Yang Perlu Diperhatikan untuk Menjaga Kesehatan Mental Atlet Esports

0
31
Kesehatan Mental Atlet Esports
Credit: Tarun Savvy via Unsplash

Kesehatan mental atlet esports profesional jarang dibahas oleh media. Padahal, seorang atlet esports profesional juga memiliki beban mental yang berat. Banyak orang yang tidak tahu bahwa menjadi seorang atlet esports bukanlah hal mudah seperti yang dibayangkan banyak orang.

Menjadi atlet esports profesional adalah sebuah impian bagi gamer. Bagaimana tidak? Pemain esports dibayar untuk bermain game yang mereka gemari setiap hari dan bertanding di hadapan ribuan orang dan menjadi terkenal.

Walapun sekilas terlihat menyenangkan, tetap saja ada pengorbanan yang harus para pemain esports lakukan supaya mereka layak disebut seorang profesional.

Berikut ini kita akan membahas mengenai beban mental apa saja yang harus dihadapi jika ingin menjadi seorang pemain esports profesional.

Beban Mental Atlet Esports

Ketika seorang atlet esports profesonal sedang meniti karir mereka pasti ada saja masalah yang harus dihadapi. Salah satunya adalah masalah kesehatan mental seperti berikut ini:

Stres dan burnout

Stres dan burnout menjadi masalah kesehatan mental yang pertama bagi seorang atlet esports profesional. Bermain game merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi seorang gamer. Tetapi, jika bermain game dilakukan secara terus-menerus tentu saja akan mencapai titik jenuh.

Walaupun aktivitas tersebut sangat menyenangkan mungkin akan bertahan selama beberapa bulan. Tetapi, jika dilakukan selama bertahun-tahun akan membuat atlet esports merasa bosan. Hal ini yang sangat dikhawatikan karena dapat menyebabkan atlet esports tersebut kehilangan motivasi bermain.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh University of Chicheste, didapati bahwa para atlet esports tetap menghadapi tantangan mental yang sama dengan atlet olahraga tradisional. Sehingga, jangan mengira jika menjadi atlet esports adalah pekerjaan yang mudah karena hanya duduk manis di depan layar untuk bertanding.

Sedangkan menurut Yohannes Paraloan Siagian, mantan Vice President EVOS Esports pernah mengatakan kalau beban mental para atlet esports justru lebih berat jika dibandingkan dengan atlet olahraga biasanya.

Hal ini didasari karena atlet olahraga tradisional biasa hanya dituntut untuk memberikan performa terbaik dalam satu turnamen olahraga. Sedangkan, seorang atlet esports harus mengikuti beberapa turnamen atau liga dalam satu tahun. Ini membuktikan jika mereka harus memberikan performa terbaik lebih dari satu kali.

Selain itu, mereka juga harus menjaga supaya performanya tetap stabil selama waktu yang lebih lama dari atlet olahraga tradisional. Hal ini tentu saja menjadikan kondisi psikis seorang atlet esports mengalami stres yang tinggi.

Siap menerima berbagai pujian dan hinaan dari masyarakat

Seperti yang sudah kita tahu, toxicity netizen Indonesia sudah menjadi rahasia umum. Saat ini merupakan zamannya media sosial yang semua informasi dapat diakses dengan mudah melalui internet.

Tentu saja hal ini menambah beban baru baru untuk pemain esports karena jalur komunikasi publik yang begitu cepat dan tidak dapat difilter.

Sebuah dilema tercipta dari kemajuan teknologi telekomunikasi ini. Ketika seorang atlet esports berhasil memenangkan pertandingan ia akan lebih cepat menerima semua pujian ke akun media sosial mereka.

Tetapi, jika atlet esports tersebut kalah maka mereka dapat dengan cepat menerima semua hinaan, kata-kata kasar, dan sebagainya.

Seorang atlet esports harus bisa menerima perkataan seperti apa yang dapat memotivasi mereka agar bermain dengan lebih baik. Jangan jadikan hinaan membuat atlet esports merasa bersalah yang berlarut-larut sehingga dapat mempengaruhi performa mereka selanjutnya.

Kontrak dengan tim profesional

Selain tuntutan untuk bermain dengan maksimal terdapat hal lain yang dapat menambah beban mental bagi pemain esports yaitu kontrak dengan tim profesional. Saat ini di Indonesia, kebanyakan kontrak antara pemain profesional dengan tim lebih sering berpihak pada tim.

Para pemain dapat dilepas atau dinonaktifkan kapan saja, terutama ketika para atlet ini sedang mendaki tangga karirnya. Hal ini jelas menjadi ancaman bagi atlet esports mengingat mereka bisa saja tidak dapat bermain lagi hanya karena satu atau dua performa yang dinilai buruk. Juga ditambah dengan kondisi regulasi esports yang masih cukup hijau tanpa campur tangan pemerintah dalam meregulasinya.

Most Effective Tactics Available (META)

Hal terakhir yang menjadi beban mental bagi seorang atlet esports profesional adalah masalah adaptasi Most Effective Tactics Available (META). Berbeda dengan permainan olahraga tradisional lainnya, perubahan META di esports sangatlah cepat.

Contoh kasus nyata adalah pada teknologi Video Assistant Referees (VAR) pada permainan sepak bola. Hal tersebut akan dibahas selama beberapa tahun baru dites dan setelah lulus tes baru dapat diimplementasikan langsung ke pemain sepak bola.

Contoh lainnya lagi seperti perubahan taktik pada tim basket yang dapat dilihat melalui video dan terpantau melalui scouting dan observasi. Kedua contoh kasus tersebut menjadi perbandingan jika perubahan META di game-game esports tidak hanya cepat tetapi juga sering.

Ketika seorang developer game membuat update atau patching, biasanya akan ada karakter yang di-buff atau di-nerf. Selain hal ini, tidak menutup kemungkinan ada mekanisme game yang juga berubah.

Contohnya ketika update Outlanders yang dirilis untuk DOTA 2. Pembaharuan ini sangat mengejutkan dan menuntut para pemain esports untuk harus selalu up to date dan cepat beradaptasi pada semua perubahan yang terjadi.

Karena di esports perubahan kecil saja dalam satu aspek dapat mempengaruhi seluruh META secara drastis.

Tuntutan seperti harus selalu up to date ini menjadi beban besar yang tidak boleh disepelekan. Semua hal ini digabung dengan kenyataan bahwa atlet esports tidak punya hari libur yang memberikan tekanan mental lebih tinggi jika dibandingkan dengan olahraga tradisional lainnya.


Demikian informasi mengenai beban mental yang sering dihadapi oleh pemain esports profesional. Semoga dengan informasi ini membuat kita sadar untuk lebih peka terhadap kesehatan mental.

Bila kamu atau anggota keluargamu ada yang mengalami hal serupa, kamu bisa mulai menghubungi psikiater dan mempelajari berapa biayanya, seperti yang ada di BetterHelp untuk memulainya.