Blockchain dan Esports

0
433
Blockchain dan Esports
Credit: Unsplash

Masih ingat dengan Bitcoin? Bitcoin yang merupakan sebuah cryptocurrency kontroversial atas nilainya yang sempat memuncak mencapai ratusan juta rupiah di tahun 2018 silam, secara tidak langsung telah berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat mengenai kehadiran teknologi blockchain yang ada di belakangnya.

Meskipun kini harganya sudah turun (bersama dengan popularitasnya), banyak orang yang sudah menyadari potensi blockchain dan berlomba untuk membuat sensasi “Bitcoin” versi mereka sendiri.

Pengembangan blockchain sendiri kini sudah memasuki dunia esports. Nah, sebelum kita mendalami topik ini, kita harus terlebih dahulu mengerti apa itu blockchain.

Apa itu blockchain?

Bergerak dari popularitas Bitcoin, blockchain sendiri sebenarnya telah eksis sejak tahun 2008. Hingga hari ini, penulis yakin bahwa di luar sana masih banyak orang yang mengganggap bahwa blockchain dan Bitcoin ini sama.

sliver.tv
via SLIVER.tv

Namun, supaya kita tidak ikut terjerumus mengikuti tren ketidaktahuan itu, mari kita telaah definisi ini. Istilah blockchain bisa dibagi menjadi block dan chain yang bisa dibayangkan seperti:

  • Block: ruang mencatat
  • Chain: rantai yang menghubungkan

Sedikit melenceng dari esports (karena harus menjelaskan konsep blockchain terlebih dahulu), block yang dimaksud sebelumnya bisa diumpamakan seperti manusia zaman dahulu yang mengukir di atas batu untuk mencatat semua informasi atau sejarah yang terjadi, maupun yang akan terjadi.

Kemudian kata chain berasal dari sistem koneksi internet “berantai” yang menghubungkan semua batu (re:block) tadi, dan memastikan agar isinya selalu sama.

Tempat penyimpanan block ini tidak hanya terbatas pada satu unit saja. Setiap orang yang memiliki komputer dengan storage berkapasitas besar juga bisa mempunyai block mereka sendiri, dan dengan koneksi internet mereka maka isi block ini akan selalu sama dengan block yang ada di komputer orang lain. Dan yang paling penting, semua orang bebas untuk melihat isi dalam block ini.

Konsep utama blockchain ini didesain untuk membangun rasa kepercayaan besar bagi penggunanya. Hal inilah yang menjadi fitur utama mengapa aplikasi atau platform berbasis blockchain terus dikembangkan, sebab siapapun bisa melihat sejarah mengalirnya suatu informasi atau transaksi sehingga tidak ada data yang bisa disembunyikan dari semua pemegang block yang terhubung.

Supaya tulisan ini tidak terlalu jauh dari esports (once and for all), mari kita simak contoh implementasi blockchain dalam skenario pembelian mobil.

  • Bila kita membeli mobil baru dengan sistem cicilan, maka riwayat angsuran uang ini hanya akan dicatat oleh sang penjual mobil; dan kita (selaku pembeli) hanya akan menerima kwitansi cicilan yang diberikan oleh si penjual. Hal ini menunjukkan bahwa informasi transaksi ini hanya dimiliki oleh 2 orang tersebut: pembeli dan penjual.
  • Penipuan bisa terjadi bila terjadi manipulasi dari salah satu pihak, misalnya penjual menerbitkan sebuah kwitansi cicilan palsu. Hal ini tentu sudah sulit dikontrol bila ada pihak yang berniat jahat.
  • Sebaliknya, bila data cicilan mobil tadi disimpan menggunakan teknologi blockchain, maka setiap orang yang punya komputer akan turut menyimpan data pembayaran dari setiap kwitansi cicilan.
  • Barangsiapa yang ingin mengubah data transaksi tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan akses penyimpanan yang ada di komputer yang tersebar di dunia, dan mengganti setiap salinan kwitansi cicilan yang sudah terkirim ke orang-orang di berbagai negara.

Kata “chain” dari blockchain adalah bagaikan sebuah rantai ajaib yang memastikan bahwa apapun yang tertulis pada setiap block, akan selalu bernilai sama dengan block lain.

Nah, itu dia dasar dari blockchain. Selanjutnya, sebelum memasuki dunia esports, kita masih harus memasuki apa itu cryptocurrency.

Apa itu cryptocurrency?

Berasal dari gabungan kata crypto dan currency, crypto berasal dari cryptography atau kriptografi yang berarti cara merahasiakan informasi. Sederhananya, ini adalah uang digital.

Pergerakan uang digital ini tentu dilindungi dengan teknik kriptografi, dan riwayat transaksinya dicatat dengan teknologi blockchain agar pergerakannya terlindungi dari proses manipulasi.

INCNT token
via bitcoinexchangeguide.com

Catatan dari semua transaksi yang sudah terjadi itu terbuka bagi siapapun yang ingin melihatnya, berbeda dengan sistem bank tradisional yang merahasiakan nilai uang yang disimpan oleh penggunanya apalagi sejarah transaksinya.

Sekarang ini kebanyakan cryptocurrency menamakan uang mereka dengan coin atau token.


Setelah selesai mengikuti perkuliahan blockchain, saatnya kita kembali ke pembahasan bagaimana para developer bisa mengimplementasikan blockchain di esports.

Skema insentif

Skema ini memberikan hadiah yang berbasis pada partisipasi, misalnya peserta bisa mendapatkan hadiah token bila mendaftar pada suatu platform ataupun menonton streaming dari platform tersebut.

Sebagai contoh, pada tahun 2018 cryptocurrency bernama Incent bekerja sama dengan Gfinity Australia untuk membuat INCNT token, Token ini dibagikan kepada mereka yang menonton turnamen dari situs resmi mereka.

Tencent Games juga bekerja sama dengan SLIVER.tv agar para streamer bisa mendapatkan Theta token ketika memainkan Ring of Elysium. Token ini nantinya bisa dipakai untuk membeli in-game item yang eksklusif.

Sederhananya, token digital yang diperoleh ini nantinya bisa dibawa ke sebuah marketplace untuk ditukar menjadi in-game item ataupun diubah menjadi sebuah kupon yang bisa kamu pakai di dunia nyata. Kamu juga bisa saling bertukar token dengan user lain, atau menguangkannya menjadi uang tradisional.

Gods Unchained

Konsep blockchain dalam esports ini hadir untuk menciptakan sebuah nilai baru dimana cryptocurrency ini tidak hanya dipakai di sebuah platform, tetapi multi-platform. Hal ini tentu memberi sebuah keuntungan bagi para penggunanya, khususnya dalam hubungan kerja sama antara token dengan brand.

Game Item Trading

Biasanya kalau kita ingin membeli sebuah in-game item dengan uang dunia nyata, transaksi ini hanya bisa dilakukan melalui beberapa platform atau auction house yang sudah ditetapkan oleh game publisher.

Pembentukan auction house ini perlu kerja sama dan kepercayaan besar dari game publisher karena mereka harus menjaga unsur keamanan dari sistem pertukaran barang, apalagi mereka juga harus memantau berapa banyak in-game item mereka yang sudah ditukar dengan uang dunia nyata.

Dengan mengimplementasikan blockchain, setiap in-game item akan bersifat unik (re: seperti memiliki nomor induk item) sehingga pergerakan barang ini menjadi trasparan bagi semua orang.

Setiap item, seperti senjata, kartu, skin atau karakter pemain dapat terlindungi dari teknik penipuan dan perubahan data ilegal lainnya, karena riwayat pertukaran barang tersebut dipantau bersama secara publik.

Unsur keterbukaan ini memberikan peluang bagi orang banyak yang ingin membuat auction house mereka sendiri, tanpa pengawasan ataupun campur tangan yang ketat dari pihak game publisher karena sistem ini bisa diawasi secara bersama.

Metode yang dipakai untuk mengatur pergerakan in-game item sedikit berbeda dengan metode yang dipakai di cryptocurrency. Untuk hal ini, ada sebuah konsep yang bernama non-fungible token atau NFT.

OPSkins.com

Berbeda dengan kasus uang digital yang mempunyai jumlah pecahan dan bisa dikirim dalam satuan yang kecil, sistem NFT menjaga nilai bulat (utuh) dari suatu in-game item. Contohnya bila kamu ingin menjual sebuah item seperti pedang yang bisa dipakai oleh character pemain, pedang ini hanya bisa dijual secara utuh.

Untuk tempat penjualan barang in-game, konon ada sebuah trading platform WAX yang berbasis blockchain, yang dibuat untuk bertukar weapon skin judul esports CS:GO, namun hal ini tidak berumur panjang karena diblokir oleh Valve.

Di sisi lain, ada juga platform trading OPSkins yang tidak memakai sistem blockchain dan tidak terikat hanya pada satu video game saja. OPSkins masih eksis sampai sekarang.

Keberadaan OPSkins dan WAX telah mendorong kepopuleran platform jual beli item digital berbasis blockchain. Sudah ada banyak tempat jual-beli yang menawarkan jasa untuk pertukaran item dari judul game yang berbeda, atau in-game item yang bisa ditukar dengan uang dunia nyata.

Kehadiran blockchain memberi sebuah nilai tambah agar ketika pemain melakukan migrasi game, mereka masih bisa membawa “modal” mereka berpindah ke game lain.

Game developer Fuel Games membuat digital card game mereka bernama Gods Unchained, dimana item dalam game ini sudah didesain sejak awal untuk diperjualbelikan berdasarkan Ethereum blockchain. Tidak hanya Gods Unchained, masih banyak lagi judul game lain yang dibuat berdasarkan Ethereum.

Crowdfunding

Saat ini, metode crowdfunding (penggalangan dana dari publik untuk suatu projek ataupun ide bisnis baru) yang biasa dipakai adalah melalui sebuah perantara situs terpercaya. Contohnya seperti Kickstarter, Indiegogo, RocketHub, GoFundMe, dan situs lainnya.

Globatalent

Permasalahan yang sering muncul ketika melakukan crowdfunding dengan jalur tradisonal adalah pada saat pembagian hasil investasi. Biasanya investor besar cenderung untuk mendapat perlakuan khusus dibandingkan investor kecil, seperti diundang ke suatu event khusus, hingga menghadirkan karakter mereka ke dalam game. Sementara itu, sulit rasanya bagi pihak pengelola untuk bisa menentukan berapa besar kontribusi dari si investor kecil.

Dengan menggunakan blockchain, setiap transaksi dari investor melalui crowdfunding, berapapun transaksinya, akan tetap tercatat dan memiliki pembagian yang teratur. Mereka yang melakukan crowdfunding akan langsung menyatakan cara mereka memberikan return of investment, baik itu berupa pembagian dividen, atau memberikan perlakukan khusus lainnya.

Globatalent adalah salah satu situs crowdfunding yang berfokus di pertandingan olahraga tradisional dan juga esports. Mereka menggunakan blockchain untuk mengatur pembagian dana mereka.

Sarana pembayaran yang terpercaya

Bila kita melakukan pembayaran secara konvensional, perpindahan dana dari satu pihak ke pihak yang lain (seperti dari investor ke anggota tim) harus melewati banyak proses pindah tangan, apalagi bila transaksi tersebut dilakukan antar bank yang berbeda negara.

Belum lagi, dana yang dikirim masih harus diolah terutama dalam menentukan pembagian jumlah uang agar masing-masing mendapatkan jatah yang sesuai.

Jangan lupa juga bila kamu memiliki sejumlah investor kecil yang tersebar di seluruh penjuru dunia, dan harus dikirim ke pertandingan internasional yang lokasinya berpindah pindah.

Apakah sudah terbayangkan seberapa ribet ini semua? Bila dilakukan secara konvensional, banyak pihak yang harus turut terlibat, seperti notaris, manajer, pihak perbankan, dan pihak-pihak regulator lainnya. Hal ini jelas memakan waktu.

Firstblood.io

Untuk menghindari masalah di atas, kita bisa menggunakan fitur smart contract dari blockchain. “Kontrak pintar” ini bersifat terbuka, bisa diawasi oleh semua pihak, dan dieksekusi secara otomatis bila ketentuan di dalamnya terpenuhi.

FirstBlood.io dan ChallengeMe.GG adalah platform turnamen yang menggunakan blockchain untuk mengontrol pembayaran agar para pesertanya merasa nyaman mengetahui bahwa hadiah turnamen akan segera didistribusikan secara cepat dan akurat.

Critical Mass

Setelah semua poin di atas sukses diterapkan, masih ada lagi tantangan yang harus dihadapi secara kemanusiaan. Apakah orang-orang percaya dengan teknologi ini?

Tanpa jumlah pengguna beserta penggunaannya yang rutin, maka daya keberlangsungan terobosan blockchain ini pun menjadi terancam.

Ada syarat minimum pengguna yang harus bisa dicapai agar biaya operasional bisa tertutupi tanpa perlu mengandalkan suntikan dana tambahan lagi dari investor. Nilai jumlah user ini disebut sebagai critical mass.

Di saat blockchain mampu memberikan transparansi dan efisiensi yang lebih baik daripada sistem konvensional, para pengguna platform harus teredukasi akan manfaat atau nilai yang didapat dari menggunakan platform blockchain ini, terutama pada konversi token.

Sejauh ini sudah ada banyak token berbasis blockchain yang muncul dan menghilang. Faktor penyebabnya biasanya karena mereka tidak berhasil mendapatkan critical mass atau jumlah pengguna di awal untuk melanjutkan bisnis mereka. Banyak juga yang penggunanya justru “dibajak” oleh kompetitor mereka.

ChallengeMe.GG 
via ChallengeMe.GG

Dari semua platform token esports yang sudah ada, mereka semua memiliki persamaan dalam ideologi:

  • Menghubungkan langsung penonton dengan pemain,
  • Memberikan token yang bisa dipakai untuk berbagai game. Ideologi ini tidak bisa dicapai tanpa ada hubungan kerja sama dari game developer yang membuat integrasi internal ini, dan memberikan sebagian besar kontrolnya kepada komunitas pengguna token.

Langkah besar ini termasuh langkah yang paling ditakutkan para game developer, karena pada saat pembuatan dan sebelum diluncurkan game tersebut para developer harus menyerahkan masa depan titel game mereka kepada komunitas gamer yang belum terbentuk.

Salah satu strategi pengelola platform blockchain adalah agar berbagi hasil dari keuntungan penggunaan token, dengan harapan bila sukses bekerja sama dan pihak game developer senang, maka ke depannya mereka bisa berkolaborasi dengan skala yang lebih besar.

Penutup

Pada akhirnya, blockchain ini adalah salah satu gelombang besar yang akan membawa perubahan signifikan untuk industri esports, mengingat keamanan sistemnya yang bekerja dengan skala internasional.

Saat ini dampak dari teknologi ini masih sangat kecil dan masih tahap percobaan. Walaupun banyak platform berbasis blockchain yang bermunculan, tetapi banyak juga yang tidak bertahan lama.

Akankah blockchain mampu meyakinkan para pihak pengembang game untuk menggunakan teknologi ini? Mari kita tunggu perkembangannya lagi di masa yang akan datang.


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)