Rekam Jejak Perkembangan Dota 2 di Esports

0
482
Dota 2 Pro Circuit Rekam Jejak Perkembangan Dota 2 di Esports
Credit: Valve

Salah satu judul pionir esports Dota 2 yang kini sudah menjadi konsumsi media mainstream publik, ternyata memiliki perkembangan yang cukup kompleks menurut sejarahnya.

Sepanjang perjalanan eksistensinya, judul Dota 2 telah melintasi perairan internasional, memiliki banyak tim kreatif yang berbeda, perubahan nama, dan bahkan dikembangkan oleh dua pengembang besar yang berbeda.

Jadi, bagaimana sejarah dari Dota 2? Tulisan di bawah ini akan menjawabnya dengan sepenuh hati.

Asal usul Dota 2 di esports

Dota, pada awalnya adalah sebutan singkat dari “Defense of the Ancients“, sebuah permainan modifikasi (mod/custom map) dari game populer Warcraft III yang dibuat oleh penggemarnya.

DotA Allstars (Credit: Blizzard)
DotA Allstars (Credit: Blizzard)

Mereka mengembangkan sebuah mode permainan baru dimana 2 tim yang masing-masing terdiri dari lima pemain saling berkompetisi untuk menguasai suatu area, mendesak pihak musuh, hingga akhirnya menghancurkan properti sakral suatu tim.

Konsep permainan tersebut semakin diterima, dan para penggemar pun banyak yang menjadi bagian dari pengembangan proyek Dota ini. Sementara itu, para pemain Dota, terutama di Asia, mulai menyelenggarakan turnamen-turnamen Dota yang benar-benar bebas dari pengaruh pihak  developer.

Dota memiliki reputasi yang cukup baik di tahun 2000-an.

Seiring dengan atmosfer kompetitif Dota yang perlahan-lahan berkembang, para fans pun terus mematangkan konsep permainan tersebut agar benar-benar kompetitif. DotA Allstars, yang dipercaya sebagai versi “resmi” dari mod tersebut pun akhirnya lahir.

Dari sana, kompetisi seputar DotA Allstars terus bermunculan terutama di Tiongkok, Asia Tenggara, dan Rusia. Para penyelenggara turnamen pihak ketiga dengan turnamen independennya, terus mengembangkan lingkungan kompetitif Dota.

Timeline DotA 2 (Credit: The Esports Observer)
Timeline DotA 2 (Credit: The Esports Observer)

Mod ini mempertahankan tingkat popularitasnya sepanjang tahun 2000-an dengan tetap menjadi satu-satunya genre Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) yang dimainkan secara luas. Sebutan MOBA bahkan belum pernah diciptakan di masa itu. Sungguh tidak heran jika Dota layak dikenal sebagai pionir MOBA.

Melihat potensi dan popularitas yang dimiliki Dota, para pesaing mulai bermunculan. Salah satu kreator paling berpengaruh dari DotA Allstars, Steve “Guinsoo” Feak, mulai bekerja untuk Riot Games dan membantu mengembangkan League of Legends, yang pertama kali dirilis pada tahun 2009.

Baca juga:  Dota 2 Guide: Bristleback Offlane Mode

Sementara DotA Allstars tetap populer di Timur, meningkatnya popularitas dari para pesaingnya menandakan diperlukan sesuatu yang besar untuk dapat terus bersaing. Di situlah Valve masuk.

Sejarah perkembangan Dota 2

Valve adalah brand besar di industri PC gaming. Perusahaan yang memiliki Steam, marketplace terbesar untuk video game PC. Valve juga mengembangkan berbagai iterasi Counter-Strike, yang sudah memantapkan dirinya sebagai “pemain” di ruang esports.

Dota 2 via DeviantArt (@kunkka)
Dota 2 via DeviantArt (@kunkka)

Namun pada tahun 2011, Valve melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia memutuskan untuk mengambil mod dari game yang dibuat oleh pengembang lain dan mendesain sekuelnya.

Setelah proses hukum dan negosiasi yang panjang dengan Blizzard, hasilnya adalah Dota 2, sebuah permainan yang cukup persis dengan versi mod pendahulunya, kecuali penamaan dan tampilan visual dari banyak karakter di dalamnya untuk menghilangkan referensi atau kesamaan dengan properti Blizzard.

Untuk lebih membangkitkan euforia rilisnya Dota 2, Valve memperkenalkannya melalui acara yang disebut dengan The International.

The International pertama diadakan di GamesCom di Berlin, dan menawarkan hadiah senilai $ 1,6 juta, hadiah turnamen esports terbesar yang pernah ada saat itu. Berita ini menarik beberapa nama besar di DotA Allstars, seperti tim asal Tiongkok EHOME, dan tim asal Ukraina Natus Vincere.

Turnamen ini turut menentukan lanskap perkembangan Dota 2, dan membuatnya menjadi role model untuk pertumbuhan esports yang tumbuh pesat.

Sekilas tentang Dota 2

Setelah lebih dari 15 tahun dalam pengembangan, Dota 2 telah disempurnakan berkali-kali. Akan tetapi inti permainan selalu sama. Seperti kebanyakan MOBA, Dota 2 adalah judul permainan kompetitif 5-vs-5 dengan tim yang saling bersaing untuk menghancurkan basis tim lawan.

Hero pick via wwg.com
Dota 2 via wwg.com

Permainan ini dimainkan hanya pada satu arena yang memiliki 2 sisi simetris, dengan sebuah tujuan dan monster-monster yang tersebar dimana-mana. Perubahan pada peta (arena) jarang terjadi. Sebagian besar aspek strategisnya berasal dari variasi cara bermain.

Di penyusunan strategi atau metode bermain, Dota 2 memiliki lebih dari 100 karakter yang bisa dimainkan. Dalam permainan, ada berbagai macam item yang semakin menambah kompleksitas permainan.

Baca juga:  5 Menit Lebih Dekat dengan Clinton "Fear" Loomis, Pemain Multi-Role dari Barat

Meskipun lapangan bermainnya jarang berubah, setiap kali ada 2 tim yang saling bertanding, sebuah permainan dengan sensasi yang baru pun muncul. Hal ini yang menyebabkan Dota 2 tetap populer.

Apa efek dari The International?

The International adalah sebuah momen penentuan yang bukan hanya untuk Dota, tetapi juga untuk esports secara keseluruhan. The International mendorong penyelenggara-penyelenggara turnamen esports lainnya untuk membuat turnamen terbaik untuk game mereka.

The International 2011 via Liquipedia
The International 2011 via Liquipedia

Tidak sampai iterasi ketiga, The International 2013, turnamen ini telah menemukan model akhirnya. Di tahun itu, Valve memperkenalkan Compendium, sebuah inisiatif crowdfunding dimana sebagian dari pembelian item game Dota 2 oleh penggemar akan langsung masuk sebagai hadiah turnamen The International.

Pada tahun pertama Compendium diperkenalkan, prizepool sudah mencapai $2,8 juta. Pada tahun 2014, meledak menjadi $10,9 juta, dan tidak berhenti di situ. Sebanyak $18,4 juta terkumpul pada tahun 2015; $20,7 juta pada tahun 2016; dan $24,7 juta pada tahun 2017. Dalam iterasi terbarunya, prizepool The International sudah mencapai $25,5 juta.

Prizepool fantastis ini menjadikan The International sebagai turnamen esports dengan hadiah terbesar di dunia. Lima turnamen The International terakhir menduduki posisi 5 teratas untuk hadiah turnamen esports terbesar, disusul oleh League of Legends World Championship 2016 di posisi 6, dengan hadiah $5 juta, setengah dari apa yang ditawarkan oleh The International 2014.

Apa kabar Dota 2 sekarang?

Ketika The International terus berkembang, turnamen Dota 2 yang lebih kecil terus berjuang untuk mengikutinya. Tanpa dukungan langsung dari Valve, acara yang lebih kecil tidak dapat memasang hadiah yang sebanding. Hal ini membuat sorotan besar selalu terletak pada acara tunggal yang diselenggarakan Valve setiap tahunnya.

Di tahun 2015, Valve kembali melakukan perubahan dengan memperkenalkan sistem Major. Daripada hanya mengadakan The International setiap tahun, pihak pengembang mulai bekerja sama dengan para koordinator acara pihak ketiga untuk membuat serangkaian acara yang lebih besar sepanjang tahun. Masing-masing acara memasang jumlah hadiah uang berupa tujuh digit angka.

Dota 2 via Valve
Gameplay Dota 2 via Valve

Di musim 2015-16, ada tiga turnamen Major selain The International. Pada 2016-17, angka tersebut turun menjadi dua.

Baca juga:  Siapa yang Bertanggung Jawab atas Rasisme di Esports?

Di musim 2017-18, ada lonjakan besar dalam hadiah uang yang tersedia untuk tim. Sembilan turnamen Major diselenggarakan pada tahun itu, masing-masing dengan hadiah $1 juta. Di tahun ini juga Valve memperkenalkan Dota Pro Circuit, yang berfungsi sebagai sistem kualifikasi untuk The International.

Di musim yang sama juga, 2017-18, turnamen Minor diperkenalkan. Serangkaian acara kecil yang didukung oleh Valve, menampilkan hadiah senilai $300K. Tahun itu, ada 13 acara Minor yang mengisinya.

Musim 2018-19, Valve mendesain ulang Dota Pro Circuit, mengadakan 5 turnamen Major dan 5 turnamen Minor sepanjang tahun. Tahun ini, turnamen Major dan Minor akan diadakan beriringan, dengan turnamen Minor yang berfungsi sebagai acara kualifikasi untuk turnamen Major.


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here