Bagaimana Fasilitas Pelatihan Bisa Meningkatkan Nilai Suatu Tim Esports

0
277
GameStop Performance Center (@TheGSPC) | Twitter
Credit: @TheGSPC | Twitter

Setiap jawara selalu membawa nilai baru bagi timnya. Hal ini yang menjawab mengapa dalam dunia olahraga tradisional, hampir setiap tim dipastikan mengikuti pelatihan dengan dibekali dokter dan ahli nutrisi yang akan membantu para pemain untuk melakukan yang terbaik.

Cara berpikir demikian telah merasuki dunia esports saat ini. Banyak tim papan atas telah mulai menciptakan fasilitas pelatihan yang didedikasikan khusus untuk para pemain.

Bukan sekedar latihan namun juga sebagai persiapan baik secara mental maupun fisik yang tentunya guna melakukan pencapaian yang maksimal.

Complexity Gaming

“Markas tim dan tiap pusat pelatihan saat ini tengah dituntut untuk mendorong dan mengesahkan kegiatan seperti ini ke depannya,” ungkap Cam Kelly, kepala bagian marketing untuk Complexity Gaming; sebuah tim esports berbasis di Frisco, Texas.

Complexity Gaming
Credit: Complexity Gaming

“Dari penilaian kami, pusat pelatihan ini adalah sebuah sentuhan akhir untuk mencapai visi jangka panjang meningkatkan kapasitas para pemain.”

Kini pemilik Dallas Cowboys dan CEO dari Crescent Real Estate Holdings, yakni John Goff, sudah memiliki saham mayoritas di Complexity.

Hal ini juga menandakan bahwa organisasi esports Amerika ini, sekarang memiliki akses terhadap fasilitas dan pakar-pakar hebat seperti yang biasa digunakan oleh tim sepak bola Amerika Dallas Cowboys.

Dengan tambahan investasi sedemikian rupa, Complexity ingin membawa aspek profesionalisme yang biasa ditemukan dalam mempersiapkan para atlet olahraga tradisional kepada tim esports-nya.

Di awal tahun ini, Complexity telah meluncurkan GameStop Performance Center, sebuah fasilitas untuk memberikan pelayanan dan teknologi yang dibutuhkan oleh setiap pemainnya untuk menghadapi berbagai macam tantangan sebelum menghadapi pertandingan yang sesungguhnya.

Akan tetapi, membangun sebuah infrastruktur pelatihan seperti GameStop Performance Center ataupun membawa pemain keluar dari markasnya untuk masuk ke suatu apartemen yang mewah, tentu membutuhkan biaya besar. Meski demikian, Kelly meyakini bahwa ini adalah hal yang berfaedah.

“Ada beberapa tim yang menghabiskan ribuan hingga jutaan dolar untuk menyewa rumah besar hanya untuk menghasilkan konten kepada audiensnya,” ucapnya. Ada juga manajemen esports yang menyewa beberapa rumah untuk tiap-tiap divisinya. Ini semua jelas berbiaya besar.

Baca juga:  Peran Orang Tua Mendampingi Gamer Cilik

“Sementara itu, saya memiliki biaya yang telah dipusatkan dan lebih mudah untuk memantau dan memeriksanya,” ujar Kelly.

Kelly mengakui bahwa semua pengeluaran yang dirasa “berlebihan” itu memang memberatkan, namun hal tersebut bisa terkompensasi melalui keuntungan jangka panjang yang dihasilkan dari pengadaan fasilitas ini.

Esports gaming house via South West Londoner
Credit: South West Londoner

“Akan lebih mahal jika biaya tersebut hanya dilihat dalam hitungan jangka pendek. Namun jika sebaliknya dengan perkiraan jangka panjang, saya sudah tidak lagi harus membiayai rumah tinggal, dan dana tersebut bisa saya gunakan untuk biaya lainnya.”

Pengeluaran-pengeluaran ini memiliki berbagai keuntungan di dalamnya, mulai dari meningkatan rasa persaudaraan antar pemain dalam tim, mengurangi hubungan toxic, serta meningkatkan kesehatan mental.

Kelly meyakini jika para pemain berada dalam sebuah gaming house yang hanya memilki sedikit aktivitas, para staf Complexity tak akan mampu memantau para pemain secara individu dengan ketat.

Sebagai contoh, jika ada seorang pemain yang sedang berhadapan dengan stres berulang, tinggal secara terpisah tidak bisa membuat para staf mengetahui hal ini dengan segera. Hal demikian bisa mempengaruhi performa pertandingan dan dapat pula mengakibatkan kekalahan tim.

“Saya cukup tertantang dengan hal ini, memusatkan ruang akan benar-benar memangkas biaya,” ucapnya.

Team Liquid & Dignitas

Di samping masalah biaya, juga terlihat bahwa brand ingin turut bergabung dengan pusat pelatihan ini. Sebuah brand komputer, yakni Alienware, telah bekerja sama dengan Team Liquid dalam fasilitasnya di Los Angeles.

Begitu juga Dignitas yang telah bekerja sama dengan Caffeine.tv untuk membentuk sebuah boot camp serta platform untuk membuat konten, bersamaan dengan pembuatan series seputar Rocket League dan tim esports wanita Counter Strike: Global Offensive (CS:GO).

Team Liquid memiliki persamaan dengan Complexity dalam mengambil langkah keluar dari gaming house.

“Kami berencana untuk membuka sebuah fasilitas pelatihan di Eropa yang akan menjadi markas bagi para tim yang belatih dan bertanding di Eropa,” ucap Mike Milanov selaku COO dari Team Liquid.

Layaknya Kelly, Milanov turut merasakan bahwa peningkatan biaya tersebut sungguh sepadan dengan hasil yang didapat. “Investor kami, aXiomatic, sangat bisa diandalkan dalam menyusun perencanaan ini.

Baca juga:  Mengupas Genre Fighting Game: Desain Umum dan Perkembangannya

Biayanya memang jauh lebih mahal dibandingkan model gaming house, namun ini sungguh layak bagi para staf dan pemain, serta bisa menarik minat brand,” ungkap Milanov.

Di sisi lain, tim Dignitas memiliki pusat pelatihannya sendiri dan boot camp yang dipisahkan dalam dua kota. Dikarenakan Dignitas dimiliki oleh 76ers, para pemainnya memperoleh evaluasi atas pelatihan dan kondisi kesehatannya yang dilakukan di Philadephia.

Sedangkan untuk fasilitas boot camp terbarunya di Newark, tim ini sedang berjuang untuk memperoleh lebih banyak hubungan kerja sama dengan brand. Saat ini mereka telah bekerja sama dengan pabrik kursi gaming, Raynor Gaming dan juga Mountain Dew Game Fuel.

Dignitas X Raynor Gaming
Credit: Dignitas

“Kami akan memperhatikan segala hal mulai dari perlengkapan meja maupun perabotan, monitor komputer, hingga hak untuk memberi nama fasilitas ini; kami akan mem-branding hal ini sambil menjalin hubungan kerja sama dengan pihak-pihak yang ada,” ucap Heather “sapphiRe” Garozzo, mantan pemain profesional Counter Strike: Global Offensive yang sekarang bertindak sebagai VP untuk bagian marketing.

Garozzo dan Dignitas juga mengejar brand umum yang bisa bekerja sama dengan infrastruktur boot camp-nya yang baru, seperti perusahan matras yang dapat mengiklankan bagaimana tidur yang berkualitas sungguh berpengaruh terhadap performa sepanjang pertandingan, atau brand dari industri kesehatan yang mengiklankan bagaimana kondisi tubuh yang bugar dapat memberikan pengaruh positif dalam permainan.

“Kondisi mental dan fisik adalah dua hal yang utama bagi tiap atlet baik dalam ranah olahraga tradisional maupun esports,” ungkap James Baker, direktur esports Dignitas.

Tidak berbeda dari Complexity, Dignitas mengharapkan meningkatnya perhatian pada kesehatan dan performa para pemain akan menghasilkan banyak kemenangan yang nantinya membawa banyak kesempatan untuk memiliki sponsorship.

“Saya pikir saat bekerja dengan tim penjualan dan presentasi kepada mitra bisnis, hal yang paling bergema adalah saat kami membicarakan mengenai sejarah kami yang cukup kaya,” ucap Garozzo.

Brand activation

Ketika berada dalam kesempatan branding, fasilitas pelatihan ini bertindak sebagai poin penting bagi para penggemar gaming untuk hadir. Saat ini, Dignitas mulai mengadakan event (menjadi tuan rumah) Super Smash Bros. di Newark.

Baca juga:  Di Balik Tirai Blizzard dan Heroes of the Storm

Dengan bergerak dari mengadakan satu acara setiap bulan, harapannya akan bergulir terus menjadi acara yang diadakan setiap minggu.

Super Smash Bros. Melee
Super Smash Bros. Melee Credit: Nintendo

Kami menyadari bahwa akhir-akhir ini saat berbincang dengan para mitra, kami tidak semata-mata hanya membicarakan mengenai peletakan logo saja. Kami rasa hanya memasangkan logo dalam siaran Twitch ataupun media sosial sudah tidak lagi efektif,” resah Garozzo.

“Pengaruh paling besar nan efektif akan lahir dari konten yang menarik. Konten dimana Anda dapat saling berinteraksi.”

Misalnya saja, selama kejuaraan dunia Rocket League bulan lalu yang berlangsung di Prudential Center, Dignitas bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, CDW, agar Jos “ViolentPanda” van Meurs bisa bermain dengan para penggemar.

Ratusan penggemar pun mengantri untuk mendapatkan kesempatan; dan inilah contoh brand activation yang dimaksud oleh Dignitas.

Fasilitas yang baru tentunya membawa kesempatan baru bagi tim untuk lebih dari hanya sekedar meningkatkan kemampuan pemain, namun juga untuk memperoleh kesepakatan bisnis. Namun, semakin banyak tim yang berupaya menyediakan fasilitas seperti ini, hal ini juga akan lebih marak digunakan oleh talent agency untuk mencari bakat.

Penutup

“Kondisi lingkungan kerja seorang pemain sangat penting… hal ini lebih penting dibandingkan bayaran yang lebih,” sebut Garozzo. “Nyatanya gaji tersebut tak akan membelikan timnya sebuah tempat yang nyaman untuk bertanding,”

Jika yang dikatakan Garozzo benar adanya, kegiatan dan fasilitas baru dapat digunakan sebagai posisi tawar untuk menarik para pemain dengan bakat yang hebat dalam esports. Jika demikian, maka fasilitas pelatihan ini bisa mendefinisikan kembali nilai-nilai yang dimiliki perusahaan.

Alienware Esports Training Facility

Kesimpulannya adalah dengan membedakan tempat pelatihan dari tempat tinggal, para atlet esports bisa lebih menyeimbangkan work-life balance, terutama untuk menjaga kesehatan mental mereka.


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here