Berbakat hingga Coaching Pro Players, Yuk, Kopek Dennis Dengan Pengalaman Coaching-nya!

0
254
Berbakat hingga Coaching Pro Players, Yuk, Kopek Dennis Dengan Pengalaman Coaching-nya!

Dalam sebuah komunitas maupun tim esports, selalu ada sosok yang berperan dalam memajukan strategi ataupun memberikan tips dan trik dalam suatu turnamen, yaitu seorang coach.

Dennis Adrian, atau yang dikenal dengan handle Sorin/Cohias, seorang mantan perwakilan Overwatch World Cup 2016 untuk tim Indonesia, adalah seorang ex-coach untuk judul esports Overwatch.

Belakangan, meskipun sudah tidak lagi melakukan coaching, kini Dennis masih bermain Dota 2 dan Path of Exile secara kasual. Sebelumnya, Dennis pernah menjabat sebagai seorang coach dari beberapa tim, serta coach individual untuk para pemain Indonesia.

Awal mula terjun ke dunia coaching

Berawal dari seorang teman yang membangun tim baru, pria dengan role model Kuro “KuroKy” Salehi Takhasomi ini diberi kepercayaan untuk melatih tim yang dibentuk oleh teman bermainnya.

Overwatch World Cup Team Indonesia 2016
Overwatch World Cup Team Indonesia 2016

Kala itu, Dennis menjabat sebagai moderator tim di SEA Inhouse League atau SIL, sebuah liga atau guild inhouse yang dibuat dan ditujukan bagi para pemain Dota di regional Asia Tenggara dan memiliki fokus pada gaming kompetitif.

Berhubung teman Dennis di SIL saat itu sedang mempersiapkan tim untuk diberangkatkan ke turnamen di Singapura, Dennis dimintai tolong untuk melakukan coaching selama 2-3 minggu sebelum keberangkatan.

Tidak disangka, coaching pertama ini justru menjadi awal penyambung perjalanan coaching Dennis.

Pengalaman coaching tim maupun individu

Bermula dari menjadi relawan coach tim bentukan seorang teman, Dennis mendapatkan koneksi yang lebih luas. Tidak berhenti di situ saja, banyak pengalaman coaching lainnya yang telah dijalani Dennis.

Sekitar tahun 2005, Dennis pernah menge-coach Dota 2 untuk tim Singapura. Kemudian pada awal tahun 2017, disusul dengan coaching tim NXA-Ladies untuk divisi Overwatch. Juga berlanjut ke coaching tim FF Gaming untuk divisi yang sama.

Overwatch
Credit: Blizzard

Lama waktu yang digunakan untuk melatih tim-tim tersebut, berdurasi sekitar 3 sampai 4 bulan.

Bagi Dennis, menjadi seorang coach dapat dikatakan susah-susah gampang. Jika yang di-coach awalnya sudah dibekali dengan mechanical skill dan pemahaman yang cukup baik tentang game tersebut maka modal bermain sudah ada dan sisanya adalah untuk mengomunikasikan dan mengadaptasikan ilmu yang dimiliki ke para players.

Bagian sulitnya adalah mengenali perbedaan dinamika gameplay dari setiap tim. Misalnya, pemain Dota 2 dari Rusia biasanya memiliki gaya bermain yang lebih eksklusif dan agresif, sedangkan tim Eropa lebih metodikal dan situasional.

Baca juga:  Scarlett, Sosok Atlet Esports Perempuan Berprestasi di StarCraft II

Hal serupa dapat ditemukan di tim manapun dalam game apapun, sehingga seorang coach harus mampu mengenali playstyle yang cocok untuk sebuah tim, bagaimana menambal kekurangan dan menggunakan kelebihan yang ada dengan sebaik-baiknya.

Apa saja yang dilakukan dalam coaching

Setiap tim yang memiliki coach biasanya membentuk sebuah pemahaman yang sama dalam menyusun strategi mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Strategi tersebut nantinya diimplementasikan melalui penjadwalan latihan dan scrim (practise match), analisa replay, analisa play by play, dan tentunya analisa meta.

Hero pick via wwg.com
Dota 2 via wwg.com

Menurutnya, menjadi seorang coach tidaklah mudah, diperlukan pemikiran yang analitis, penyabar, memiliki pengetahuan luas di bidang yang akan ditangani, mengetahui kemampuan dan kelemahan tiap player dalam tim, serta mampu berkomunikasi dengan efektif dan konsisten dalam menyampaikan pesan pada anggota tim.

Selain itu, seorang coach juga harus mampu menangani aspek meta game agar player dapat lebih fokus dalam mengembangkan mechanical skills. Sebagai contoh, jika menonton turnamen The International Dota 2, penonton dapat melihat saat fase draft, pemain umumnya berdiskusi dengan coach dan bahkan kursi kapten tim bisa diduduki sementara oleh coach.

Tidak jarang seorang coach diharapkan dapat menjadi ketua dalam sebuah turnamen, ataupun latihan bersama. Baginya, hal tersebut bisa-bisa saja terjadi dalam sebuah proses coaching antara pelatih dengan player.

Namun hasil yang diberikan kemungkinan besar tidak optimal karena seorang coach akan menyampaikan sudut pandang atau perspektif yang tentu saja sulit dipahami oleh seorang player.

Contoh yang dapat diberikan Dennis, saat melakukan analisa replay; seorang kapten juga ikut bermain dalam game tersebut; dan ketika melihat replay game yang dimainkan, seringkali para pemain terlalu fokus terhadap apa yang dirasakan saat bermain live, sehingga masalah-masalah dalam macro play (pergerakan kedua tim secara live) seringkali terlewatkan oleh kapten tanpa melakukan analisa mendalam.

Suka duka yang dirasakan Dennis

Walau Dennis telah memutuskan bahwa coaching bukan merupakan pilihan karirnya, hal itu bukan menjadi alasan baginya untuk getol bermain. “I treat gaming as a fun, casual hobby”, sahutnya.

Baca juga:  Momentum Pertarungan di Overwatch

Baginya, sama seperti olahraga, seorang coach tidaklah harus jago bermain untuk menjadi coach yang sukses. Dennis selalu mensyukuri setiap pengalaman yang pernah ia tempuh selama berkecimpung di dunia esports.

Salah satu kejadian mengharukan di dalam hidupnya selama menjadi seorang coach adalah ketika melihat secara langsung perkembangan yang dirasakan oleh player yang di-coach-nya.

Hal yang dirasakan Dennis tersebut seperti orang tua yang terharu melihat anaknya sukses dan berprestasi.

Namun, di samping kebanggaannya akan para players yang berhasil Dennis kembangkan dan pemasukan yang cukup lumayan untuk standar Indonesia, ada banyak hal yang dikorbankan.

Bagi Dennis, menjadi seorang coach sungguh memakan waktu, karena kebanyakan aktivitas coaching dilakukan di malam hari. Mulai dari pukul 19.00 dan kadang berakhir pada pukul 23.00.

Belum lagi jadwal yang dimulai dari hari Senin dan berakhir pada hari Jumat. Tidak hanya itu, kadang Dennis juga harus mengorbankan waktu bermain miliknya. Alhasil, skill coaching pun perlahan menurun karena jarang bermain.

Dennis yang merupakan anggota dari komunitas Blizzgamers Indonesia juga mengatakan bahwa mencari coach untuk para pemain yang sesuai dengan bidang yang diinginkan sudah tidak lagi sulit. Bisa dari word of mouth (perantaraan teman/mulut ke mulut), forum gaming, dan marketplace seperti Gamer Sensei.

(Disunting oleh Satya Kevino)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here