Peran Orang Tua Mendampingi Gamer Cilik

0
628
Peran Orang Tua dalam Mendukung Perkembangan Anak di Industri Esports (Sumber gambar: Family Zone)
(Sumber gambar: Family Zone)

Euforia esports sebagai olahraga elektronik yang semakin berkembang tampaknya tidak pandang bulu terhadap demografi usia peminatnya. Anak di bawah umur yang harusnya duduk diam di rumah sambil membaca buku, kini tampak lebih asyik bertarung di dunia maya dengan para petarung yang mungkin tidak seumuran dengan mereka.

Saat ini, jumlah peminat esports terbilang lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah peminat olahraga tradisional. Hipotesis ini saya dapatkan melalui observasi saya mengunjungi beberapa warnet yang isinya sebagian besar adalah anak-anak, dan juga ketika saya pergi ke salah satu lapangan di kota saya tinggal. Faktanya, olahraga tradisional lebih banyak diminati oleh kaum usia lanjut.

Apakah esports berbahaya?

Lazim rasanya ketika pertanyaan di atas dilontarkan, jawaban yang akan kita terima adalah “Ya, esports berbahaya”. Stigma bahwa bermain game online berbahaya terutama jika dikaitkan dengan dampak yang akan dirasakan oleh para orang tua yang anaknya adalah seorang fighter esports, memang masih menjadi perbincangan hangat.

Kekhawatiran para orang tua ditujukan kepada kesehatan anak khususnya, juga pada pola pikir anak-anak mereka pada umumnya. Seorang gamer akan menghabiskan waktunya berjam-jam untuk duduk di depan layar komputer atau pun gadget yang mereka miliki.

Atmosfer gaming di Korea Selatan via Wikipedia
Atmosfer gaming di Korea Selatan via Wikipedia

Tentulah hal ini bisa memicu kerusakan pada mata akibat terlalu sering dan terlalu lama menatap komputer. Juga dengan duduk berjam-jam akan memicu kerusakan tulang belakang mereka yang mungkin akan berujung pada penggumpalan darah bahkan sampai pada tingkat kelumpuhan atau yang lebih fatal tingkat kematian.

Kedua hal ini (setelah saya melakukan survei ke beberapa orang tua) adalah hal yang paling dianggap berbahaya, yang menjadi tolak ukur utama beberapa orang tua yang melarang anaknya bermain game.

Sebut saja Pak Poniran yang saya jumpai di warnet ketika saya hendak menuliskan opini saya ini. Beliau tampak memarahi anaknya yang terlihat sudah sangat terbiasa untuk menerima amarah dari ayahnya.

Beliau menuturkan bahwa anaknya akhir-akhir ini sering mengeluh tentang pandangannya yang mulai tidak jelas. Beliau juga menyebutkan beberapa kali anak tersebut meminta agar ibunya memijat punggungnya sebelum tidur.

Baca juga:  Apakah Kita Butuh Kompetisi Esports Khusus Perempuan?

Menurutnya, ini adalah dampak dari seringnya anak tersebut menghabiskan waktu hingga 10 jam di warnet hanya untuk bermain game. Kasus serupa juga dibenarkan dengan adanya kasus penggumpalan darah yang menyebabkan kematian oleh salah seorang gamer asal Inggris bernama Chris Staniforth, yang kemudian diketahui memiliki kebiasaan untuk bermain game selama 12 jam sehari.

Kasus lainnya juga mendera pemuda asal New Zealand yang harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami penggumpalan pembuluh darah di kakinya akibat bermain game selama 4 hari tanpa jeda.

Kekhawatiran Pak Poniran tidak hanya sampai di sana. Beliau juga mencemaskan pola pikir anaknya yang berubah. Anak tersebut bahkan pernah ketahuan mengambil uang ayahnya hanya karena ia dihukum tidak diberi uang jajan dengan maksud agar anak tersebut tidak pergi untuk bermain game.

Bahkan ketika dimarahi, anak tersebut malah mengancam akan kabur dari rumah jika ayahnya tak kunjung memberinya uang jajan. Hal ini juga dibenarkan oleh orang tua saya sendiri, saat menceritakan kilas balik kekhilafan adik saya yang saat itu juga fighter di dunia esports, khususnya DotA.

Benar, bahwa beberapa hal yang saya sebutkan di atas adalah penyebab stigma buruk para orang tua tentang dampak yang ditimbulkan dari esports ini. Lalu, bagaimana dengan orang tua yang anaknya sudah lama berkarir di dunia esports bahkan sampai mendapatkan keuntungan yang fantastis?

Stereotype Orang Tua yang Seharusnya

Sifat game yang bisa membuat para pemainnya kecanduan hingga lupa dirilah yang membuat banyak orang tua menilai game hanya berdampak negatif. Orang tua cenderung bersikap antipati ketika mengetahui anaknya adalah seorang gamer.

Sikap orang tua yang cenderung memarahi anaknya tanpa pernah mendengar penjelasan mengapa anak suka bermain game atau bahkan hal apa yang membuatnya candu bermain game, menjadi penyebab utama ketidakharmonisan hubungan antara seorang gamer kecil (yang kerap menjadi tempat curahan amarah orang tuanya) dengan orang tuanya. Para orang tua langsung berpikir hal terburuk yang akan diakibatkan oleh game tanpa pernah sedikitpun memandang bahwa game juga memberikan dampak positif bagi perkembangan anak.

Baca juga:  Apakah Esports Adalah Olahraga?

Psikolog Ayoe Sutomo turut mengemukakan pendapatnya mengenai seorang anak yang bercita-cita menjadi pro gamer. Menurutnya, cita-cita menjadi gamer bukanlah suatu masalah, terlebih sekarang ini, industri gaming menjadi salah satu industri yang sangat menjanjikan. Beliau juga menyarankan kepada para orang tua, agar mengambil langkah yang benar, bukan langsung menjadi seorang yang antipati ketika mendengar anaknya yang bercita-cita menjadi seorang pro gamer.

Cara terbaik yang dapat dilakukan orang tua ketika mengetahui ini adalah dengan mengajak anak untuk menceritakan tentang game yang ia mainkan ataupun tentang teman, lawan, serta kompetisi yang ingin ia ikuti. Setelah itu, orang tua dapat lebih mengarahkan anak-anaknya.

Dengan membentuk hubungan komunikasi ini, sirkulasi informasi yang bersifat kekeluargaan pun akan terbentuk, sehingga orang tua memiliki kesempatan untuk mengoreksi pemahaman anaknya. Anak pun akan memiliki tingkat penerimaan nasihat yang lebih baik karena orang tua telah terlebih dahulu mendengarkan pendapat anak, yang akan membuat anak merasa nyaman, dihargai dan dimengerti.

Orang tua juga dapat menanamkan pemahaman bahwa sebagian besar game membutuhkan konsistensi dan strategi yang diperoleh dengan keseriusan dan ketekunan dalam berlatih.

Terapkan pula jam-jam agar mereka bisa mengeksplorasi bakat mereka dalam menciptakan strategi demi strategi untuk memenangkan pertandingan. Di saat yang bersamaan, orang tua juga harus memperhatikan aspek fisik, sosial dan kognitifnya agar kegiatan ini tidak memberikan dampak negatif bagi anak-anaknya.

Selain itu, anak juga butuh pendampingan orang tua untuk membentuk mental yang baik. Misalnya, ketika kalah bermain game, anak biasanya melontarkan amarahnya dengan menggebrak keyboard, gebrak meja atau bahkan melontarkan kata-kata kasar. Orang tua dapat mengajarkan cara pengendalian diri pada saat itu.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sikap keterbukaan orang tua dalam menerima anaknya yang berkeinginan untuk menjadi seorang gamer memberikan kesempatan bagi orang tua untuk dapat melindungi sang anak yang ingin mencoba berkarir dalam industri esports.

Previous articleMengenal eGG Network, Stasiun Televisi Esports 24 Jam di Dunia
Next articleBerkenalan dengan FIFA Community Bali
Ria Restika
Seorang mahasiswi jurusan bahasa dan sastra Inggris yang menyukai travelling tapi uang limited. Bercita-cita untuk membersihkan jerawat dengan perawatan yang seminim- minimnya. Tergabung dalam organisasi kampus yang cukup fenomenal di lingkungan kampus, pernah menjadi Mawapres kedua di tingkat UNIMED, Namun, tidak banyak yang mengakuinya. Ya udah gitu aja.