Fortnite: Battle Royale – Sejarah (Bagian 1)

0
89
Fortnite: Battle Royale – Sejarah (Bagian 1)

Tepat pada tanggal 25 Juli kemarin, Fornite telah berumur 2 tahun sejak bulan pertama peluncuran Fortnite: Save The World. Tidak ada yang menyangka potensi dari game ini.

Ketika membaca ulasan awal, game ini gagal memuaskan para pengkritik dari segi mode permainan utamanya yang tidak begitu mengesankan. Akan tetapi, mekanismenya, terutama pada sistem build-and-loot, destructibility, dan shooter, justru mendapat pujian.

Salah satu keunggulan Fortnite adalah komitmen dari pengembangnya. Selama beberapa minggu setelah perilisannya; Epic Games, sang pengembang, rutin menyajikan berbagai update dan juga mode baru kepada para pemainnya.

Ada sebuah opini dari alam online yang mengatakan bahwa Epic Games menambahkan mode Battle Royale ke Fortnite karena game aslinya sedang sekarat.

Sesungguhnya, melihat ke belakang, Fortnite: Battle Royale awalnya diluncurkan sebagai fitur beta untuk para pemain Save The World. Mode ini tersedia enam minggu setelah tanggal peluncuran early access yang asli. Peluncuran mode free-to-play berlangsung dua minggu kemudian pada tanggal 26 September 2017.

Pernah terpikir bahwa kita memiliki sebuah game bergenre battle royale free-to-play dengan ragam warna-warni dan cocok dimainkan untuk anak-anak? Juga tersedia di semua platform?

Awalnya gambaran tersebut tidak begitu realistis, tetapi Epic Games-lah yang membuatnya tampak begitu jelas sekarang.

Dua minggu setelah Fortnite: Battle Royale dibuka untuk umum, Epic Games mengumumkan bahwa permainan ini telah memiliki lebih dari 10 juta pemain. Pada 6 November berikutnya, hitungannya sudah mencapai 20 juta pemain.

Efek bola salju ini menyebabkan pertumbuhan yang cepat, dan hanya dalam beberapa bulan kemudian, para orang besar di dunia sudah bergaul dengan pemain Fortnite paling populer di luar sana. Fenomena ini pun melahirkan sebuah kebudayaan baru.

Judul battle royale terbesar saat itu, PLAYERUNKNOWN’s BATTLEGROUNDS (PUBG), tergolong lambat untuk memberikan update dan juga peningkatan yang signifikan sepanjang tahun sebelumnya.

Mobile Esports Tiba di PUBG dan Fortnite: Sudah Tahu Bedanya? | Grafis: yang realistis atau yang kasual?

Hal ini membuka pintu bagi pesaingnya untuk menarik perhatian penggemar dari genre yang sama. Ini adalah ciri khas Fortnite yang menunjukkan bahwa iterasi dan evolusi yang cepat membuatnya tetap terhubung dengan para pemain.

Baca juga:  Siapa yang Bertanggung Jawab atas Rasisme di Esports?

Di samping keunggulannya, berbagai macam badai juga hadir di luar permainan, dengan kontroversi dan tuntutan hukum yang membuat Epic harus meraih setiap kemajuannya langkah demi langkah, musim demi musim, dan pertempuran demi pertempuran.

Season Satu dan Dua: Fondasi Permainan

Musim pertama yang diluncurkan pada tanggal 25 Oktober 2017, hanya menggambarkan tentang hal-hal dasar. Di musim ini diperkenalkan konsep pengembangan yang akan menentukan format musiman untuk Fortnite, tetapi hanya dengan satu ikon dan satu glider.

Event “Fortnitemares” berlangsung selama musim ini dan juga menampilkan Pumpkin Rocket Launcher dalam permainan yang kelak menjadi sebuah materi viral bagi para pemainnya dan juga content creator untuk menunjukkan rocket riding.

Penasaran dengan rocket riding dalam Fortnite? Silakan cek video di bawah.

Setelah musim pertama yang singkat, musim kedua diluncurkan pada 14 Desember 2017, dan membawa Battle Pass. Bersamaan dengan skin dan glider, musim kedua juga menambahkan emotes ke permainan, dan tarian yang akan menjadi ciri khas permainan.

Di saat Fortnite memiliki pertumbuhan jumlah pemain yang besar dan cepat, di bulan Januari 2018, Bluehole beserta anak perusahaannya, PUBG Corporation, mengajukan gugatan terhadap Epic Games atas dasar pelanggaran hak cipta.

Kasus ini memakan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan, dan berakhir dengan Bluehole menutup kasus ini pada akhir Juni 2018, tanpa rincian apakah penyelesaian telah tercapai atau tidak.

Season Tiga: Kedatangan Drake

Musim ketiga, diluncurkan pada 22 Februari 2018, membawakan penambahan tantangan mingguan ke dalam permainan. Ini memberi motivasi baru kepada pemilik Battle Pass untuk bermain secara rutin dan menjelajahi pulau, yang membawanya keluar dari inti permainan, untuk fokus menjadi last man standing.

Fitur kosmetik terus tumbuh di musim ini dengan penambahan contrails untuk menambahkan sensasi bermain ketika pemain jatuh dari langit.

via Gaming Editorial

Di luar penyeimbangan mekanisme permainan, musim ini adalah musim ketika Fortnite beralih menuju mainstream pop-culture. Pada 15 Maret 2018, superstar Fortnite yang naik dengan cepat, Tyler ‘Ninja’ Blevins, bekerja sama dengan Drake dan memecahkan rekor Twitch untuk metrik jumlah penonton.

Baca juga:  Melirik Kesuksesan Game Battle Royale

Pada bulan April, Blevins mendapatkan lebih dari 5 juta pengikut di Twitch. Di bulan yang sama, Fortnite: Battle Royale diluncurkan untuk iPhone dan iPad. Hal ini dengan cepat menambahkan jutaan pemain baru ke komunitas game.

Season 3 adalah akhir dari sebuah permulaan. Fortnite sekarang sedang mendefinisikan dirinya.

Dunia sudah mulai memperhatikan, mereka yang skeptis terus bertanya seberapa lama Fortnite bisa bertahan, dan pertanyaan “apakah selebriti Twitch bisa mengukir jalan menuju esports?” pun mulai bermunculan.

Epic memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut di Season 4, yang mengawali bagian kedua perjalanan Fortnite sejauh ini.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here