[Film Esports] Review Beyond the Game: Perjuangan Melampaui Permainan

0
19
beyond the game
Film dokumenter Beyond the Game.

Beyond the Game merupakan film dokumenter yang rilis pada 2008. Pada tahun itu, profesi sebagai gamer profesional jarang didengar. Film ini mengisahkan tiga pro player Warcraft III: The Frozen Throne, yakni Xiaofeng “Sky” Li dari Tiongkok, Manuel “Grubby” Schenkhuizen dari Belanda, dan Fredrik “MaDFroG” Johansson dari Swedia yang menjadi pro player di usia yang sangat muda.

Latar belakang dari film ini diambil dari sebuah motto World Cyber Games, Beyond the Game, melampaui permainan. Beyond the Game disutradarai oleh Jos de Putter, sutradara film dokumenter dari Belanda.

Pengambilan film berlangsung di Prancis, Amerika Serikat, Swedia, Belanda, dan Tiongkok. Beyond the Game berhasil ditayangkan di berbagai festival film seperti Festival Film Dokumenter Internasional Amsterdam di Pathé de Munt dan telah dirilis di bioskop seluruh Belanda.

Review Beyond the Game #1: Para Pemain yang Memperebutkan Juara

beyond the game
Beyond the Game merupakan film dokumenter tentang para pemain Warcraft III yang memperebutkan gelar juara dalam turnamen World Cyber Games.

Beyond the Game mengisahkan para pemain yang bersaing dalam final World Cyber Games 2007 di Seattle, Washington, untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali gelar juara. Para pemain merupakan pro player Warcraft III: Reign of Chaos.

Gim tersebut sudah sangat terkenal dan terjual jutaan kopi, dan diekspansi menjadi Warcraft III: The Frozen Throne. Hingga saat ini Warcraft III sangat terkenal dan mod gim tersebut juga digubah menjadi Dota yang sekarang kita kenal sebagai Dota 2.

Ada Fredrik “MaDFroG” Johansson, seorang berkewarganegaraan Swedia yang masih berusia 17 tahun. Di usianya yang muda, ia mengabdikan diri pada esports baru ini. Ia berhasil menjadi runner-up Electronic Sports World Cup pada 2003 dan disebut sebagai pro player non-Asia terkuat.

Kemudian ia menjadi roster di salah satu tim esports di Seoul, Korea Selatan, yang menjadi surganya para pro player dengan budaya game profesional terkuat dan terbaik. Selama 11 bulan bersama tim, ia berhasil memenangkan Blizzard Worldwide Invitational dan dinobatkan sebagai pemain tersukses di dunia.

Setelah kembali ke Swedia dan menjadi runner-up Electronic Sports World Cup 2004. Sayangnya ia kehilangan motivasi dalam game tersebut dan mengikuti World Cyber ​​Games 2004 sebelum akhirnya ia pensiun dari pro player. Namun dalam kompetisi itu ia dikalahkan oleh Manuel Schenkhuizen, seorang pro player debutan yang menjadi bintang Eropa.

Manuel “Grubby” Schenkhuizen kala itu masih berusia 16 tahun, lahir di Belanda. Kemudian ia pindah ke Seoul dan beberapa bulan setelah pertandingan tersebut ia kembali ke negara dan tetap menjadi pemain yang mendominasi.

Ia menjadi pemain Orc, meski dianggap kurang beruntung dalam turnamen, ia tetap sukses dan memenangkan Electronic Sports World Cup 2005. Dari situ ia mendapatkan julukan “King of Orcs” dalam acara kompetisi TV, mirip dengan julukan “Terran Emperor” Lim Yo-Hwan yang merupakan juara dunia dua kali dari gim StarCraft.

Manuel berusaha mempertahankan gelar World Cyber Games pada final tahun 2005 di Suntec City, Singapura dan mempertahankan namanya menjadi pemain terbaik. Namun sayangnya, ia dikalahkan oleh Dennis “Shortround” Chan, seorang pro player berusia 22 tahun.

Schenkhuizen cukup sukses untuk dihormati sebagai Player of the Year di semua game kompetitif seperti Johansson dua tahun sebelumnya. Penghargaan terpenting adalah juara World Cyber Games yang diadakan di Monza, Italia, pada 2006. Perjuangan dari pro player betul-betul terlihat di film tersebut.

Sorotan lain yang dibahas di film ini adalah kehidupan Xiaofeng “Sky” Li. Ia adalah seorang anak desa yang kedua orang tuanya bekerja sebagai petani. Ia dididik cukup keras, orang tuanya sering “menghajar” Sky karena ia hanya bermain game, alih-alih belajar untuk menjadi dokter.

Ia berlatih selama 12 jam sehari. Itulah yang membuatnya menjadi seorang pro player dan siap mengikuti kejuaraan World Cyber Games pada 2007. 

Beyond the Game banyak menampilkan wawancara-wawancara dari orang-orang terdekat pemain. Film ini menampilkan pandangan orang lain tentang para pemain, seperti Sky yang memiliki orang tua yang cukup keras dan teman-teman di kota yang mendukungnya.

Film esports satu ini membahas banyak sisi yang tampak manusiawi. Perjalanan hidup mereka yang tidak terlalu membahas kehidupan pribadi maupun tentang game Warcraft III. Cukup fair untuk sebuah film dokumenter yang membahas esports dan persiapan para pemain untuk menghadapi kompetisi World Cyber Games.

Review Beyond the Game #2: Tidak Penuh dengan Drama

beyond the game movie
Mengisahkan realitas para pemain tanpa dramatisasi berlebihan.

Beyond the Game merupakan film dokumenter yang cukup realistis. Tidak perlu banyak dramatisasi dari tiap pemain. Orang-orang di dalamnya cukup sangat jelas menggambarkan kisah hidup mereka, meski film ini terlihat sangat biasa.

Menjadi pemenang adalah tujuan dari dua orang muda, yakni Sky dan Grubby yang hidup untuk game yang mereka mainkan. Mereka mempertaruhkan masa muda untuk menjadi pemain Warcraft terbaik dan terhebat.

MadFrog sebelumnya sangat berjaya pada tahun 2003 hingga 2005, tetapi saat ini kabarnya hilang ditelan oleh superstar baru di dunia gim. Di bagian akhir, kita akan melihat kenyataan MadFrog bekerja sebagai penjaga penjara setelah ia pensiun menjadi pro player dengan kemenangannya dalam European Nations Championship pada 2005.

Film dokumenter ini tidak memihak manapun dan jelas-jelas menjadi sebuah dokumenter yang netral. Banyak adegan yang diambil terlihat seperti realitas biasa. Hanya saja ada beberapa bagian acak yang terlihat dan terdengar mengganggu karena penonton tidak memahami inti dari bagian film tersebut.

Kelemahan dari Beyond the Game adalah judul yang tidak meyakinkan. Porsi dari film ini malah lebih banyak menceritakan Sky dan Grubby. Kehidupan Sky yang jauh dari hiruk pikuk kota dan terlihat sangat tradisional. Kehidupannya diungkap melalui wawancara dengan orang tau dan kampung halamannya.

Sedangkan, kehidupan Grubby sendiri hanya dibahas melalui aktivitas gerak-geriknya. Seperti ibunya yang membuatkannya sandwich dan kekasihnya yang seorang gamer dan sering membahas taktik Warcraft bersama Grubby. jelas sekali ada ketimpangan intimasi karakter dari kedua subjek film.

Film ini menampilkan banyak inti dari pesan. Seperti yang dialami Madfrog, bagaimana nantinya para pro player yang sudah tidak hidup dengan gim? Seakan-akan dihisap oleh industri game, saat mereka sudah tidak cocok untuk bermain, mereka akan “dibuang”.

Kenyataan inilah yang kemudian membuat kita memikirkan ulang seberapa “sehat” industri esports bagi para pemain. Meski merupakan film dokumenter esports, Beyond the Game sangat recommended.

Sederhana dan ringkas, film ini memberikan wawasan yang cukup langka tentang industri esports yang ada dalam lebih dari satu dekade ke belakang. Profesi menjadi pro player memang terlihat sangat berharga dan menantang, tapi bagaimana selanjutnya?

Meski ada banyak kelemahan di beberapa titik penceritaan, dokumenter ini bagus untuk menambah wawasan kita tentang industri esports yang semakin berkembang. Apakah industri esports masih tidak sehat? Atau apakah sudah menjadi lebih baik?

Beyond the Game tidak tersedia secara gratis di platform streaming. Terdapat beberapa trailer film yang diunggah di YouTube. Untuk melihat informasi film tersebut, kita bisa mengunjungi website berikut ini.