Sepak Terjang Tamado Simon: Dari Player Sampai Jadi Pelatih Timnas

1715
tamado simon

Sepak terjang Tamado Simon di dunia esports dimulai pada tahun 2014. Waktu itu Tamado aktif sebagai player FIFA Online 3 dan berhasil meraih prestasi dan masuk sebagai Top 8 Nasional. Tidak hanya itu, ia juga aktif sebagai pro player League of Legends dan berhasil menduduki posisi Top 4 Nasional.

Saat aktif sebagai player, Tamado berhasil menyabet berbagai prestasi di kancah lokal Sumatera Utara dan nasional. Hal ini seperti mematahkan anggapan bahwa coach esports tidak harus jago main game. Meski saat menanggapi hal ini, Tamado enggan mengakui dirinya sebagai player yang bisa dibilang jago.

Nggak lah. Kalau gua jago, gua juara dong. Tapi posisi Top 8, Top 4 itu biasa aja sih menurut gua,” ujarnya saat berbincang dengan Esportsnesia.

Meski demikian, Tamado mengakui bahwa seorang coach juga harus bisa main game dan mengerti tentang permainan game itu sendiri. “Di esports kan belum ada lisensi pelatih. Beda dengan olahraga lain seperti sepak bola. Jadi di esports kalau mau jadi pelatih ya harus punya nama dulu dong,” terangnya.

Dorongan Menjadi PelatihTamado Simon

Kecintaan Tamado terhadap gim dan dunia esports mengantarkannya menjadi seorang pelatih. Pria yang saat ini masih aktif menjalankan studi tingkat magister ini mengaku awalnya tertarik menjadi coach lantaran ingin mengembangkan talenta-talenta di dunia esports khususnya di Medan.

“Awalnya sebagai player, doyan main game. Mulai umur 25-an gua merasa udah nggak bisa ngikutin kalau sebagai player. Nah, gua mulai coba share experience sebagai player itu untuk ngembangin talenta-talenta yang ada di Medan.” 

Sebagai penggemar esports, Tamado tentu mengikuti perkembangan industri ini. Saat itulah dia melihat banyak bakat muda yang belum terasah.

“Pengen ngembangin esports di Medan. Karena dulu di Medan belum ada pemain League of Legends dari Medan yang go national maupun go international. Sejak gua ngelatih, prestasi anak Medan mulai pada bagus di LoL,” terangnya.

Menurut Tamado, terdapat berbagai hambatan yang dihadapi yang membuatnya tidak mungkin untuk terus aktif sebagai player. Salah satu hambatan tersebut adalah usia. Hal itu jugalah yang mendorong Tamado untuk fokus menjadi coach esports.

“Faktor umur juga kan. Sekarang gua udah umur 31. Kalau untuk main itu udah keteteran banget. Gua ngerti apa yang mau dikerjain, tapi tangan sama mata gua udah nggak ngikutin lagi,” jelasnya.

Suka Duka Tamado Simon Sebagai Coach EsportsTamado Simon

Tamado mengaku coach esports adalah profesi yang menarik. Sebagai coach, Tamado bisa mengasah bakat-bakat muda sampai berprestasi. “Sebagai coach, lu bisa ngelatih anak-anak yang berbakat. Di Medan itu banyak talenta-talenta bagus yang belum pernah diasah. Ngelatih talenta ini butuh proses. Ketika proses yang lu kerjain membuahkan hasil, itu bangga banget sebagai pelatih.” 

Sementara itu, tantangan sebagai coach esports bagi Tamado adalah adanya perbedaan karakter dari masing-masing player“Masing-masing player itu individu yang unik. Punya karakter yang beda-beda. Untuk bisa membuat individu ini ikut apa mau lu, ikut strategi lu, itu berat banget. Butuh perjuangan.” 

Menjadi Pelatih TimnasTamado Simon

Bisa melatih tim nasional yang akan berlaga di kancah internasional tentunya merupakan impian semua coach. Tamado mengaku bangga bisa terpilih sebagai pelatih Timnas League of Legends (LoL) yang akan berlaga di SEA Games Vietnam Mei nanti.

Happy lah, bisa jadi wakil Indonesia. Bangga banget,” ujarnya.

Tamado mengakui baru mengetahui informasi mengenai pelatih timnas ini dua hari sebelum pendaftaran ditutup. “PBESI minta program kerja dan resume. Yaudah gua kirim. Tahap satu lolos, tahap dua lolos, tahap tiga baru presentasi program kerja dan terpilih.”

Meski demikian, dari awal Tamado sudah yakin dirinya akan terpilih. Gua percaya bakal kepilih. Selain dari pengalaman, gua juga yakin program kerja gua bakal bisa diterima.” 

Saat menyusun program pelatihan, Tamado menggunakan ilmu manajemen yang dia pelajari di bangku kuliah. “Di ilmu manajemen itu ada yang namanya metode SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Jadi gua pakai metode itu untuk menyusun program latihan,” ungkap mahasiswa magister Ilmu Manajemen Universitas Methodist Indonesia ini.

Bicara mengenai pengalaman, sepak terjang Tamado sebagai coach memang sudah tidak diragukan lagi. Sejak tahun 2018 dia sudah aktif menjadi pelatih. Pada periode 2018-2019, Tamado aktif sebagai pelatih di ZHR Esports.

Pada tahun 2020, dia melanjutkan karirnya sebagai coach di Professional Esports. Selain itu, Tamado juga merupaka owner dari tim VI Esports. Ditambah dengan pengalamannya sebagai player, Tamado memang memiliki bekal yang cukup kuat untuk membidani tim esports nasional.

Selain League of Legends, Tamado juga berpengalaman melatih player di gim-gim lain seperti FIFA Online 3. Kemampuannya mengembangkan bakat pelatih dapat dilihat dari prestasi player binaannya.

“Waktu itu gue berhasil mengantar anak gue jadi juara 3 Pro League Season 2, juara 2 Pro League Season 3, dan juara 1 Pro League Season 4.” 

Selain itu, Tamado juga pernah melatih tim Point Blank di Medan dan berhasil memperoleh juara 2 PBIC Medan. Sejak tahun 2016, baru Tamado aktif sebagai coach untuk gim League of Legends.

Pressure untuk Mencapai TargetTamado Simon

Mengemban tanggung jawab sebagai pelatih nasional tentunya menjadi tantangan tersendiri. Terutama karena adanya target prestasi yang harus dicapai. Tamado sendiri menargetkan tim LoL Indonesia bisa mendapatkan medali di ajang SEA Games 2022 yang akan dihelat di Vietnam.

“Agak pressure karena kejar target. Makanya gua tekankan ke anak-anak untuk fokus karena kita harus dapat medali.”

Mengenai target, Tamado berharap tim LoL Indonesia setidaknya berhasil mendapatkan medali perunggu di SEA Games nanti. “Sebelumnya tim LoL Indonesia belum ada prestasi di tingkat internasional. Jadi medali perunggu itu target yang lumayan berat, tapi gua yakin masih realistis buat dikejar,” terangnya.

Selain itu, tantangan juga datang dari tim negara lain. Ada beberapa tim yang menurut Tamado akan menjadi rival terberat Indonesia di ajang SEA Games nanti. “Vietnam, Filipina, dan Singapura,” kata Tamado.

Untuk menghadapi rival berat tersebut, Tamado mengaku sudah menyiapkan strategi. “Ada surprise strategy yang belum bisa diomongin sekarang. Tapi gua udah siapin strategi buat meng-counter mereka,” katanya.

Dengan strategi yang sudah disusun tersebut, Tamado yakin akan mampu membawa tim LoL Indonesia untuk memperoleh medali.

Mental adalah KunciTamado Simon

Tamado tidak lupa menyampaikan bahwa mental adalah hal terpenting yang harus dimiliki player“Mental yang kuat itu kunci paling penting untuk jadi juara. Sejago apapun skill, kalau nggak punya mental yang kuat pasti bakal kalah sih,” terangnya.

Untuk itu, di Pelatnas tahap 1 ini Tamado fokus untuk melatih mental tim binaannya. “Gua banyak kasih motivasi untuk nguatin mental pemain gua. Jadi bareng skill sama mental. Di Pelatnas tahap satu yang cuma 10 hari ini, gua fokus ke skill individu sama mentality strength.”

Mengenai pola latihan sendiri, Tamado mengaku player binaannya bersikap sangat kooperatif sehingga pelatihan berjalan kondusif. “Sebelumnya udah orientasi dulu biar visi misi bisa sejalan. Mereka sudah setuju dengan target yang mau dikejar dan apa yang mau gua kerjakan.” 

Sekarang pelatih asal Medan ini mencurahkan fokus dan energinya di Pelatnas. Dia bahkan mendapatkan izin cuti dari pekerjaannya sebagai pegawai Bidang Kemahasiswaan Universitas Methodist Indonesia untuk fokus melatih timnas League of Legends.

Setelah program Pelatnas selesai, Tamado mengaku akan kembali ke Medan dan melatih beberapa tim esports di sana. “Belum bisa gua sebut juga tim esports-nya apa dan game-nya apa,” terangnya menutup perbincangan dengan Esportsnesia.

banner iklan esportsnesia