Tim Esports Kamu Masih Kecil? Jangan Khawatir, Banyak yang Peduli Kok!

0
589
James
James "Clayster" Eubanks (Credit: Adam Antor Photography)

Esports semakin hari semakin mengalami pertumbuhan yang dahsyat. Sorotannya tidak melulu hanya berfokus pada tim-tim legendaris seperti Na’Vi, Alliance, ataupun Team Liquid.

Berbagai liga yang berfokus pada perkembangan tim baru pun mulai bermunculan untuk mendukung ekosistem esports agar dapat memelihara dirinya sendiri. Tren ini tentunya juga eksis di Indonesia.

Preview INET HighGrounds Indonesia Qualifier

View this post on Instagram

ICAFE NATIONAL ESPORT TOURNAMENT INET HighGrounds Indonesia Qualifier Present By ICafe Nvidia Certified QUALIFIER PRIZEPOOL Rp.1.800.000,- NATIONAL PRIZEPOOL senilai 35jt Close Register : 5 Juli, 23.59WIB OffLine Qualifier : 7 Juli 2018 Play Start At : 14.00 WIB s/d Selesai Venue At : HighGrounds Indonesia, Pantai indah Kapuk, Jakarta Utara Fee Register : Free Deposit : IDR.50.000 ( Sistem Deposit, Dihari H Event akan dikembalikan) Multi Slot & Multi Winner Disabled Link Register : https://yamisok.com/tournaments/inet-highgrounds-indonesia-qualifier *Noted : – Juara 1 akan mewakili HighGrounds di INET National – Akomodasi datang ke venue tidak di tanggung Panitia maupun penyelengara (khusus Qualifier) List Team Banned : BOOM.ID, RRQ, EVOS, PG BARRACKX, XCN, The Prime, Juggernaut Gaming, Barol gaming, Alter Ego, Rubix, Pandora, Ambassador, Immortal, Sentinel, Cyberzon Esport, SBC Play, Star Eight, Big Dog, Team Aichi, Missing Bottom, AnggiNet, Chronix Cyber Cafe List Schedule INET : iCafe Battle : 14-15 Juli 2018 Coaching Clinic By Boom.ID : 21-22 Juli 2018 Final @Highgrounds.id Jakarta : 27 Juli 2018 CP Panitia : Wandi – 0813-6115-3316 Organizer By Mooba TV Indonesia Support By Yamisok 🌏Please kindly follow other Highgrounds' social media accounts🌏 Yamisok : https://yamisok.com/communities/highrounds Fanspage : fb.com/High-Grounds-Indonesia-2024572444490674/ Instagram : https://www.instagram.com/highgrounds.id/ Don't forget to support us on : fb.com/groups/highgroundsindonesiacommunity/ . . #cafe #restaurant #icafe #coffeeshop #gamers #game #dota2 #dota2indonesia #mobilelegends #mlbb #mobilelegendsindonesia #overwatch #pubg #highgroundscafe #premium #lounge #jakarta #indonesia #pik #pantaiindahkapuk #recommended #pcgaming #highendpcgaming

A post shared by High Grounds Indonesia (@highgrounds.id) on

Sebagai contoh, INET HighGrounds Indonesia Qualifier yang diadakan di bulan Juli 2018 lalu memiliki daftar banlist agar para tim yang baru mendalami esports memiliki kesempatan untuk bersaing “lebih adil” dengan sesama tim yang masih hijau. Tidak lupa, turnamen tersebut pun memiliki sesi coaching clinic yang difasilitasi oleh tim profesional.

Baca juga:  Melirik Account Boosting dalam Profesi Esports di Tiongkok

Lantas, apakah turnamen khusus tim amatir saja cukup untuk mengembangkan ekosistem esports yang lebih inklusif dan ramah kepada pemula?

Tentu saja tidak. Diperlukan dorongan dan dukungan dari tiap-tiap elemen yang ada dalam ekosistem ini. Salah satunya adalah pemberitaan media yang kerap menghubungkan perkembangan tim tersebut dengan masyarakat luas.

Tapi, jangan khawatir juga. Meskipun di Indonesia masih sedikit pemberitaan tentang tim-tim yang masih hijau, beberapa media esports Indonesia juga sudah mulai memberikan atensinya sambil belajar dari dunia esports internasional.

Nah, sudah tahu kan betapa pentingnya peranan media untuk perkembangan esports?

Call of Duty World League Championship 2018 Audiens
Credit: Adam Antor Photography

Yuk, kita kenalan dulu dengan para panutan yang memperhatikan elemen kecil dari ekosistem kita.

Media yang memperhatikan

Half-Life TV atau yang lebih dikenal dengan singkatan HLTV adalah sebuah website terlengkap untuk semua liputan berita mengenai pertandingan Counter-Strike yang ada di seluruh dunia.

Informasi yang disediakan HLTV cukup beragam, dimulai dari turnamen yang diadakan hingga para pemain yang mengikuti pertandingan. Salah satu hal yang menarik dari situs ini adalah liputan tentang tim-tim yang jarang sekali namanya didengar.

Call of Duty World League Championship 2018 backstage
Credit: Adam Antor Photography

Tidak hanya HLTV saja yang sering meliput tim-tim kecil. Ada juga situs berita seperti Dust2.us yang sering meliput tim-tim kecil yang kurang terkenal; meskipun mereka sebenarnya lebih fokus meliput ke pertandingan yang berhubungan dengan komunitas ESEA (E-Sports Entertainment Association).

Sementara itu di Inggris, ada juga komunitas CS:GO yang eksis di situs UKCSGO. Situs ini lebih sering menulis tentang pertandingan dari negara Inggris dan juga memuat informasi seputar tim-tim kecil asal sana yang belum pernah sama sekali didengar namanya.

Turnamen yang ramah untuk pemula

Dari Amerika, ada turnamen SKYLLA yang mengumpulkan tim-tim yang kurang terkenal. Di turnamen ini jugalah tim laki-laki dan tim perempuan akan diadu satu sama lain. Berbeda dengan turnamen-turnamen yang pada umumnya membedakan kategori tersebut.

UGC Fortnite Derby 2
Credit: Adam Antor Photography

Melalui SKYLLA juga, isu kesetaraan gender di esports berusaha untuk dikikis. Dengan adanya babak internasional female-only open qualifiers, hal ini akan memberi kesempatan kepada tim perempuan untuk muncul ke permukaan dan bertanding melawan pemenang dari bracket laki laki.

Baca juga:  Strategi Monetisasi Esports untuk Bisnis (Bagian 2)

Dari dulu perkembangan turnamen esports di Eropa itu sudah sangat jauh di depan jika dibandingkan dengan daerah lain.

Dengan adanya elemen dalam ekosistem yang menunjung keberadaan para tim yang masih ‘hijau’, seperti UK Masters, ESL Premiership, Gfinity, epic.LAN, Arena Clash dan EGX; hal ini menjadi sebuah kesempatan bagi tim-tim kecil yang sedang berkembang untuk mengukir langkah pertama mereka.

Halangan untuk tim yang masih hijau

Kendati demikian, masih ada saja yang menganggap kurang penting untuk meliput berita tentang tim kecil yang belum terkenal. Salah satu mantan penulis dan editor Dot Esports, Connor Bradley, mengungkapkan kalau kebanyakan tim kecil itu tidak berkomitmen lama di sirkuit kompetitif esports.

Call of Duty World League Championship 2018 James Clayster Eubanks
Credit: Adam Antor Photography

Hal ini yang dianggap membuang waktu untuk menulis mengenai tim kecil yang belum ada reputasinya sama sekali, terlebih jika beberapa tahun kemudian mereka kemungkinan tidak bermain lagi.

Oleh sebab itu, lebih aman untuk memilih meliput berita tentang tim besar yang sudah banyak penggemarnya.

Padahal, sebenarnya pemberitaan tentang tim kecil yang masih baru itu sama pentingnya dengan tim terkenal seperti Fnatic atau Liquid.

Jurnalis memiliki peranan penting untuk membantu tim kecil ini di awal perjalanannya untuk naik ke panggung bersama tim terkenal lainnya.

Peranan jurnalis di ekosistem esports

Jika tidak ada jurnalis yang mau membantu untuk menulis tentang tim mereka, maka siapa lagi? Jika tidak ada yang membantu mengangkat nama mereka, maka tidak akan ada sponsor yang datang.

Call of Duty World League Championship 2018 Audiens
Credit: Adam Antor Photography

Sungguh amat kasihan jika kita melihat ada tim pemenang kejuaraan yang tidak memiliki sponsor. Kita pun mulai akan bertanya-tanya kemana saja bantuan sponsor untuk mereka sebelum terkenal?

Di saat mereka mengikuti dan memenangkan pertandingan tanpa sponsor, seharusnya menjadi momentum yang paling tepat bagi perusahaan yang mau memberikan dukungan sebagai sponsor.

Salah satu jurnalis esports bernama Michael “Duck” Moriarty berpendapat bahwa pemberitaan tentang tim kecil itu sama pentingnya dengan tim yang sudah besar.

Filosofinya sungguh sederhana. Karena semua tim yang besar itu harus berawal dari bawah, maka masa-masa awal itu menjadi penting untuk terus mengikuti perjuangan mereka, hingga akhirnya suatu hari mereka menjadi besar dan populer.

Baca juga:  Sepintas Tentang Esports

Kisah perjuangan mereka tentunya akan sangat menginspirasi banyak orang kelak.

Esports pada dasarnya dibangun dengan landasan inklusivitas, dimana semua orang bisa masuk ke dalamnya dan bisa naik ke papan atas menjadi juara, tidak peduli siapa mereka dan darimana mereka berasal.

Hal yang penting adalah mereka mempunyai skill untuk dilagakan di turnamen. Sebagai jurnalis kita harus menyadari bahwa semua tim kecil ini juga memiliki kesempatan untuk memenangkan kejuaraan di babak internasional.

Sehingga liputan tentang tim ini sama pentingnya dengan liputan tim terkenal lainnya.

(Dilansir dari Hotspawn; Disunting oleh Satya Kevino)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here