, kesuksesannya merupakan sebuah contoh yang baik bagi para developer yang masih baru merintis.

Bright Memory: Infinite

Selepas dari Stardew Valley, mari kita masuk ke pembahasan selanjutnya. Kali ini kita akan mengupas kisah seorang developer muda yang sudah memulai projek isengnya sejak masih di bangku sekolah.

Akan tetapi kali ini kita akan membahas sebuah game yang mungkin bagi beberapa di antara kita tidak akan percaya kalau ini adalah project dari seorang solo developer. Cek videonya!

Perkenalkan, Bright Memory : Infinite. Sebuah game yang awalnya dikembangkan hanya sebagai demo dari apa yang bisa dikembangkannya dalam sebuah game bergenre First Person Shooter (FPS), kini berkembang menjadi sebuah game utuh yang mampu disandingkan dengan game AAA yang dikembangkan perusahaan besar.

Developer muda ini bernama Zeng Xiancheng dari FYQD Personal Studio.

Zeng pada awalnya hanya memiliki passion pada gim FPS dan berhasil mengembangkan game pertamanya, yaitu WAR STORM yang tersebar di situs–situs Tiongkok dan bersifat free-to-play. Setelah ia tamat sekolah, ia bekerja menjadi game developer dan mencari pengalaman dengan bekerja bersama timnya sambil mengembangkan sebuah game baru yang ia namai Bright Memory.

Dari demo isengnya itu, ia mendapat banyak sekali feedback positif dan semua orang ingin agar game ini memiliki cerita seutuhnya melihat potensi yang dimiliki game. Ia pun mengembangkannya dan hingga sekarang game ini menjadi game yang siap rilis di tahun ini.

Harus diakui bahwa perjalanannya dalam mengembangkan gim ini tidaklah sebentar dan memakan banyak hal dalam perjalanannya. Akan tetapi bila kita melihat dari sudut pandang seorang kreator, kita akan mendapat kebanggaan tersendiri dalam hal ini, layaknya menikmati buah dari apa yang sudah kita tanam selama ini.

Memang kita pantas untuk merasa senang bila kita berhasil mengembangkan kreasi kita sesuai dengan apa yang kita inginkan, akan tetapi perlu kita ingat bahwa ciptaan kita ini adalah konsumsi bagi para penggunanya selain kita, dan kita tidak dapat memaksakan kehendak kita sendiri.

Kisah selanjutnya merupakan sebuah kisah yang sedikit pilu mengenai sepasang suami istri yang mengembangkan sebuah game.

Cube World

Perkenalkan Cube World, sebuah game open world RPG dengan grafik voxel-based yang pernah menjadi bahan pembicaraan pada masa alpha release game ini.

Game ini menjanjikan dunia dimana kita bisa bebas menjelajah seisinya tanpa terikat cerita dan memiliki tujuan simpel seperti berkembang dan mengalahkan monster–monster yang terdapat di beberapa dungeon pada peta.

Game ini memberikan kebebasan kepada pemainnya untuk eksplorasi dunia ini mulai dari melakukan farming item dari monster, mencari bahan crafting di hutan, hingga mendapat mastery dari trainer yang bersangkutan.

Banyak yang mengungkapkan kalau game ini adalah Minecraft versi RPG karena grafiknya dan oleh sebab itu game ini juga memiliki cult-like follower yang setia dengan setiap perkembangannya.

Akan tetapi pada suatu hari, setelah build alpha game ini rilis, game ini kehilangan pembaharuannya dan semua pemainnya hanya mendapat kabar berupa update secara visual dari media sosial developer-nya.

Hingga pada suatu hari di bulan Agustus, 2019…

Sebuah cuitan dari sang developer mengejutkan para pemainnya dan sebuah hype pun tercipta. Semua orang telah sabar menanti rilisnya game ini. Akan tetapi…

Halaman steam game Cube World (per 24 Mei 2019)
Halaman Steam Cube World (per 24 Mei 2019)

Di bulan September 2019, tibalah hari penantian itu. Cube World dirilis di Steam dan para backer yang sebelumnya mendapat hak istimewa telah mendapat key game ini terlebih dahulu dan memainkan game-nya. Akan tetapi cerita ini tidak berakhir dengan cukup baik.

Ternyata game ini mendapat overhaul besar–besaran dalam sistem gameplay-nya yang membuat para pemainnya sangat kecewa. Game ini bukanlah menjadi apa yang mereka harapkan. Game ini bahkan bukanlah apa yang mereka ingat. Mereka menginginkan sesuatu yang bukan ini.

Review dari salah satu pemainnya
Review dari salah satu pemainnya

Maka dari itu, review game ini pun dibanjiri dengan negative review; dan hingga tulisan ini ditulis, game ini tidak mencapai 50% positive review pada halaman Steam-nya. Para pemain yang kecewa kembali membanjiri media sosial sang developer untuk meminta keterangan lebih lanjut.

Akan tetapi, sang developer justru kehilangan kabar dan tidak menunjukkan perkembangan dari game ini sejak game ini dirilis.

Grafik review game Cube World

Grafik review Cube World

Pelajaran yang bisa dipetik

Moral of the story dari semua perjalanan developer game di atas ialah ketika kita mengembangkan game, sebaiknya kita (baca: indie game developer) mengembangkan game yang bertumbuh bersama dengan komunitas.

Kita perlu mendengarkan ide dan masukan dari komunitas karena game tersebut merupakan sebuah buah pikiran yang diharapkan agar bisa diterima oleh semua pihak selain diri kita, terlebih lagi apabila kita telah menunjukkan potensi dari kreasi kita dan orang telah membayar kita untuk menyelesaikan kreasi kita ini.

Jadi, marilah kita menjadi developer yang mengembangkan kreasi kita seperti anak kita sendiri yang bertumbuh bersama lingkungan yang telah kita pilih dan memilih kita supaya “anak” tersebut tumbuh menjadi kesenangan semua orang.

Apabila kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu ciptakan, eksekusilah, dan berikan dia wujud dari kreasi tersebut agar ia menjadi sebuah kreasi utuh.

Thanks for reading, Gxg signing out!

(Disunting oleh Satya Kevino)