Asosiasi Esports Dunia? Ini Dia, World Esports Association (WESA)

0
88
World Esports Association (WESA)

Esports selaku sebuah tren baru, telah banyak menarik perhatian dari berbagai kalangan, dimulai dari anak muda yang berlomba-lomba menjadi atlet esports, event organizer yang berkompetisi mengadakan turnamen spektakuler, hingga perusahaan-perusahaan non-endemik yang turut meramaikan industri esports.

Akan tetapi, di tengah perkembangan esports yang begitu pesat, terdapat sebuah kekosongan di dalamnya. Kekosongan tersebut telah menimbulkan peluang-peluang terjadinya hal-hal yang hanya akan mencoreng nama baik esports jika terus menerus dibiarkan.

Atmosfer esports
Credits: Helena Kristiansson, Kelly Kline

Layaknya badan olahraga tradisional seperti FIFA yang memantau perkembangan sepak bola di berbagai belahan dunia, ranah olahraga elektronik pun membutuhkan figur yang sama agar orang-orang yang kini terlibat dalam esports tidak berupaya untuk mencurangi sistem yang ada saat ini.

Skandal-skandal esports mulai dari match-fixing, perjudian hingga suap-menyuap pun sering luput dari perhatian dunia. Sebuah badan yang meregulasi olahraga zaman now ini sangat diperlukan guna melindungi ekosistem industri esports.

Sekilas tentang WESA

World eSports Asossiation (WESA) dipercaya sebagai salah satu solusi untuk mematangkan industri yang masih hijau ini. Hadir sebagai organisasi terbuka dan inklusif, WESA memberikan unsur profesional terhadap elemen-elemen yang ada dalam esports, mulai dari peraturan turnamen, representasi pemain, serta hal-hal seperti pembagian pendapatan kepada para anggota tim.

WESA (World eSports Asossiation) adalah salah satu organisasi yang dipelopori oleh tim-tim esports profesional dan juga ESL (Electronic Sports League), perusahan esports terbesar di dunia.

Tim-tim esports yang mempelopori terbentuknya WESA adalah Fnatic, Natus Vincere, EnVyUs, Virtus.pro, G2 Esports, FaZe Clan, Mousesports, Ninjas in Pyjamas. Selama 2 tahun pertamanya, WESA pun telah menambah 5 anggota baru, yaitu Renegades, SK Gaming, OpTic Gaming, Splyce, dan The North.

WESA yang didirikan pada Mei 2016 memiliki visi untuk membangun sebuah badan yang memiliki kerangka kerja autentik untuk mendukung dan memperkuat pertumbuhan esports secara berkesinambungan, dengan nilai-nilai keadilan, transparansi, dan integritas, serta membagikan pertumbuhan tersebut di antara para pemain, tim, dan turnamen.

Antusias penikmat esports
Credits: Helena Kristiansson, Kelly Kline

Dalam mewujudkan visi tersebut, WESA bermisi untuk menjadi acuan dalam menetapkan standar di industri esports melalui kerangka kerja yang dibentuk, serta melibatkan para aktor dalam kegiatan yang dibuat.

Baca juga:  Berita Industri Esports: Mercedes-Benz Akan Mensponsori Turnamen ESL One DotA 2 Hingga 2020

WESA memberi kesempatan kepada para pemangku kepentingan di dunia esports untuk mendiskusikan kejelasan struktur, jadwal, serta transparansi. Transparansi yang jelas antara tim dan pemain, serta dukungan kepada mereka adalah impian utama asosiasi ini.

Siapa yang sedang memimpin WESA?

WESA saat ini berada di bawah kepemimpinan Pietro Fringuelli. Beliau berperan sebagai Executive Chairman and Commissioner. Berbekalkan pengalamannya di industri olahraga, serta keahlian yang diperolehnya selama menjadi penasihat untuk beberapa organisasi olahraga terbesar di Eropa.

Pietro Fringuelli
Pietro Fringuelli

Beliau juga dikenal sebagai individu terkemuka dalam bidang media dan hiburan dalam edisi JUVE 2015 2016 dan juga direkomendasikan di Chambers Global dan Chambers Europe untuk bidang media pada tahun yang sama.

Yang sudah dilakukan WESA

Players Council

Salah satu pencapaian penting WESA adalah terbentuknya Players Council yang bersifat demokratis. Setiap tim pelopor WESA akan memiliki representatifnya sendiri yang dipilih oleh pihak internal tim.

WESA Players Council

Pihak perwakilan tersebut nantinya akan mewakili, memperkuat, dan mengadvokasi atas nama pemain profesional dalam sejumlah isu-isu penting seperti kebijakan liga, peraturan, transfer pemain, dan sebagainya.

Players Council tidak hanya diisi oleh mereka yang berlatar belakang pemain profesional, tetapi juga coach dan manager. Asas demokrasi yang dianut dalam inisiatif ini akan memberikan tiap anggota perwakilan sebuah hak suara dalam proses pengambilan keputusan.

Penerapan regulasi WESA

WESA yang memiliki kekuatan untuk membuat kebijakan dan peraturan, akan membutuhkan partisipasi dari rekan-rekan seindustri yang membantu penerapannya. Sebagai salah satu founder, ESL membuktikan komitmennya dengan mengadopsi aturan yang dibuat WESA pada ESL Pro League CS:GO, turnamen profesional esports pertama yang menggunakan regulasi WESA.

Pada bulan Agustus 2017, WESA bekerja sama dengan Hi-Rez Studios dalam peluncuran Paladins Premier League (PPL). Liga ini menjadi liga kedua yang mengimplementasikan kebijakan WESA. Komitmen dari PPL pun mencakup tentang adanya regulasi gaji minimum untuk para pemainnya.

Kebijakan WESA lainnya

Dalam mengemban identitasnya sebagai aktor yang peduli pada perkembangan esports dunia, WESA telah mempublikasikan beberapa kebijakan untuk pengelolaan organisasi, panduan dalam media sosial, serta arbitrase untuk penyelesaian sengketa.

Baca juga:  ESL Bekerja Sama Dengan Square Enix Untuk Turnamen Go4 

Semua kebijakan tersebut bisa dipelajari melalui situs WESA sendiri.

Dampak positif dengan adanya WESA

Organisasi olahraga di dunia hampir semuanya memiliki isu yang sama. Kecurangan, penyelundupan, doping, adalah jenis permasalahan yang datang dari para pemain maupun pengurus suatu organisasi.

Franguelli, sang ketua, optimis untuk mampu menjauhkan WESA dari isu-isu yang ada. Dibekali dengan regulasi yang ketat serta kepatuhan dari para member yang ada, hal tersebut sangat mungkin untuk dicapai.

“Bayangkan saja jika tidak ada kepatuhan dalam sebuah peraturan, bisa jadi, esports ini juga akan jatuh ke masalah di masa lalu,” sahutnya.

Esports sponsor
via XY Gaming

Untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih besar, seperti keikutsertaan lebih dari pihak sponsor di acara esports, Franguelli meyakini bahwa sponsor tidak akan ragu untuk datang dan membantu, jika WESA berhasil membuktikan adanya sebuah ekosistem yang jauh dari masalah penyelundupan, doping, serta masalah kecurangan dalam pertandingan.

Sponsor akan lebih tertarik untuk memberikan dana bila esports mampu membersihkan diri dari masalah-masalah tersebut.

Namun, WESA juga memiliki kontroversi dan tantangan

Dalam meregulasi ekosistem esports, WESA memiliki banyak pekerjaan rumah untuk menggandeng dan mengayomi pihak-pihak yang mau mentaati kebijakan yang dibuat. Apakah WESA akan mampu untuk mendapatkan kepercayaan dari tiap pihak tersebut?

Saat ini, WESA sudah berhasil menggaet salah satu organisasi esports terkemuka di dunia, ESL, sebagai salah satu founder-nya. Namun, hal yang perlu diingat adalah bahwa WESA menjunjung nilai keadilan, dan di saat yang sama, ESL adalah sebuah organisasi bisnis yang berorientasi profit.

Electronic Sports League
Electronic Sports League via MarTech Today

Untuk menjaga agar WESA bebas dari kepentingan suatu pihak tertentu, tentunya WESA juga harus menggandeng pihak-pihak lain, agar publik dapat mempercayai WESA melalui netralitasnya.

Di sisi lain, ekosistem esports jelas berbeda dengan industri olahraga tradisional, terutama dalam hal kepemilikian atas judul game esports. Game publisher memiliki kewenangan yang kuat dalam mengontrol game ciptaannya, berbeda dengan olahraga yang dimiliki dan dijaga bersama-sama.

Pihak game publisher pada dasarnya juga turut melestarikan ekosistem esports dengan turut menghadirkan liga-liga fantastisnya sendiri, seperti Valve dengan The International, dan Riot dengan World Championship.

Baca juga:  RRQ, Tim Esports Indonesia yang Berkiprah di Kancah Internasional
The International 2017 via Fox Sports
The International 2017 via Fox Sports

Apa yang dilakukan oleh publisher adalah baik, hingga tiba masa dimana pihak publisher pun mendeklarasikan aturannya sendiri, khususnya yang tidak adil. Contoh kejadian yang sudah terjadi beberapa kali adalah ketika pihak penyelenggara liga memiliki wewenang secara sepihak untuk melarang partisipasi dari tim-tim tertentu.

Sebut saja, Riot yang pernah melarang Renegades untuk berpartisipasi di liganya. Kerugian finansial yang dialami oleh tim tersebut akan sangat signifikan, mengingat sudah banyak jerih payah dan juga investasi dari pihak sponsor yang diberikan.

Berdasarkan kejadian tersebut, diperlukan sebuah sarana untuk dapat mengakomodasi kekecewaan dari pihak-pihak yang dirugikan. Paling tidak, sebuah persidangan esports adalah solusi lanjutan yang dapat dihadirkan oleh WESA setelah upayanya membuat kebijakan yang saat ini hanya dipatuhi oleh beberapa pihak.

(Disunting oleh Satya Kevino)