Melihat Kesuksesan Fortnite: Battle Royale (Bagian 4)

0
204
Melihat Kesuksesan Fortnite: Battle Royale (Bagian 4)

Melanjuti bagian 1, 2, dan 3; di saat Fortnite World Cup terus mendapatkan sorotan akan hadiahnya yang besar, Epic Games lagi-lagi terus berinovasi menghadirkan berbagai macam item dan senjata untuk terus membuat para pemainnya penasaran akan perubahan yang dibawakan oleh Epic.

Season 8: Sebuah Big Bang

Sudah cukup banyak perubahan yang terjadi di dalam game selama beberapa bulan terakhir. Di musim ini, Epic membawakan sebuah tema baru dengan munculnya bajak laut, ninja, serta gunung berapi raksasa untuk kembali mengguncang para pemainnya.

Season 8 mendatangkan sebuah ventilasi udara yang jika pemain meloncat ke sana, layaknya trampolin, akan menerbangkan pemain ke udara dan meluncur ke lokasi baru. Selain itu, juga dihadirkan sebuah kendaraan baru yang unik, yaitu Baller, sebuah bola transparan yang bisa dikemudikan dari dalam. Kejutan lanjutan lainnya dari Epic akan perlahan-lahan menampakkan dirinya.

Baller Fortnite

Di tahun 2019 ini juga, sang CEO dari Epic Games, Tim Sweeney, mengumumkan bahwa Fortnite telah melewati 250 juta pemain!

Pada bulan Maret 2019, gugatan hukum terhadap aset tarian dalam game mulai ditarik, dan para penggugat mulai mendaftarkan hak ciptanya untuk mulai melindungi diri mereka. Namun, pada bulan April, gugatan baru lainnya kembali muncul dengan tema yang sama.

Di saat tuntutan hukum sebelumnya dianggap sulit untuk dimenangkan karena tarian memiliki sejarah hukum yang tidak dicakup dalam undang-undang hak cipta; kali ini muncul kasus baru yang menyorot emote ‘manusia saksofon’. Emote ini menampilkan karakter yang memainkan saksofon saat melakukan tarian. Berbeda dengan kasus sebelumnya yang fokus pada isu copyright, kasus kali ini diperhadapkan dengan likeness rights.

Bulan April juga merupakan awal dari proses kualifikasi Fortnite World Cup, dengan sepuluh minggu turnamen daring di mode solo dan duo untuk mengamankan tempat di New York memperebutkan hadiah hadiah 30 juta dolar Amerika pada akhir Juli.

Setiap turnamen mingguannya juga menyediakan hadiah senilai 1 juta dolar untuk diperebutkan. Hal ini tentu mendapat banyak perhatian dari tim pro dan juga streamer.

Namun, momen anti-klimaks yang membawa kekecewaan juga terjadi pada Fortnite World Cup. Streamer kondang seperti Turner ‘Tfue’ Tenney, yang lolos ke tahap final lebih awal ternyata tidak memberi performa yang cukup untuk menghibur para penggemarnya.

Pada bulan Mei, bersamaan dengan kemunculan film Avengers:Endgame yang telah lama dinanti-nantikan publik, Fortnite pun turut merayakannya. Tidak hanya menampilkan Thanos dan Infinity Gauntlet, tetapi juga berbagai peralatan yang bertema Avengers.

Di akhir bulan April, muncul keluhan pada penundaan pemberian hadiah esports oleh Epic Games. Pihak Epic mengatakan bahwa ada kesalahan dalam detil informasi bank yang dibuat oleh pemain, namun mereka menerima bahwa sistem mereka seharusnya dapat ditingkatkan menjadi lebih efektif.

Pada 1 Mei, Epic Games berhasil mengakuisisi Psyonix, pengembang Rocket League. Rocket League adalah sebuah judul esports yang kecil namun populer dengan ciri khasnya sebagai “sepak bola mobil”. Banyak pihak yang menganggap bahwa akuisisi ini adalah sebuah peluang bagi Fortnite untuk mengembangkan dirinya sebagai esports yang serius.

Season 9: Menuju Masa Depan

Di pergantian musim ini, para pemain dibawa menuju sebuah lingkungan baru yang futuristik. Perubahan besar pun sudah tidak terelakkan di banyak area peta, juga muncul fitur-fitur baru seperti terowongan angin untuk perjalanan cepat.

Hubungan kerja sama komersil antara Fortnite dengan pihak ketiga juga terus meningkat. Sebut saja film John Wick dan brand Nike Jordan.

Pada saat yang sama, gugatan besar datang dari salah satu streamer Fortnite terbesar, Turner ‘Tfue’ Tenney, dan timnya FaZe Clan. Tenney mengatakan bahwa kontraknya yang ditandatangani pada bulan April 2018 itu “sangat menindas, membebani, dan berat sebelah.” Fortnite World Cup memiliki resiko yang tinggi seandainya Tenney keluar dari acara tersebut.

Melihat dari pengalaman sebelumnya dimana Fortnite telah mengubah banyak status quo dalam dunia esports, gugatan ini tampaknya akan mengubah cara kerja kesepakatan antara streamer dengan organisasi esports.

Setelah mengakuisisi Psyonix, Epic masih bersemangat untuk mengakuisisi perusahaan lain. Pada bulan Juni, Epic membeli aplikasi video sosial Houseparty. CEO Epic, Tim Sweeney mengatakan bahwa dengan bersama Houseparty, mereka akan menyajikan sebuah pengalaman yang bisa dibagikan dan lebih menyenangkan.

Fortnite Pro-Am kembali hadir di E3 2019

Meski Pro-Am 2019 ini memiliki skala produksi yang lebih besar dari tahun lalu, statistik audiens menunjukkan bahwa minat penggemar tidak sebesar ajang yang pertama. Jadwal yang berbenturan dengan babak kualifikasi World Cup juga mengecewakan beberapa pro streamer.

Di luar ajang Pro-Am, event dalam game terus meningkat ke skala besar dengan monster raksasa yang merobek dirinya sendiri dari daerah Polar Peaks, serta pembangunan robot raksasa di lokasi bekas gunung berapi.

Menghitung mundur sebelum World Cup, ada sebuah pemandangan spektakular yang memperlihatkan pertarungan raksasa antara robot dan monster.

Fortnite Mecha vs Monster

Dengan berlangsungnya World Cup, turnamen ini menandai masa kesuksesan Fortnite selama 2 tahun menggeluti industri esports. Namun, di saat Epic menyediakan hadiah terbesar dalam sejarah esports, beberapa retakan pada ‘kesuksesan’ ini mulai muncul.

Jumlah audiens dari streaming terus didominasi oleh streamer besar, dan juga streaming dari World Cup tidak mendapatkan cukup perhatian.

Pada kuartal kedua tahun 2019, siaran di Twitch mengalami penurunan pertamanya dalam jumlah penonton. Riot Games kembali menduduki puncak tangga dengan League of Legends-nya bersamaan dengan kedatangan game barunya yang bergenre auto-battler: Teamfight Tactics.

Acara World Cup Fortnite jauh lebih penting mengingat ajang ini mengapresiasi komitmen dari para pemain elitnya dalam permainan ini.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer; Sumber gambar: Epic Games)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here