Perjalanan Wu ‘Dido’ Jingjing dari Host Esports Hingga Menjadi Mentor Esports

0
63
Wu 'Dido
Credit: Ren Yijun/Wu Jingjing

Pernah mendengar nama Wu ‘Dido’ Jingjing? Jangan berkecil hati kalau kamu belum pernah mengenal sosok inspiratif esports asal Tiongkok satu ini, sebab di tulisan ini, kami akan memperkenalkan Jingjing kepada kamu!

Ia termasuk salah satu figur yang turut mendukung kemajuan esports dari berbagai sisi, salah satunya adalah pendidikan. Wu Jingjing kini juga menjabat sebagai CEO Dido Esports.

Ia mengawali perjalanan karirnya sebagai Brand Manager untuk Tencent Games dari 2011-2017, sebelum menjadi host esports bergengsi yang sudah memiliki banyak portofolio bekerja sama dengan brand besar seperti: Colgate, Philips, Pepsi, Boy London, Intel, dan Samsung.

Sepanjang karirnya di esports, Wu “Dido” Jingjing mencapai puncaknya saat menjadi host atau pembawa acara di World Cyber Games (WCG) 2009 di Chengdu, juga di Grand Final Fall Season King Pro League (KPL) 2017, PUBG China Pro Invitational (PCPI) 2018, dan Grand Final China Qualifier Fortnite World Cup pada bulan Juli 2019.

“Di tahap awal perkembangan industri esports Tiongkok, saya hanyalah salah satu dari pemain esports minoritas yang benar-benar bisa mencari uang melalui hal ini,” kata Jingjing kepada The Esports Observer. “Itu karena saya adalah pembawa acara perempuan esports Tiongkok pertama yang bekerja sama dengan brand internasional.”

Awal Karir Wu “Dido” Jingjing di Industri Esports

Pepsi China's Professional Esports League; Credit: Wu Jingjing
Jingjing di Pepsi China’s Professional Esports League; Credit: Wu Jingjing

Jingjing memulai karirnya pada tahun 2006, bergabung dengan perusahaan Tiongkok, PLU, sebagai pembawa acara esports dan shoutcaster untuk Starcraft Brood War dan Warcraft III.

Setelah 2 tahun, ia bergabung dengan perusahaan esports asal Shanghai, Gamefy, bekerja sama dengan Zhang “BBC” Hongsheng sebagai hosting partner dari tahun 2008 hingga 2010. Hongsheng sekarang adalah salah satu perusahaan pendiri ImbaTV yang dikenal dengan gim Auto Chess-nya.

“Masa itu adalah saat-saat pahit tapi juga saat-saat menyenangkan buatku,” katanya. “Banyak orang tidak mengerti mengapa kami menghabiskan waktu untuk membantu orang-orang merasakan sensasi menonton permainan, tanpa mencari pekerjaan normal. Kami juga tidak tahu jawabannya, tetapi kami begitu bersemangat akan esports ini. ”

Dalam rentang 2006-2010, Jingjing sudah menjadi salah satu wajah esports paling populer di Tiongkok. Dia menjadi pembawa acara eksklusif untuk acara-acara Blizzard Entertainment di Tiongkok, termasuk ChinaJoy.

Pada tahun 2006, Jingjing menandatangani kontrak dengan Philips sebagai model yang dikontrak. Pada 2008, ia mendukung liga esports profesional Pepsi di Tiongkok, bersama Li “Sky” Xiaofeng, pemain WarCraft III yang legendaris, yang sekarang menjadi CEO perusahaan perangkat keras Taidu dan anggota dewan dari WE Team. Selain itu, ia juga dinobatkan sebagai pembawa acara resmi untuk WCG 2009 Chengdu, acara Grand Final WCG pertama di Tiongkok.

“WCG 2009 adalah sebuah titik pencapaian dalam karir saya,” kata Jingjing, “WCG adalah turnamen esports paling bergengsi di dunia pada waktu itu, dan banyak penggemar esports yang menjadi mengenal saya setelah acara ini.”

Kemudian ia mulai bekerja sama dengan sejumlah brand, termasuk Intel, Razer, SteelSeries, Giga Byte, dan Asus. Selain itu, Jingjing juga membuat iklan untuk brand Colgate, yang disiarkan di kanal-kanal utama Tiongkok.

Bagaimana Wu “Dido” Jingjing bisa bekerja sama dengan banyak brand?

Jingjing di Fortnite World Cup China Final 2019; Credit: Wu Jingjing
Jingjing di Fortnite World Cup China Final 2019; Credit: Wu Jingjing

Jingjing mengatakan bahwa semua ini berasal dari kesukaannya akan esports, sambil diiringi dengan kerja keras, dan riset. “Untuk setiap turnamen atau brand, saya memiliki study plan saya sendiri.

Saya perlu mengetahui tidak hanya game-nya, tetapi juga latar belakang dari brand tersebut, dan juga umpan balik dari penggunanya yang sudah ada.

Saya akan mencari sebuah hal untuk dijadikan sebagai kejutan yang eksklusif, menunjukkan kepada audiens nilai brand tersebut, dan membuat brand tersebut semakin terhubung dengan penggunanya.

Seorang pembawa acara yang baik akan selalu rendah hati,” tambahnya. “Setiap langkah yang kamu lakukan bukan hanya tentang brand sponsor atau turnamen tersebut, tetapi juga branding dari si pembawa acara itu sendiri. Ini adalah bentuk profesionalisme saya.”

Wu “Dido” Jingjing Bergabung dengan Tencent

Langkah pertama Jingjing yang mengubah hidupnya adalah saat ia bergabung dengan game publisher Tencent di tahun 2011 sebagai Brand Manager yang bertanggung jawab atas semua hubungan kemitraan antara brand dengan industri game, musik dan film.

“Itu adalah keputusan sulit bagi saya untuk memilih pekerjaan ‘di balik layar’, alih-alih melanjutkan karir gaming

Advertisement
saya,” katanya. “Banyak orang terkejut dengan keputusan saya, dan mereka percaya bahwa ‘Jingjing adalah pembawa acara yang sukses dan saya harus terus menekuninya.’

Fakta itu benar tetapi juga tidak. Saya merasa saya perlu tahu mengapa ada turnamen esports, dan bagaimana cara memberikan nilai lebih kepada penonton esports, daripada hanya menjadi ‘cewek’ di atas panggung.”

Jingjing membawa acara World Cyber Games 2009 Chengdu; Credit: Wu Jingjing
Jingjing membawa acara World Cyber Games 2009 Chengdu; Credit: Wu Jingjing

Di tahun 2011 hingga 2017, Jingjing menghabiskan 6 tahunnya dengan game publisher terbesar di Tiongkok untuk pelatihan dan belajar. Kadang-kadang, ia masih sempat mengikuti beberapa pertunjukan paruh waktu untuk acara Tencent, seperti perayaan 3 tahun League of Legends.

Setelah bergabung dengan Tencent, ia memperlambat karirnya sebagai pembawa acara, dan menghabiskan energinya untuk memikirkan hal-hal berharga bagi industri esports. Pengalaman ‘di balik layar’ ini juga membantunya untuk berpikir secara kreatif dan kewirausahaan.

Jingjing merangkum 4 poin yang ia pelajari dalam karirnya di Tencent:

  1. Nilai keunggulan dalam bersaing itu penting, dan harus berdasarkan pada sumber data;
  2. Kerja tim lebih baik daripada kerja individu;
  3. Produk yang bagus membutuhkan kesabaran;
  4. Temukan jalur utama untuk mencapai tujuan, dan percaya diri dalam mencapainya.

Berdirinya Dido Studio

Pada tahun 2018, Jingjing meninggalkan Tencent dan memulai bisnisnya sendiri dengan mendirikan esports talent agency bernama Dido Studio. Dia membantu banyak siswa-siswa muda dan penggemar bergabung dengan industri esports dalam berbagai peran.

Studio tersebut menggandeng para shoutcaster dari event organizer Fighting Esports Group (FEG) untuk mendidik dan melatih para cikal bakal shoutcaster untuk tampil di ajang esports seperti Korean King Pro League (KRKPL).

Pada bulan April 2019, Jingjing secara resmi memisahkan timnya dari FEG dan berganti nama menjadi Dido Esports, berfokus pada program pendidikan esports di Tiongkok.

“Namun, beberapa orang tetap tidak mengerti mengapa saya meninggalkan Tencent untuk memulai bisnis sendiri, dan bahkan mengatakan bahwa saya tidak cocok untuk berwirausaha,” canda Jingjing.

“Sepanjang 13 tahun karir esports saya, saya selalu ingin menambahkan banyak variasi dalam industri ini. Saya merasa saya perlu ilmu dan pelatihan, sehingga saya bergabung dengan perusahaan besar [Tencent] untuk belajar. Saya meninggalkan Tencent karena saya percaya tim saya dapat menciptakan nilai yang lebih di bidang pendidikan esports.”

Hingga hari ini, Dido Esports telah menandatangani kesepakatan kemitraan resmi dengan universitas-universitas di Tiongkok, seperti Zhejiang Communication University di Hangzhou, Shanghai University of Sport, dan Central Academy of Fine Arts di Beijing, untuk menyediakan kursus esports, pengajar, dan kriteria penilaian untuk para murid.

Selain itu, Dido Esports juga bekerja sama dengan para tournament organizer dan tim esports untuk menawarkan lowongan pekerjaan dan layanan pasca-pelatihan. Mantan perusahaannya, Tencent, telah menjadi salah satu klien utama bisnisnya.

“Saya masih sering menjadi pembawa acara esports, baru-baru ini untuk turnamen PUBG, Honor of Kings, dan Fortnite. Akan tetapi, saya tidak melakukannya untuk mendapatkan uang, saya melakukannya untuk murid saya untuk memberikan contoh yang baik — untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana menjadi pembawa acara esports yang seharusnya,” kata Jingjing.

Dido Esports
Credit: Dido Esports

Bahkan saat ini, orang-orang masih memberi kritik bahwa industri esports adalah industri yang didominasi oleh laki-laki, baik itu dalam hal pemain profesional, maupun kemampuan. Jingjing pun turut bersuara menyikapi hal ini.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa perempuan memiliki kerugian yang besar dibandingkan dengan laki-laki di industri esports. Saya tidak bisa mengubah skenario yang didominasi laki-laki ini, tetapi saya bisa memanfaatkannya sebagai keuntungan saya.

Sebenarnya, saya selalu paham salah satu kelebihan saya adalah kecantikan saya. Itulah yang pertama kali menarik minat audiens esports pria dan juga brand. Tapi, selama saya benar-benar menyukai esports, dan saya bersedia melakukan lebih banyak riset tentang esports seperti mereka [audiens laki-laki], pada akhirnya mereka akan menyukai kamu atas kemampuan kamu, bukan lagi hanya penampilan kamu.”

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)