Membandingkan Ekosistem Esports Indonesia dengan Malaysia

0
138
Ekosistem Esports: Indonesia Vs. Malaysia

Setelah pagelaran M1 World Championship di Malaysia baru-baru ini, rasa penasaran untuk mengetahui lebih dalam mengenai ekosistem esports di Malaysia perlahan-lahan mulai mengusik pikiran ini.

Indonesia dan Malaysia, ibarat kakak dan adik, walau sering berselisih paham, namun tetap tidak bisa dipungkiri akan kemiripannya dalam hal bahasa, sosial, budaya, dan lainnya.

Lantas, bagaimana dengan hal esports? Apakah ada kemiripan di antara keduanya? Atau justru perbedaan?

Untuk menjawab pertanyaan tadi, Dylan Chia selaku Marketing Director dari MPL Indonesia akan membagikan opininya.

Ternyata, sebelum Dylan fokus menggarap esports MLBB di Indonesia, ia telah terlebih dahulu berkecimpung di industri esports Malaysia sejak tahun 2011. Meski sempat hiatus dari esports dan fokus pada ekosistem sepak takraw di sana, ia kembali terjun ke esports saat MPL MY/SG memulai musim pertamanya.

Nah, itu dia sedikit pengenalan dari Dylan Chia. Berikutnya, kita akan mulai membandingkan  tiap elemen yang ada dalam ekosistem esports kedua negara ini.

Event esports

Dalam gelaran Grand Final M1 World Championship 2019 (15-17 November 2019) yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, ada tiket masuk yang harus dibayarkan untuk bisa menonton langsung.

Siapa Saja Tim Kuat di M1 World Championship?

Tiket termurah untuk 3 hari dibanderol dengan harga RM55 atau sekitar Rp185 ribu. Total pengunjung (3 hari) yang datang langsung menonton ajang tersebut mencapai 18 ribu orang.

Sementara itu di Indonesia, berbicara soal harga tiket, gelaran Grand Final MPL ID Season 3 adalah satu-satunya event Mobile Legends Professional League Indonesia (MPL ID) yang memiliki tiket berbayar, yaitu Rp60 ribu untuk harga tiket termurah selama 3 hari.

Bagaimana hasilnya? Ternyata ini justru menjadi event tersepi sepanjang sejarah MPL di Indonesia.

Melalui contoh kejadian di atas, kita pun mulai bisa menarik sebuah asumsi: apakah memang fans esports di Malaysia lebih bersedia mengeluarkan uang untuk menonton langsung?

Dylan pun menjawab, “iya, mereka lebih mau keluar uang karena di Malaysia sudah sering event-event berskala internasional seperti tahun ini ada Kuala Lumpur Major untuk Dota 2. Meski memang untuk event-event berskala nasional di sana juga lebih banyak yang gratis ketimbang berbayar.”

Untuk urusan dompet, harus diakui bahwa fans esports Indonesia lebih enggan untuk mengeluarkan uang. Tapi, di sisi lain, usaha yang dikeluarkan atau semangat yang ditunjukkan oleh para pendukung esports tanah air jauh lebih besar.

“Untuk semangatnya, asalkan gratis, fans Indonesia jauh lebih baik ketimbang Malaysia. Saya kemarin sempat terkejut sekaligus terharu saat melihat para pengunjung Grand Final MPL ID S4 (26-27 Oktober 2019) yang rela kehujanan demi menonton jagoannya bertanding.”

Pengunjung Grand Final MPL ID S4 memang tumpah ruah melebihi kapasitas gedung Tennis Indoor Stadium, Gelora Bung Karno, sehingga memang ada banyak sekali pengunjung yang tidak bisa masuk.

Dalam 2 hari event, ada 20 ribu orang yang memadati lokasi. Namun, mereka-mereka yang tak bisa masuk tetap bertahan sembari menonton di layar lebar yang disediakan di samping gedung.

Dukungan pemerintah

Di akhir bulan November 2019 kemarin, Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq merilis sebuah dokumen setebal 144 halaman yang berjudul “Strategic Plan for Esports Development 2020- 2025”.

Di dalamnya, sang menteri menuliskan rencananya membangun esports negeri jiran selama 5 tahun ke depan. Lalu, pertanyaannya, apakah dukungan pemerintah di sana lebih baik ketimbang dukungan pemerintah Indonesia untuk ekosistem esports?

Indonesia E-sports Association (IeSPA) via iespa.or.id
Indonesia E-sports Association (IeSPA) via iespa.or.id

Pasalnya, jika ‘hanya’ sebatas dukungan moril, pemerintah Indonesia juga sudah berulang kali menyatakannya. Bentuk konkret dukungan esports dari pemerintah Indonesia yang sudah terealisasi mungkin hanyalah Piala Presiden.

Dylan tidak bisa mengatakan dukungan pemerintah mana yang lebih baik antara kedua negara namun yang pasti pemerintah Malaysia jelas lebih berani dan frontal dalam membela komunitas esports.

“Mungkin karena memang usia menterinya lebih muda dan familiar dengan esports.” Dari sisi institusi pendidikan formal, di Malaysia ada sebuah universitas yang menawarkan program studi esports, yaitu Asia Pacific University, lengkap dengan sertifikasi buat para peserta didiknya.

Sedangkan di Indonesia, pionir untuk esports di institusi pendidikan formal adalah SMA 1 PSKD. Sayangnya, di sekolah tersebut, esports masih jadi sebatas kegiatan ekstrakurikuler. Dalam hal ini, Malaysia nampaknya lebih unggul ketimbang kita.

Universitas tadi benar-benar menawarkan jurusan khusus esports ya – bukan hanya program studi game secara umum karena di Indonesia juga sudah banyak yang seperti itu, sebut saja Universitas Dian Nuswantoro.

Pencapaian industri esports

Tadi kita sudah membahas dari sisi event, fans, dan pemerintah. Lalu bagaimana soal pencapaian esports? Nampaknya, Indonesia bisa dibilang lebih unggul dalam hal ini.

Jika berbicara soal tim/organisasi, ada sejumlah organisasi esports Indonesia yang sudah melebarkan sayapnya ke luar negeri.

EVOS Esports punya tim yang tersebar di 6 negara di Asia Tenggara. ONIC punya tim yang turut serta di MPL PH. RRQ juga punya divisi di Thailand. Bigetron juga sempat punya tim yang ikut serta di MPL MY/SG Season 2. Aerowolf pun punya tim Rainbow Six: Siege di Singapura.

Jika berbicara tentang tim esports asal Malaysia, masih hanya Geek Fam yang punya divisi di lain negara, setidaknya di ekosistem esports MLBB. Geek Fam punya tim MLBB yang ikut serta MPL ID sejak Season 4.

Selain MLBB, untuk judul MOBA platform PC Dota 2, ada Fnatic (tim asal Eropa) yang memiliki basecamp di Malaysia.

Dari segi kematangan industri, MPL ID S4 yang telah berevolusi menjadi sistem franchise, serta tim-tim MLBB Indonesia yang boleh dibilang cukup berprestasi; Indonesia jelas memiliki keunggulannya sendiri dalam hal esports.

Sedangkan untuk tim-tim peserta MPL MY/SG, rata-rata pesertanya masih bisa dikategorikan sebagai semi-pro.

Perihal lanskap bisnis esports di Indonesia, saat ini sudah banyak perusahaan raksasa asal Indonesia yang berinvestasi ke esports. Perusahaan non-endemic, seperti Salim Group, Sinarmas, Djarum Group, dan lainnya, masing-masing telah memiliki mitra tersendiri dalam mengembangkan investasinya.

MPL ID

Dylan mengatakan, “jumlah perusahaannya mungkin hampir sama, seperti Air Asia, U Mobile (sponsor M1 World Championship 2019), dan yang lainnya. Namun sponsor-sponsor di Indonesia lebih berani mengeluarkan dana yang lebih besar.”

Akhir kata

Pada akhirnya, dari sisi prestasi, setidaknya untuk MLBB, Indonesia boleh dibilang lebih unggul dari Malaysia. MSC 2019 dan M1 World Championship 2019 adalah bukti konkret soal torehan prestasi, demikian juga dari capaian SEA Games 2019 untuk MLBB.

Meski begitu, ada hal-hal lainnya yang mungkin bisa kita pelajari dari ekosistem ataupun industri esports di sana. Misalnya, mengapa Malaysia lebih sering menjadi lokasi event esports internasional?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here