Kiat Pengendalian Emosi Atlet Esports

0
21
emosi atlet esports
Credit: Mark Decile via Unsplash
Ad

Kesehatan mental untuk atlet esports profesional sepertinya menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Bekerja sesuai passion merupakan hal yang sangat menyenangkan. Seperti gamer yang ingin menjadi atlet esports sebagai pekerjaan mereka.

Tetapi, setelah coba turun ke lapangan baru Anda menyadari bahwa menjadi seorang atlet esports profesional bukanlah hal mudah. Mereka harus mengorbankan banyak sekali waktu dan uang untuk bisa menjadi seorang atlet esports profesional.

Belum lagi ditambah dengan berbagai tuntutan yang harus membuat performa mereka selalu baik. Hal ini jika ditempa secara terus menerus tentu dapat menyebabkan kesehatan mental atlet esports terganggu.

Pentingnya Mengendalikan Emosi bagi Atlet Esports

Seorang psikolog esports, Mia Stellberg yang pernah bekerja untuk Astralis di tim Counter-Strike: Global Offensive (CSGO) terbaik dunia, mengatakan jika secara keseluruhan menjadi atlet esports profesional mempunyai beban kerja yang lebih berat jika dibandingkan dengan atlet olahraga tradisional lainnya.

Atlet esports memiliki banyak tanggung jawab yang tidak terlihat oleh masyarakat awam. Ketika bekerja di Astralis, Stellberg bertugas untuk mengetahui kondisi para atlet esports dan membantu mereka untuk menjadi lebih baik lagi dan salah satunya adalah mengendalikan emosi.

Jika Anda sering bermain game kompetitif pasti familiar dengan istilah “rage quit”. Tetapi sangat disayangkan karena pemain esports tidak mungkin melakukan hal tersebut ketika sedang bertanding.

Seseorang biasanya merasa frustasi jika dia melakukan kesalahan atau bahkan kalah. Selain itu, musuh yang ikut mengolok-olok mereka juga dapat membuat mental atlet esports semakin down. Jika tidak dikendalikan maka rasa frustasi tersebut dapat membuat seorang atlet esports membuat lebih banyak kesalahan.

Membuat kesalahan dan merasa frustasi akan mengakibatkan lebih banyak kesalahan lainnya dan rasa frustasi tersebut akan semakin meningkat seperti masuk ke dalam lingkaran setan.

Peran para psikolog di momen itu adalah mencoba untuk mengajarkan para atlet esports untuk tetap berpikir secara rasional dan tetap tenang walau mereka melakukan kesalahan. Dengan demikian mereka tetap dapat fokus ketika bermain dan kembali memberikan performa yang baik.

Cara Mengendalikan Emosi ala Atlet Esports

Tips untuk tetap dapat memberikan performa terbaik walau sebelumnya sempat melakukan kesalahan adalah dengan tetap tenang dan berpikir jernih. Hindari stres karena dapat mempengaruhi koordinasi mata, tangan dan reaction time Anda.

Lalu, rasa percaya diri Anda juga dipengaruhi oleh performa Anda. Jika Anda merasa tidak percaya diri dapat lebih mudah merasa stres. Tetap fokus pada permainan yang tengah berjalan dan tidak usah memikirkan hal lain seperti lawan saat bertanding.

Manfaat Mengendalikan Emosi untuk Atlet Esports

Kemampuan mengendalikan emosi yang baik sangat penting bagi atlet esports profesional ketika mereka sedang bertanding. Bahkan hal ini juga bisa dilatih jauh-jauh hari sebelum mereka bertanding.

Mengendalikan emosi tidak hanya menjadikan seorang atlet esports profesional minim melakukan kesalahan, tetapi juga dapat membuat mereka memperoleh posisi unggul. Ketika atlet esports merasa bahwa mereka pasti akan menang maka mereka akan lebih santai dalam bermain.

Tetapi jika tidak hati-hati hal ini dapat membuat rasa percaya diri berlebihan dan justru malah menjadi bumerang. Rasa percaya diri berlebih pada pemain esports dapat menjadi penghambat tim mereka untuk meraih kemenangan.

Kejadian yang Bisa Mengganggu Kestabilan Emosi

Berdasarkan pengalaman yang sering terjadi di lapangan, pemain dapat merasa tidak percaya diri jika lawannya dianggap lebih populer dan lebih jago dibandingkan dirinya sendiri. Lalu di sisi lain, para atlet esports juga dapat merasa tertekan karena mereka harus memuaskan para fans.

Selain itu, mental pemain esports juga diuji jika mereka tidak kunjung meraih tujuan seperti contohnya memenangkan suatu turnamen. Tidak semua orang bisa dengan kuat menerima kegagalan di fase yang sama selama berturut-turut.

Ketika di awal mungkin mereka akan tetap semangat, tetapi setelah tiga atau empat kali mengalami gagal secara terus-menerus justru membuat mereka mulai meragukan diri sendiri. Mereka akan tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri dan ketika bermain akan memberikan tekanan tersendiri.

Sebaliknya, jika sudah pernah ke luar negeri untuk mewakili Indonesia dan secara tiba-tiba diminta untuk mewakili Indonesia lagi, mereka akan merasakan pressure yang sangat tinggi. Karena bukan hal yang mudah bagi atlet esports ketika mereka bermain untuk mewakilkan daerah tertentu.

Mereka pasti tidak ingin membawa buruk nama daerah tersebut dengan kekalahan. Hal ini jika tidak dikendalikan akan membuat psikis pemain esports terganggu bahkan mengalami gangguan tidur.

Selain itu, bagi pemain esports profesional untuk tingkat internasional, mereka harus sering bepergian ke luar negeri untuk bertanding. Sehingga mereka tetap harus memberikan performa terbaik walaupun mengalami jetlag.

Bermain game memang menyenangkan, tetapi ketika Anda sudah menyandang gelar sebagai pemain esports profesional, bermain game tidak hanya hiburan melainkan sebuah profesi.

Terdapat banyak sekali tuntutan yang harus dipenuhi. Seorang pemain esports juga harus menghabiskan waktu untuk memainkan sebuah peran hingga mahir sampai mereka layak disebut profesional.


Sekarang Anda sudah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang pemain esports profesional. Walaupun pemain esports terlihat hanya duduk di depan layar dan bermain tetapi siapa sangka jika mereka juga sedang menghadapi berbagai masalah yang tidak terlihat seperti tekanan mental.

Mengendalikan emosi, stres, dan tekanan mental memang sudah menjadi tanggung jawab para atlet esports profesional. Tetapi, sebagai orang terdekat bahkan penggemar mereka tidak ada salahnya memberikan dukungan terbaik terhadap mereka.

Bila kamu mengenal atlet esports yang merasa kesulitan untuk mengendalikan emosinya, kamu bisa mulai dengan menghubungi layanan psikiater seperti BetterHelp untuk mendapatkan penanganan yang baik.