
Dalam hiruk-pikuk industri game global, studio-studio indie Indonesia terus berupaya mencetak identitasnya. Salah satunya adalah Sankalpa Games, kolektif kreatif yang lahir dari sebuah “tongkrongan kampus”.
Dalam wawancara eksklusif dengan Esportsnesia, Ferdinand, sang Game Producer Sankalpa Games, membongkar perjalanan, filosofi, dan tantangan di balik layar.
Dari Tongkrongan Kampus ke Tekad ‘Sankalpa’
Awal mula Sankalpa Games ternyata sesederhana obrolan antar mahasiswa. “Sankalpa Games awalnya lahir dari tongkrongan kampus, kita semua kuliah di jurusan game di BINUS. Dari situ kita punya mimpi bareng, bukan cuma pengen kerja di industri game, tapi punya studio sendiri yang bisa bikin karya dengan ciri khas kita,” ujar Ferdinand.
Nama “Sankalpa” sendiri dipilih dengan kesadaran penuh, diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti tekad tulus dari hati.
Filosofi inilah yang menjadi fondasi setiap proyek mereka. Setiap game yang dibuat berangkat dari keresahan sosial atau pengalaman pribadi, seperti yang terlihat dalam game terbaru mereka, Bag of Seed, yang terinspirasi langsung oleh masalah polusi di Jakarta.

Kimiawi Kreatif: Santai tapi Serius
Sebagai tim kecil, dinamika internal menjadi kunci. Ferdinand mengungkapkan bahwa chemistry tim sudah terbentuk alami sejak masa-masa nongkrong.
Suasana kerja pun mengalir layaknya teman yang berkumpul, namun dengan komitmen yang tidak main-main.
“Biasanya pas mau mulai project baru, kita bikin sesi sharing ide. Semua orang bebas ngeluarin konsepnya masing-masing, terus kita vote bareng buat milih mana yang paling cocok dan bisa dieksekusi,” jelasnya.
Meski vibe-nya santai, struktur tetap dijaga. “Walaupun vibenya santai, kita tetap punya struktur biar gak berantakan. Setiap orang punya peran dan tanggung jawabnya sendiri, jadi semua ide bisa nyatu dan hasilnya tetep kohesif pas jadi game.”
Menghadapi Ketidakpastian dengan Tekad Kolektif
Dunia game indie tidak pernah lepas dari tantangan, dan bagi Sankalpa, tantangan terberat ada di bidang keuangan. “Soalnya bikin game itu kan butuh waktu dan modal ya,” akui Ferdinand.
Namun, yang membuat mereka bertahan adalah tujuan bersama yang kuat. “Yang bikin kita tetap jalan sih, karena kita punya tujuan yang sama pengen ngebuktiin kalau kita bisa buat mimpi ini jadi nyata dan bisa buka lapangan kerja buat industri game Indonesia.”
‘Bag of Seed’: Eksplorasi Visual dan Pesan yang Organik
Bag of Seed bukan sekadar game puzzle platformer biasa. Konsepnya yang unik, yakni menggunakan kekuatan benih untuk memecahkan teka-teki dan menjelajahi dunia, lahir dari keresahan yang mendalam.
Ferdinand menegaskan bahwa pesan tentang lingkungan tidak ingin disampaikan dengan cara menggurui.
“Karena Bag of Seed terinspirasi dari polusi Jakarta, ide besarnya adalah ngajak pemain buat lebih sadar sama isu lingkungan. Tapi kita gak mau nyampaikannya lewat ceramah atau teks panjang. Kita pengen pemain merasakan ceritanya secara alami lewat dunia, animasi, dan cutscene. Jadi mereka bisa nangkep maknanya sendiri tanpa harus digurui,” paparnya.
Tantangan teknis terbesar justru terletak pada perpaduan visual. Game ini menggabungkan dunia 3D dengan elemen pixel 2D, sebuah eksperimen yang tidak mudah.
“Secara teknis juga lumayan ribet, karena kita nggabungin dunia 3D dengan elemen pixel 2D, dan nyari cara biar dua gaya visual itu bisa nyatu dan tetap enak dilihat.”
Di balik semua tantangan itu, ada kebanggaan yang berhasil mereka raih. “Hal yang paling kita banggakan ada di aspek keunikan kita yaitu mekanik benih yang menjadi identitas game kami. Tiap benih punya fungsi masing-masing buat eksplorasi dan puzzle, dan itu jadi ciri khas yang bikin Bag of Seed beda dari game platformer lain.”
Proses kreatif yang kolaboratif menjadi kunci dalam menciptakan mekanik yang kohesif. Dinamika tim yang sudah terbentuk sejak lama memungkinkan setiap ide individu disaring menjadi sebuah visi yang utuh, dimana mekanik benih tersebut tidak hanya berfungsi sebagai gameplay, tetapi juga menjadi medium penyampai pesan.
Prestasi dan Validasi di Kancah Global
Meski masih dalam pengembangan, Bag of Seed telah menuai prestasi yang membanggakan. Menjadi Finalis Taipei Game Show 2025 (Student Category) dan Best Hobby Game Finalist di GDWC Winter 2024 adalah validasi nyata bagi tim.
“Walau Bag of Seed masih di tahap awal pengembangan, buat kita kemenangan terbesar bukan di angka atau peringkat, tapi di momen ketika saat kita mendapatkan feedback positif dari pemain,” tutur Ferdinand. Prestasi internasional itu diakuinya sebagai penegas bahwa mereka berada di jalur yang benar.
Masa Depan: Tidak Terkekang Genre, Fokus pada Keberlanjutan
Ke depan, Sankalpa Games tidak ingin terkotak-kotak pada satu genre tertentu. Visi mereka lebih besar dari itu.
“Ke depannya, kita tetap ingin mengembangkan game berdasarkan keresahan dan personal kami. Kita tidak ingin mem-branding studio kita sebagai studio yang berfokus dengan 1 genre saja. Kalau ide bagus muncul dari genre baru, kita bakal eksplor ke sana,” tegas Ferdinand.
Impian terbesar mereka pun mencerminkan tekad yang lebih luas. “Impian terbesar kita pasti menjadi studio game yang sustain, menghasilkan game yang sukses di pasar, juga impian terbesar kami adalah membuka lapangan kerja dan menjadi bagian dalam mengembangkan bakat developer lokal, juga memajukan industri game di Indonesia.”
Dengan filosofi “tekad tulus” yang menjadi panduannya, Sankalpa Games bukan hanya sekadar membuat game, tetapi merajut cerita yang lahir dari hati, untuk kemudian dihadirkan ke dalam dunia interaktif yang berbicara kepada banyak orang.
Perjalanan mereka adalah bukti bahwa dengan chemistry, komitmen, dan ketulusan, mimpi dari tongkrongan kampus bisa melangkah ke panggung global.



















