Max Wilander: Sosok Pemimpin di Balik Pertumbuhan Esports di Provinsi Sumut

1145
Max Wilander: Sosok Pemimpin di Balik Pertumbuhan Esports di Provinsi Sumut

Sebagai pegiat esports, tentu kita sudah tidak lagi asing dengan kehadiran organisasi PB ESI (Pengurus Besar Esports Indonesia). Sebagai organisasi induk cabang olahraga esports di tanah air, ESI memiliki banyak sosok pemimpin daerah yang kerap mengembangkan esports di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.

Pada episode spesial ke-9 KAGET (KODA Gamers Talk) kali ini, Yoga “Yokasa” Angkasa kedatangan seorang narasumber keren yang tidak lain adalah Ketua Harian ESI Provinsi Sumut, yaitu Max Wilander.

Penasaran dengan apa saja yang mereka perbincangkan? Atau, kamu justru lebih penasaran dengan profil keren dari Max Wilander? Apapun keingintahuannya, mari kita geledah isi perbincangan mereka di bawah ini.

Sekilas tentang ESI (Esports Indonesia)

Saat ini setiap daerah telah dijangkau ESI. Organisasi yang dibentuk untuk memajukan ekosistem esports Indonesia termasuk tim beserta para pemainnya. ESI sendiri telah berada di bawah payung kepengurusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Atas dasar ini, maka ESI adalah organisasi yang membina atlet dan menjadi payung hukum untuk membantu si pemain/atlet dalam segi apapun termasuk dalam segi regulasi dari esports.

Menurut Max Wilander, saat ini jenis kompetisi esports terklasifikasi menjadi 3 tingkatan berdasarkan nilai hadiahnya, yaitu:

  • Mikro, untuk kompetisi dengan hadiah di bawah 15 juta rupiah,
  • Minor, untuk kompetisi dengan hadiah 15 sampai 100 juta rupiah, dan
  • Major, untuk kompetisi dengan hadiah di atas 100 juta rupiah.

Max menegaskan bahwa setiap kompetisi baik itu Mikro, Minor, maupun Major wajib memberitahukan penyelenggaraannya kepada ESI di daerahnya. Pemberitahuan kepada ESI ini bertujuan untuk menghindari hal-hal yang berpotensi untuk merugikan para pesertanya, ataupun elemen-elemen yang terlibat di dalamnya.

Sebagai contoh, jika terdapat suatu turnamen esports yang menginformasikan hadiah sebesar 5 juta rupiah, namun nyatanya para pemenang hanya mendapat 3 juta rupiah; maka pemberian hadiah yang tidak sesuai ini sudah jelas merugikan para peserta dan mencederai semangat berkompetisi.

Belum lagi masih ada hal-hal di balik layar yang berpotensi merugikan, seperti tidak membayarkan honor para talent yang berpartisipasi.

Banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang sering disepelekan ini mendorong ESI untuk menyusun langkah-langkah preventif. Salah satunya adalah dengan mekanisme pemberitahuan ini, bagi para penyelenggara event.

Selain bertujuan untuk melindungi mereka yang berkecimpung di dalam esports, memberitahukan event esports yang diselenggarakan kepada ESI juga memiliki manfaat tersendiri, seperti dibantunya publikasi acara ke komunitas-komunitas esports yang ada.

Pada akhirnya ESI adalah sebuah jembatan antara kepemerintahan dengan orang-orang yang ingin mengembangkan industri esports.

Cara melaporkan penyelenggaraan turnamen esports kepada ESI daerah

Dilansir dari perbincangan Max dengan Yokasa, diketahui bahwa pelaporan penyelenggaraan event esports ini mudah dan cukup dilaporkan ke ESI terdekat. Jika misalnya sang penyelenggara mengadakan acara berskala kota Medan, maka pihak panitia cukup melaporkannya kepada ESI Kota Medan.

Teknis pelaporannya pun sangat sederhana. Panitia bisa menghubungi melalui media sosial seperti WhatsApp atau email ke pihak ESI, sebagaimana nyamannya.

Max juga menegaskan bahwa semua pelaporan ini bersifat gratis, tidak dipungut biaya. Penekanan ini ditujukan untuk menjawab keresahan publik akan dugaan praktik premanisme.

Pelaporan ini bertujuan baik, yaitu untuk memastikan tidak ada pihak yang dirugikan. Serta untuk membantu proses penjaringan atlet daerah yang dilakukan ESI.

Sedangkan untuk pertandingan esports yang bersifat rekreasi atau just for fun dalam lingkup kecil seperti pertandingan dalam keluarga besar, maka untuk kapasitas ini tidak perlu melapor kepada ESI.

Lain cerita jika pertandingan tersebut dibuat di tempat umum dan mengundang massa untuk menyaksikannya. Jika demikian, tentunya pihak penyelenggara berkewajiban untuk melapor ke ESI.

Jika ada penyelenggara yang tidak patuh, maka acara tersebut bersifat liar, dan ESI memiliki wewenang untuk menertibkan.

Namun, patut diingat bahwa ESI bukanlah sponsor yang akan memperbesar prizepool dari turnamen yang diselenggarakan, melainkan untuk mengawasi dan memastikan bahwa acara tersebut berjalan sesuai dengan standar yang ada. Misalnya menegakkan ketentuan wasit esports bersertifikasi yang wajib dihadirkan di turnamen berskala Minor ke atas.

Setelah panjang lebar mengupas jabatan seorang Max Wilander di ESI Provinsi Sumut, kini tiba saatnya untuk kita mengenal profilnya secara personal.

Profil Max Wilander, Sang Ketua Harian ESI Sumut

Max Wilander ketua harian esi sumut

#1. Telah lama berkecimpung di dunia esports

Max Wilander yang saat ini menjabat sebagai Ketua Harian ESI Sumut merupakan seorang pria kelahiran tahun 1989. Dengan demikian, maka saat ini Max telah berusia 33 tahun.

Hingga kini, kecintaannya pada dunia game tidak berkurang dan justru semakin bertambah dengan bergabungnya ia ke ESI.

Max menceritakan bahwa ia sudah terjun di industri esports sejak tahun 2003. Saat itu, ia merupakan atlet Counter Strike yang serius bertanding mengikuti babak kualifikasi turnamen tingkat kota.

Singkat cerita, setelah 11 tahun ia berkarir sebagai atlet esports, akhirnya Max memutuskan untuk menyudahi karir atletnya di tahun 2014. Sebuah perjalanan panjang penuh suka dan duka yang telah ia lewati.

Setelah pensiun menjadi atlet di tahun 2014. Pada tahun 2015-2016 Max sempat beralih profesi menjadi jembatan antar pihak pengembang game yang baru diluncurkan, dengan warnet-warnet yang ada di kota Medan.

Profil Max Wilander, Sang Ketua Harian ESI Sumut

#2. Rekam jejak karir pasca pensiun sebagai atlet esports

Setelah 11 tahun berkecimpung sebagai atlet esports, Max juga sempat menjabat sebagai sekretaris IeSPA Provinsi Sumatra Utara.

Selain itu, ia juga membentuk sebuah komunitas bernama Ninetynine yang merupakan gaming event organizer di kota Medan. Setelah melalui banyaknya event-event yang terselenggara dengan sukses, sebuah lamaran untuk meminang Max Wilander sebagai seorang Ketua Harian ESI Sumut pun tiba.

Menurut penuturan Max, ternyata ketua ESI di masing-masing provinsi banyak yang dikepalai oleh anggota BIN (Badan Intelijen Negara). Hal ini memang tampak mengejutkan, namun sesungguhnya ini adalah hal yang baik. Sebab esports akan susah berkembang jika hanya digerakkan oleh warga sipil.

Dengan hadirnya para petinggi BIN di esports, ekosistem esports bisa lebih segera mematangkan diri.

Profil Max Wilander, Sang Ketua Harian ESI Sumut

#3. Bagaikan seorang “polisi” esports

Mengingat betapa strategisnya posisi seorang Max Wilander dalam organisasi esports, baik itu sebagai pendiri dari Ninetynine, maupun sebagai mantan sekretaris IeSPA Sumut; tak heran jika ia  menjadi gemar untuk memantau penyelenggaraan eventevent esports yang diadakan di wilayah Sumatra Utara.

Bahkan event-event kecil seperti yang diadakan di kafe pun turut dipantau oleh Max beserta anggotanya dari ESI. “Patroli” event ini bertujuan agar ESI bisa mendata bibit-bibit atlet esports cemerlang asal daerah yang kelak bisa mengharumkan nama Medan ataupun Sumatra Utara.

Melanjuti perbincangan relasi ESI dengan para penyelenggara turnamen, Max menambahkan bahwa pihaknya tidak bermaksud untuk mempersulit pengadaan suatu event esports.

Bersama ESI, Max hanya ingin memberikan kontribusi membangun daerah, khususnya di provinsi Sumatra Utara lewat jalur esports.

Max Wilander: Sosok Pemimpin di Balik Pertumbuhan Esports di Provinsi Sumut

#4. Sadar akan potensi esports daerah

Menurut penuturan Max, masih banyak orang tua yang melarang anaknya untuk menjadi atlet esports meskipun anak tersebut memiliki bakat. Hal ini tentu menjadi sebuah concern bagi ESI. Oleh sebab itu, kini ESI sedang menggaungkan program ekstrakurikuler esports di sekolah sebagai sebuah sikap menyikapi fenomena tersebut.

Ke depannya, pihak ESI Sumut akan terus berkoordinasi dengan dinas pendidikan sembari menunggu jumlah regenerasi wasit dan pelatih yang bersertifikasi di Medan.

Kemudian, dalam upaya menumbuhkan jumlah atlet-atlet esports di daerah, saat ini ESI Sumut telah menjalankan program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) untuk nomor Mobile Legends dan Free Fire.

mereka sudah rutin dilatih dan didampingi Coach profesional. Mereka juga masuk ke anggaran biaya sehingga mendapatkan gaji. Selain itu ESI juga memberikan suplemen mata, susu, dan jadwal olahraga.

Saat ini prestasi yang dimiliki Sumatra Utara dalam dunia esports terbilang cukup bagus. Conothnya, terdapat 2 atlet esports perwakilan asal Sumatra Utara, yaitu Pematang Siantar dan Padang Sidempuan yang berkompetisi di ajang SEA Games barusan. Para atlet Mobile Legends juga banyak yang sudah berkarir esports ke Jakarta.

Max Wilander sendiri berharap agar dalam waktu dekat ini, atlet esports Sumut bisa memenangkan 3 medali emas di ajang PON mendatang dan menggaungkan #SumutEsportsPride.


Nah itu dia hasil bincang-bincang seru yang bikin kaget dari Yokasa dan Max. Siapa yang menyangka bahwa sang Ketua Harian ESI Sumut ini memiliki pengabdian yang luar biasa untuk mengembangkan daerahnya melalui esports?

Setelah mensosialisasikan mekanisme pelaporan pengadaan event esports di daerah, para penyelenggara event esports jangan sampai kelupaan untuk merapat ya!


Ingin melihat dan mendengar langsung perbincangan mereka? Saksikan video lengkapnya di bawah ini.

banner iklan esportsnesia