Review Game Impasto: Bikin Merinding dan Overthinking!

1116
review game impasto

Impasto adalah salah satu game yang ditunggu-tunggu oleh penggemar genre horor setelah tayang di YouTube Alpha Beta Gamer bulan Mei lalu. Kolom komentarnya banyak yang menyatakan bahwa mereka mengharapkan game ini segera meluncurkan versi full-nya setelah melihat serta memainkan versi betanya di situs alphabetagamer.com.

Akhirnya, Impasto rilis pada tanggal 3 November 2022 kemarin di Steam dan sudah bisa langsung dimainkan karena free to play alias gratis. Sebenarnya, telat beberapa hari dari rencana awal developer dan publisher-nya yang mentargetkan tanggal 28 Oktober 2022 sudah tersedia di Steam.

Developer Impasto adalah sekelompok mahasiswa gabungan dari University of Southern Calorina, Otis College of Art and Design, dan California State University. Sedangkan, publisher-nya adalah Juggernaut Entertainment dan USC Games.

Dalam rilis resmi pada laman store Impasto di Steam, mereka menyatakan bahwa mereka meminta maaf atas penundaan tersebut dan mengklarifikasi bahwa masalahnya bukan di teknis game namun, hanya soal persetujuan dari Steam saja.

Pernyataan maaf dan klarifikasi ini diapresiasi oleh para pengguna Steam karena semuanya memberikan jempol ke atas tanda bahwa hal tersebut tidaklah mengapa dan justru merupakan satu hal bagus karena memberikan kejelasan.

Sumber Gambar: Screenshot Pribadi Penulis

Impasto sendiri bercerita tentang pelukis Spanyol paling berpengaruh di akhir abad 18 sampai awal abad 19, bernama Francisco Goya. Francisco Goya diceritakan sudah buta dan hampir mati. Oleh sebab itu, Francisco Goya kemudian mewariskan rumah mewahnya kepada cucunya; Mariano Goya.

Saat Mariano menjelajahi rumah mewah tersebut, dia kemudian mendengar bisikan yang datang dari lukisan. Lalu salah satu dari lukisan tersebut membawanya ke dunia lukisan yang penuh dengan rahasia kakeknya.

Bagaimana cerita selanjutnya? Baca terus artikel review game Impasto ini sampai habis.

First Impression Impasto

Impresi pertama saya ketika memulai membuka Impasto hanyalah satu kata, yakni: Gelap! Padahal tingkat kecerahan laptop saya sudah maksimal.

Kalau ada pembaca yang juga merupakan penggemar Game of Thrones, tentu Anda akan tahu episode The Long Night yang banyak dikritik karena sangat gelap. Gelap di sini dalam arti sesungguhnya. Bukan dalam arti kiasan.

Namun demikian, saya terus memainkan game Impasto ini karena penasaran juga dengan ending-nya. Apalagi saya sempat frustasi karena berkali-kali mati dibunuh oleh para anggota Inkuisisi.

Sumber Gambar: Screenshot Pribadi Penulis

Saya yang awalnya berpikir menamatkan game ini butuh minimal lima jam ternyata hanya butuh waktu 50 menit tepatnya 53 menit 47 detik. Asumsi saya butuh lima jam karena Impasto ini terdiri dari lima chapters yang bisa dilihat di menu awal.

Satu chapter mungkin menghabiskan waktu satu jam. Alih-alih satu jam ternyata satu chapter hanya menghabiskan waktu sepuluh menitan.

Saya memainkan game Impasto dengan spesifikasi perangkat seperti berikut ini:

  • OS: Windows 8
  • Processor: Intel(R) Core(TM) i5-4210M
  • Memory: 8 GB RAM
  • Graphics: NVIDIA GeForce GT 7300M

Sedangkan, minimum requirements untuk menjalankan Impasto adalah sebagai berikut:

  • OS: Windows 7 64-Bit / Windows 8 64-Bit / Windows 8.1 64-Bit / Windows 10 64-Bit / Windows 11
  • Processor: Intel® Core™ i5-2300 / AMD FX-4350
  • Memory: 6 GB RAM
  • Graphics: NVIDIA® GeForce® GTX 660 / AMD Radeon™ HD 7870

Sehingga kalau dilihat, sebenarnya perangkat saya sedikit kekurangan di Graphics Card. Tapi ketika saya meng-install hal itu tidak masalah ternyata. Game masih bisa dijalankan dengan lancar jaya.

Sudah penasaran dengan review jujur tentang Impasto? Tetap terus baca artikel ini hingga bawah.

Review Game Impasto

Aspek Interface

Interface Impasto agak kompleks namun, masih bisa dipahami. Hal ini wajar karena memang pangsa pemain yang dibidik tentu saja orang dewasa. Pembuatnya juga adalah mahasiswa yang biasanya berpikir semua orang seperti mereka pemahamannya.

Menu Utama Impasto
Sumber Gambar: Screenshot Pribadi Penulis

Ada lima menu utama, yaitu sebagai berikut ini:

  • Continueuntuk melanjutkan permainan terakhir.
  • New Gameuntuk memulai permainan baru.
  • Chaptersuntuk memilih akan mulai dari chapter yang mana.
  • Settingsuntuk mengatur video, volume suara, control, dan tampilan.
  • Quituntuk keluar permainan.

Di dalam pengaturan video kita bisa mengatur kecerahan. Namun demikian, seperti yang sudah saya bilang di bagian first impression walau sudah maksimal akan tetap gelap.

Berlanjut di tab pengaturan control hanya ada pengaturan tentang invert Y-Axis dan mouse sensitivity. Tidak ada keterangan sama sekali mengenai input keyboard yang harus saya gunakan.

Maka, berlanjut kita ke review tentang aspek control Impasto.

Aspek Control

Tombol keyboard apa saja yang harus pemain gunakan dalam game Impasto diberikan sedikit-sedikit seiring jalannya permainan. Boleh dibilang, tutorial control adalah sepanjang game berlangsung.

Tombol-tombol keyboard yang digunakan adalah W, A, S, D untuk berjalan. Lalu F untuk melakukan aksi seperti; membuka pintu, bersembunyi di gentong, berbicara. Kemudian tombol R untuk membaca, Ctrl untuk merangkak dan menyelinap, Space untuk melompat, Q dan E untuk bersandar kepada tembok.

Sumber Gambar: Screenshot Pribadi Penulis

Input keyboard tidak bisa diubah sama sekali. Sehingga pemain yang mungkin ingin menggunakan tombol lain terpaksa harus menyesuaikan dengan keinginan pembuat game.

Game Impasto juga tidak mendukung pemakaian controller. Maka, pemain harus puas hanya menggunakan keyboard.

Aspek Gameplay

Difficulty

Impasto tidak memberikan pilihan untuk mengatur tingkat kesulitan. Tingkat kesulitan di Impasto menurut saya hanyalah gelap dan adanya musuh yang berjalan mondar-mandir di beberapa jalan yang harus kita lewati.

Awal-awal memang kelihatannya susah. Karena saya sendiri selalu ketauan menyelinap sehingga habis dibantai. Setelah beberapa kali restart dan memahami pola jalan anggota Inkuisisi tadi, baru saya bisa dengan lancar melewati chapter demi chapter Impasto.

Puzzle yang diberikan pembuat game juga cenderung mudah. Hanya ada satu puzzle yang membutuhkan logika agar bisa dipecahkan untuk membuka pintu ke chapter selanjutnya. Sisanya hanya coba-coba saja dapat diselesaikan dengan mudah.

Story Pacing

Jujur saya agak kecewa dengan story pacing Impasto yang terlalu cepat. Padahal banyak hal yang bisa dieksplorasi baik dari kehidupan Francisco Goya sendiri maupun lukisan-lukisannya.

Saya yang berekspektasi mendapatkan jalan cerita yang minimal sampai lima jam ternyata harus merasakan kebingungan karena ceritanya sudah selesai. Begitu lima chapters diselesaikan maka, credit roll seluruh para pembuat game serta pendukung game ini ditampilkan.

Sumber Gambar: Screenshot Pribadi Penulis

Lima chapter utama terdiri dari beberapa sub chapter yang akan membawa kita kepada alasan penjelasan mengapa kemudian Francisco Goya tiba-tiba menghilang.

Aspek Grafik

Terlepas dari gelapnya game ini, grafik Impasto sebagai game dengan sudut pandang orang pertama alias first person mampu mengundang decak kagum pemainnya. Orang-orang dan barang-barang yang ada dalam game digambarkan cukup detail. Lukisan-lukisan Francisco Goya seolah benar-benar hidup dalam game ini.

Maka, di aspek grafik ini menjadi salah satu keunggulan Impasto. Saya sudah menduga hal ini sebenarnya karena anggota tim pembuat Impasto juga ada mahasiswa dari jurusan seni dan desain.

Apalagi ketika sampai pada salah satu scene yang cukup sadis dan mengerikan. Sangat detail sekali grafiknya. Saya sampai merinding melihatnya.

Screenshot Impasto
Sumber Gambar: Screenshot Pribadi Penulis

Aspek Suara

Selain aspek grafik yang ciamik namun bikin ngeri, musik latar dan efek suara di game ini juga mampu membuat bulu kuduk berdiri.

Sumpah! Penulis sampai harus menyalakan lampu kamar untuk memastikan bahwa foto-foto dan poster-poster yang saya pajang di kamar saya tidak ikut-ikutan hidup seperti dalam game ini karena musiknya benar-benar bikin overthinking.

Voice acting para pengisi suara yang diisi oleh para mahasiswa juga patut diacungi jempol. Mereka mampu mengubah suara mereka yang seharusnya masih muda menjadi suara orang tua yakni Francisco Goya dan suara-suara pria dewasa lainnya.

Akhir Kata

Untuk ukuran game yang dibuat oleh para mahasiswa, Impasto bisa dibilang sudah luar biasa. Apalagi mereka mengeksplorasi tokoh dan tema yang jarang ada.

Lepas dari kekurangannya dari segi control yang tidak bisa diatur dan tampilan game yang gelap sekali, Impasto layak untuk dimainkan bagi Anda yang merupakan adrenaline junkie.

Tapi bagi Anda yang penakut apalagi bagi Anda yang mempunyai masalah pada mata entah itu photo sensitive atau mata minus dan berbagai masalah mata lainnya, saya tidak menyarankan Anda untuk memainkan game Impasto ini. Namun, jika Anda tetap nekat memainkannya tanggung sendiri resikonya.

Saya dan esportsnesia.com berlepas diri dari segala tanggung jawab serta hal yang terjadi selanjutnya. Kami sudah memberikan peringatan atau warning.

banner iklan esportsnesia