
Studio game indie dari Indonesia seolah tidak pernah kehabisan ide-ide yang menarik. Setelah beberapa game indie sukses sebelumnya, kembali hadir sebuah karya yang menarik. Datang dari Thizen Studio, inilah dia Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End.
Benar bahwa selama beberapa tahun terakhir, studio game indie dari Indonesia sedang bagus-bagusnya. Game-game yang berkualitas sampai diakui komunitas gamer global mulai bermunculan.
Ada DreadOut yang membawa hantu-hantu lokal ke internasional, ada A Space for the Unbound yang memperlihatkan kualitas penceritaan dari Indonesia, ada Coral Island yang menunjukkan kemampuan studio lokal dalam memproduksi game sebagus itu, dan masih ada banyak game-game lainnya.
Setelah itu semua, ada lagi satu studio game indie lokal bernama Thizen Studio yang sedang mempersiapkan game mereka yang sah untuk dibilang punya banyak potensi baik, Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End. Saat ini, game ini sudah bisa ditambahkan ke wishlish di Steam dan rencananya akan rilis di akhir tahun 2026 ini.
Melalui wawancara eksklusif Esportsnesia bersama pihak Thizen Studio pada konten berjudul “Wawancara Ekslusif Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End Bersama Thizen Studio | GAMEKARTA INSIDERS“, kita bisa mengenal siapa dan ada cerita apa di balik karya yang sangat indah itu.
Baca Juga: Item Premium di Game Online: Perspektif Gamer dan Dampaknya pada Gaya Bermain
Mengenal Thizen Studio

David Drago, seorang game artist untuk Thizen Studio memperkenalkan studio tempatnya berkarya lewat konten wawancara eksklusif pihak Esportsnesia. Ia menceritakan bahwa semua rekan-rekannya di sana adalah seorang mahasiswa Universitas BINUS Kemanggisan yang awalnya membentuk kelompok untuk mengikuti kompetisi membuat game.
Kelompok yang awalnya hanya diisi oleh David dan 2 orang rekannya itu tidak langsung berprestasi, mereka tidak berhasil memenangkan kompetisi pertamanya. Namun, mereka terus melanjutkan perjuangannya ke beberapa kompetisi lainnya. Setelah beberapa lomba dan menamai kelompoknya sebagai Thizen atau Thizen Studio. Selain itu, kini mereka menambah 1 anggota lagi.
Pemilihan nama tersebut sebenarnya tidak didasarkan pada sesuatu. Arti dari nama tersebut secara bahasa juga sebenarnya tidak ada. Namun, para pendirinya menganggap bahwa Thizen bermakna sebagai orang atau kumpulan orang yang berpikir.
Mengenal Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End

Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End digambarkan David dan pihak Thizen Studio sebagai game comfy atau santai yang menceritakan kisah tokoh utama yaitu Mio sang penjaga toko yang berfokus pada pembuatan sebuah aquariumnya.
Mio hidup di dunia yang sebenarnya sudah diambang kehancuran atau kiamat. Namun, ia diceritakan memilih untuk tetap menjalani dan menikmatinya dengan menjaga sebuah toko sembari menghias aquariumnya sendiri.
Nantinya, Mio akan bertemu dengan pelanggan-pelanggannya dan saling bertukar cerita. Setiap pelanggannya akan memiliki ceritanya sendiri-sendiri yang sangat menarik untuk ditelusuri. Kita perlu memperhatikan setiap pelanggan yang datang ini.
Utamanya, fokus game ini adalah mekanik dekorasi aquarium yang dimilikinya. Hampir segala proses game, termasuk ending-nya akan bergantung dari ketelatenan pemain dalam menggunakan fitur dekorasinya itu.
David menyatakan bahwa kemungkinan untuk permainan yang benar-benar mendalami game-nya akan membutuhkan waktu sampai 15 jam untuk menyelesaikannya. Sementara itu, apabila dimainkan dengan lebih tergesa-gesa, mungkin hanya akan memakan hanya 8 jam kurang.
Tantangan Luminote Mio di Pasar Indonesia

Melalui wawancara eksklusif Esportsnesia, sebenarnya tantangan pihak Thizen Studio adalah soal investor untuk Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End. Kurangnya pengalaman mereka jelas membuat hal tersebut sulit untuk dilakukan.
Walaupun, sebenarnya hampir semua hal terkait produksi game yang menceritakan Mio ini tidak memakan biaya. Hampir semua hal yang digunakan, seperti engine, tools, dan asetnya didapatkan secara gratis.
Selain itu, David merasa akan ada sedikit kesulitan untuk menemukan media promosi yang tepat untuk Luminote Mio. Namun, ia dan tim sebenarnya sudah menemukan beberapa rancangan promosi untuk game-nya.
Tantangan Para Studio Game di Indonesia

Menurut David, sebenarnya pasar Indonesia itu sangat menyukai game-game kompetitif. Namun, alasan yang membuat studio game di negara ini seperti Thizen Studio tidak berfokus ke sana adalah karena sulitnya untuk membuat game seperti itu.
Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat game kompetitif. Salah satunya adalah soal gameplay-nya yang harus sangat menyenangkan atau memuaskan pengguna. Hal inilah yang membuatnya jadi sangat sulit.
Masuk ke industri game itu sendiri sudah sangat sulit. Tentu sebagai pelanggan, orang-orang menginginkan game dengan kualitas yang sangat tinggi. Sementara itu, jangankan masuk ke industrinya, membentuk tim untuk bisa membuat game seperti itu saja sudah sulit.
Kehadiran Kemenparekraf (Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) diharapkan mampu membantu menyelesaikan tantangan-tantangan di industri game. Ada 2 hal yang menurut David paling penting untuk dilakukan yaitu edukasi dan marketing.
Edukasi di sini berarti bagaimana masyarakat bisa mengerti bahwa menjadi orang-orang di industri game bukanlah sebuah kelompok yang melakukan hal yang kurang berguna.
Untuk marketing sendiri, ia merasa akan sangat terbantu bila pihak kementrian bisa membantu untuk memasarkan game-nya setidaknya ke pasar lokal yang luas.
Baca Juga: Eternal Clover Studio: Meracik Kehangatan dan Keberuntungan dalam Dunia Game ‘Cozy’ Indonesia
Harapan Thizen Studio ke Depannya

Untuk saat ini, teman-teman dari Thizen Studio ingin fokus menggarap Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End terlebih dahulu. Setelah itu, mereka ingin mencari cara agar bisa masuk dan nyaman di industrinya. Mereka berharap game yang rencananya dirilis akhir tahun 2026 ini bisa dirilis dengan baik dan mendapatkan respon yang baik juga.
Setelah Luminote Mio, David dan rekan-rekannya ingin segera mempersiapkan untuk game selanjutnya yang ingin mereka rilis. Namun, tetap untuk sekarang fokusnya adalah pada game pertama yang ingin mereka rilis terlebih dahulu.
Kurang lebih itulah poin-poin penting yang bisa kami bagikan dari wawancara eksklusif Esportsnesia dengan pihak Thizen Studio mengenai Luminote Mio: Aqualoom at Ocean’s End. Jangan lupa untuk























