Pentingnya Membuka Pintu bagi Perempuan di Esports

0
51
Perempuan di Esports
Photo by Stem List on Unsplash
Menangkan Hadiah Menarik di Event Pre Registration Cloud Song

Perkembangan esports yang terlihat saat ini masih cukup didominasi oleh laki-laki. Ruang perempuan di esports masih sangat terbatas. Industri ini cenderung dilihat lebih ‘ramah’ dan ‘welcome’ untuk laki-laki. Apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini?

Beberapa waktu lalu, CSL Esports Marketing dan Social Media Manager, Haleigh Durkin berbagi cerita kepada Esports Observer tentang tantangan untuk membuat esports menjadi lebih ‘welcome’ kepada atlet esports wanita dalam industri ini.

Sejak kecil, Haleigh tumbuh dalam keluarga dimana video game adalah hal yang sama dengan pakaian yang akan ‘diwariskan’ secara turun temurun. Keluarganya menyukai olahraga tradisional dengan jiwa kompetitif yang kental, sehingga bermain game merupakan hal yang selalu terjadi.

Bertujuan untuk mengalahkan satu sama lain, Haleigh dan kakaknya selalu bermain game sampai di titik dimana mereka akhirnya bisa ‘menguasai’ Nintendo 64 dan PlayStation 2 di masa itu. Haleigh tumbuh untuk terus bermain game, di sela-sela waktu yang dia punya sebagai pelajar.

Untuk waktu yang lama, gagasan untuk bermain game sangatlah sederhana: saya menikmati video game, jadi saya memainkannya. Namun, seiring pertamabahan usia kita selalu dianggap tidak seharusnya menghabiskan waktu untuk bermain video game sebanyak saat kita muda, apalagi jika kamu anak perempuan.

Iklan untuk game terbaru selalu diisi mengaitkan anak laki-laki dengan desain visual kebiruan. Sedangkan untuk anak-anak perempuan, selalu dikaitkan dengan sesuatu yang lebih merah jambu.

stereotip gender dalam esports
Photo by Stem T4l on Unsplash

Tidak hanya sampai di sana, masih ada lagi anggapan yang beredar di kalangan mereka yang dewasa, bahwa bermain video game hanya akan membuat anak menjadi tidak bergaul dengan anak-anak lain dan menjadi rentan kesepian.

Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang ingin anaknya terluka. Namun, kita juga harus memikirkan batasan antara ‘melindungi’ anak-anaknya atau menahan minat mereka.

Semakin independen dan bertambah umur, alasan untuk ‘melindungi’ anak-anak dari video game semakin terasa abu-abu. Jawaban itu akhirnya didapatkan Haleigh saat mulai bermain video game online secara kompetitif.

Stereotip Gender pada Gamer Wanita

Sama seperti kita yang akhirnya memahami cara memainkan game tertentu seiring berjalannya waktu, Haleigh juga memahami satu gagasan bahwa gendernya menjadi masalah saat bermain game.

Saat bergabung dalam suatu ruang obrolan game yang ia mainkan, komentar seksis langsung ia dapatkan ketika rekan bermainnya mengetahui bahwa dia adalah seorang wanita.

Serangan kebencian seperti itu tidaklah unik dan ada banyak. Ini menjadi semacam reminder bahwa penampilan dan gender masih menjadi faktor untuk menilai seseorang. Tidak peduli apapun game yang ia mainkan.

Hal ini secara tidak langsung merupakan konsekuensi dari iklan-iklan yang sering mengaitkan suatu gender dengan suatu aktivitas tertentu hingga akhirnya turut mempengaruhi perilaku gamer laki-laki saat ini

Fakta di atas saja sudah menjelaskan setengah tantangan dari apa yang kita hadapi ke depan sebagai atlet esports perempuan.

Pro Player Wanita

Bias Gender terhadap Perempuan di Esports

Saat membicarakan wanita dalam esports, yang kita maksud bukan hanya ‘atlet’ atau pemainnya tapi hampir semua perempuan yang terlibat dalam industri ini.

Dalam satu dekade terakhir, perkembangan esports telah melonjak ke depan dalam ketenaran publik baik di tingkat profesional maupun sekolah. Kita tidak akan bisa bergerak maju jika permasalahan inklusivitas ini tidak segera dihadapi.

Berapa banyak atlet esports wanita berbakat yang akan menyerah ketika dihadapkan dengan permasalahan seksisme tadi? Saat berada di Rutgers Esports, Haleigh adalah satu dari 4 wanita dari total 33 dewan eksekutif.

Perbedaan persentase yang besar bukan? Bahkan dengan upaya yang sudah dilakukan selama ini, masih terjadi perbedaan yang cukup signifikan. Setiap hari ada saja keluhan tentang bagaimana menderitanya wanita dalam industri esports. Mulai dari mendapatkan komentar ‘mengganggu’ dari penampilan, suara, dan juga identitas mereka sebagai perempuan. Bukan hanya tidak adil, tetapi lama kelamaan hal tersebut tentu memuakkan dan tidak bisa dibiarkan terus menerus.

Upaya Mencapai Kesetaraan Gender

Upaya mengubah ketidaksetaraan gender dalam esports bukanlah hal baru bagi Haleigh. Haleigh pada tahun seniornya di Rutgers diberi kesempatan untuk menyelesaikan program doktoral (Ph.D) di bidang media untuk meneliti pengaruh budaya terhadap bias gender dalam esports.

Dorongan tersebut berasal dari apa yang dirasakannya semasa kecil, serta untuk memperjuangkan aspirasi para perempuan yang ingin bermain video game baik itu di masa anak-anak dan masa muda mereka.

Siapa nantinya yang akan tumbuh dan ingin menekuni esports sebagai karir dan profesi harus merasa aman dan optimis. Komunitas esports tidak bisa berdiam diri dan membiarkan para wanita muda memasuki industri ini dan pasrah terhadap komentar seksis yang dilontarkan gamer pria. Apa yang terjadi ini tidak akan hilang dengan sendirinya, dan harus kita tolak, sebagai minoritas, sebagai wanita, dan juga sebagai manusia.

upaya gender equality pada esports

Change will never come from nothing. We have to make the space better with our own actions every day.

Mungkin kita bosan mendengarnya, tapi ini adalah hal nyata yang harus dilakukan. Jika kita mendengar komentar tidak mengenakkan dari teman kita secara tidak sengaja, kita memiliki kewajiban moril untuk mengingatkan dia agar tidak terpikir untuk mengulanginya lagi. Jika ada yang berjuang dan ingin bersuara, kita harus membantu mengeraskan suaranya.

Esports telah berkembang sejauh ini, kita harus berupaya memberikan yang terbaik dalam keberlanjutan industri ini. Masa depan esports tidak bisa menjadi cerah secara diskriminatif. Tidak ada, dan juga tidak boleh!

Media Partnership