Hidden Motive di Balik Menyalahkan Video Game Sebagai Pemicu Kekerasan

0
106
Hidden Motive di Balik Menyalahkan Video Game Sebagai Pemicu Kekerasan
Credit: Sarina Finkelstein; Getty Images

Dalam pidatonya yang merespon insiden penembakan di Texas, presiden Amerika Donald Trump menyalahkan video game sebagai sumber pemicu aksi teror tersebut.

Sikap negatif terhadap video game seperti ini juga sering ditunjukkan oleh kebanyakan politisi di Amerika. Dampak dari insiden penembakan ini juga mengakibatkan media ESPN untuk menunda penayangan turnamen Apex Legends mengingat tanggal turnamen dan insiden ini cukup berdekatan.

Sementara itu, Walmart juga menyingkirkan iklan-iklan yang menunjukkan unsur senjata api. Hal ini termasuk video game dengan genre FPS (First-Person Shooter) ataupun promosi film yang menunjukkan senjata.

Donald Trump menyalahkan video games
Credit: Alex Wong, Getty Images

Rod Breslau adalah salah seorang konsultan di Sony Music, juga seorang reporter terkenal dalam dunia esports. Ia mengungkapkan bahwa genre yang terkenal dalam esports, salah satunya first-person shooter.

Menurut Rod, industri esports sendiri sudah menekankan bahwa video game tidak memicu kekerasan bagi orang orang yang memainkannya. Topik ini juga sudah pernah dibawa ke meja penelitian. Namun, sikap dari perusahaan besar yang secara tidak langsung turut menyetujui opini masyarakat awam, sesungguhnya adalah sebuah problem bagi industri esports.

Melihat banyaknya opini negatif dari para politikus, banyak juga artis dan profesional dari dunia esports yang maju ke depan dan membantah klaim ini.

Pandangan negatif ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Contohnya pada kejadian Columbine High School Shootings tahun 1999, dimana pada saat itu video game belum begitu terkenal, dan permainan yang memakai dadu seperti Tabletop justru menjadi kambing hitam setiap persoalan sosial.

Banyak tim esports yang mengandalkan brand sponsorship sebagai sumber dana operasional tim mereka. Akan tetapi, ketika sebuah insiden terjadi maka perusahaan sponsor tersebut juga “terbangun” dan akan lebih memperhatikan bagaimana logo perusahaan mereka ditampilkan dalam perlombaan game bergenre first-person shooter.

Mari kita mengupas perjalanan video game yang pernah terseret oleh isu serupa.

Dungeons & Dragons (D&D) – Pemuja makhluk gaib

Dungeons & Dragons (D&D), sebuah game RPG kuno yang populer pada zamannya, konon dimainkan bersama (secara offline tentunya) dengan para pemain duduk di sebuah meja besar, menggunakan dadu dan buku manual untuk menjelaskan peraturan bermain.

Baca juga:  CEO Newzoo: Analitik Esports Telah Mencapai Tahap Dua
Permainan Dungeons & Dragons
Credit: themarysue.com

Di kala itu, saat digital game masih primitif berbentuk petak-petak, seperti Pac-Man, sudah ada game Dungeons & Dragons yang bisa memainkan berbagai macam karakter layaknya genre MMORPG sekarang, seperti mage, knight, atau thief.

Tidak hanya itu, karakter yang dimainkan juga bisa menggunakan magic attack dan armor equipment. Kemudian ada juga misi menjelajahi dungeon sambil melawan monster seperti quest dalam game RPG sekarang.

Namun, perbedaan utamanya dengan video game saat ini adalah para pemain D&D di masa itu perlu menggunakan buku pedoman dan memahami instruksinya untuk menentukan bentuk dungeon dan tipe monster yang ada di dalamnya. Kemudian mereka harus melempar dadu setiap melakukan magic attack untuk menentukan perjuangan karakter mereka.

Buku panduan D&D
Credit: dnd.wizards.com

Setelah mereka menyelesaikan misi, karakter yang dimainkan nanti bisa juga naik level dan mendapatkan peningkatan status strength, agility, dan intelligence. Perubahan status ini nantinya dicatat menggunakan alat tulis pada sebuah kertas untuk babak selanjutnya.

Bagi orang-orang yang melihatnya secara kasar, ada yang menganggap buku ini sebagai buku pemuja setan atau mahluk gaib, kemudian mereka yang membaca buku ini akan beresiko menjadi pembunuh dan menjadikan korban mereka sebagai persembahan terhadap setan.

Karena setiap ronde D&D itu cukup lama maka pemain sering berkumpul sampai berjam-jam dalam ruangan tertutup membahas nama monster, membawa buku yang isinya ada magic, dan kalau pemain yang sangat antusias memerankan sebuah karakter mereka bermain memakai topi dan jubah penyihir.

Sama seperti game RPG komputer populer sekarang bila sedang menjalankan misi, mereka akan melawan monster, menjelajahi tempat angker yang dihuni oleh mahluk gaib. Padahal ini hanyalah sebuah permainan, atau kalau orang yang mengerti bahasa gaming, ini adalah ghost type dungeon missions.

Masalah sesungguhnya

Bagi orang awam, menceritakan alur permainan tadi juga akan membuat mereka semakin panik. Masalah ini terjadi dari orang-orang yang terlalu cepat menyalahkan sesuatu.

Satanic Panic Newspaper Clipping
Credit: Patheos.com

Tujuan utama para politikus itu bukan mencari solusi dari masalah, tapi membuat slogan kampanye yang pendek dan simpel supaya mudah dicerna oleh pendukungnya dan mereka dipilih dalam pilkada selanjutnya, tujuan mereka bukan untuk menyelesaikan masalah, tapi mendapatkan suara supaya bisa naik ke kursi pemimpin.

Baca juga:  7 Tips Marketing Esports dari Nicola Pigott, Co-Founder The Story Mob

Ada juga beberapa di antara mereka yang sudah duduk di kursi pimpinan dan tujuan mereka hanya untuk membuat slogan baru untuk pemilu selanjutnya.

Slogan yang sering dilemparkan itu berbunyi seperti “melarang beberapa tipe video game yang mengandung kekerasan.” Pesan seperti ini mengandung kata yang singkat dan tujuan yang jelas sehingga mudah untuk diingat rakyat luas.

Jika dibandingkan dengan slogan panjang yang menjanjikan perubahan legislatif tentang kepemilikan senjata api, slogan seperti ini susah dicerna karena tujuan yang kasat mata.

Apalagi perubahan seperti ini sering diblokir oleh politikus lain yang banyak mendapatkan uang donasi dari organisasi yang melobi regulasi senjata api.

Sekian tulisan artikel saya ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini. Mudah-mudahan artikel ini bisa membuat kamu tahu kenapa isu ini terus muncul setiap ada aksi teror di Amerika Serikat.


Sebagai penulis dari artikel ini, tentu saya sadar bahwa artikel ini tidak akan 100% diterima semua orang, pasti ada yang tidak setuju untuk beberapa poin di atas.

Kalau ada kritik dan saran yang bisa kamu tambahkan, silakan tulis komentar kamu di bawah ini.

(Sumber: The Esports Observer; Disunting oleh Satya Kevino)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here