Dimulai dari Bandung, Kini Gelud, Komunitas Fighting Game Hadir di Nusantara!   

1
164
Gelud Komunitas Fighting Game

Semarak pertumbuhan esports lagi-lagi tidak hanya terdengar dari kabar kemunculannya di SEA Games 2019 nanti. Pertumbuhan komunitas dari para penggiat esports pun tak henti-hentinya meramaikan atmosfer esports.

Esports yang tidak hanya terdiri dari genre MOBA dan FPS, pun sudah selayaknya memiliki eksposur yang seimbang antar tiap genrenya. Hal ini tentunya dikarenakan setiap genre memiliki karakteristik uniknya masing-masing yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Pada beberapa waktu yang lalu, Esportsnesia sudah membahas tentang potensi investasi esports di genre fighting game. Pada kesempatan kali ini tim Esportsnesia telah berhasil mewawancarai Maulana, salah satu perwakilan komunitas Gelud Fighting Game Enthusiasts, untuk turut membagikan pengalamannya berkomunitas esports.

Yuk, disimak kisah perjalanan Gelud!

Awal terbentuknya Gelud Fighting Game Enthusiasts

Tahun 2015 tercatat sebagai masa yang lesu untuk fighting game. Hal tersebut tercerminkan dari berkurangnya kegiatan-kegiatan serta antusiasme dari komunitas fighting game. Akses untuk memainkan genre ini pun semakin terbatas jika tidak memiliki konsol PS3 atau PS4.

Gelud di Bandung Japan Festival 2
Bandung Japan Festival 2

Beruntungnya, meskipun alam semesta seperti tidak berpihak pada mereka, masih ada sebuah harapan untuk mereka yang menggemari permainan bergenre fighting ini. Dengan adanya toko game Gameplay di mal BEC kota Bandung yang bisa digunakan tempat ”numpang bermain”, keramaian pun mulai terkumpul secara perlahan.

Keramaian tersebut pun mencapai sebuah titik puncak dimana tempat tersebut mulai susah mengakomodir kebutuhan orang banyak sekaligus. Migrasi mencari lapak baru menjadi hal yang tak terelakkan; dan keseruan tersebut pun akhirnya berpindah ke kos salah seorang anggota, Mahe.

Booth di CCM bersama Doki Doki Station dan D'fox Dojo
Booth di CCM bersama Doki Doki Station dan D’fox Dojo

Bergerak dari ”numpang bermain” Guilty Gear Xrd Sign, calon anggota komunitas Gelud pun saling mengenal satu sama lain dan menjadi akrab. Dari sanalah Maulana dan rekan akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas dengan tujuan untuk memperkenalkan lebih jauh lagi ke khalayak umum, perihal genre fighting game.

Tidak lama dari terbentuknya komunitas Fighting Game Enthusiasts (FGE) Bandung, mereka pun mendaftarkan diri untuk berpartisipasi di event Bandung Japan Festival, 2016.

Baca juga:  Melirik Peluang Investasi Esports di Genre Fighting Game

Hari ini, sandangan nama komunitas FGE Bandung sudah tidak lagi digunakan karena anggota-anggotanya banyak tersebar di Indonesia, sehingga sebuah identitas yang lebih representatif pun diperlukan. Tanpa basa-basi, langsung saja, Gelud Fighting Game Enthusiasts!

Tempat berbagi informasi

Bagi Gelud, informasi mengenai agenda kegiatan mereka sangat memerlukan sebuah sarana untuk penyebarannya. Untuk saat ini, sesama anggota yang tersebar di banyak daerah saling berkomunikasi melalui Discord dan juga melalui Facebook Page Gelud.

Diskusi panel di Road to Kaori Expo 2016
Diskusi panel di Road to Kaori Expo 2016

Tidak hanya informasi saja, teman-teman Komunitas Gelud FGE yang berada di Bandung kini sudah memiliki base camp yang sering dijadikan sebagai tempat pertemuan, yaitu Doki-Doki Station di Click Square Lantai 5, Jalan Veteran No 50, Bandung. (NB: Jangan malu-malu ya bila ingin turut bergabung di komunitas kece ini.)

Namun, tempat berlabuh (a.k.a. basecamp) tersebut masih belum tersedia bagi rekan-rekan Gelud yang berada di Jakarta. Kendati demikian, acara gathering pun harus dilakukan di lokasi-lokasi yang bergantian.

Kegiatan yang pernah dilakukan Fighting Game Enthusiasts Bandung

Bandung Japan Festival 2 yang dilaksanakan pada Januari 2016, berhasil mengundang Gelud untuk melakukan open booth. Pada booth tersebut, pengunjung memiliki kesempatan untuk mengenal komunitas penggemar fighting game, serta menikmati mabar (main bareng) ala fighting game, yang memiliki nuansa tersendiri, yakni bermain 1 lawan 1 sambil ditonton banyak orang.

Gelud dan Kegiatan free play di booth Bandung Japan Festival 2
Kegiatan free play di booth Bandung Japan Festival 2

Pada kegiatan Road To Kaori Expo 2016, Fighting Game Enthusiasts Bandung berpartisipasi dengan mengikuti panel diskusi di bulan Agustus 2016. Diskusi sambil memperkenalkan genre fighting game pun sukses mendapatkan rasa antusias peserta.

Diskusi panel di Road to Kaori Expo tentang game fighting
Diskusi panel di Road to Kaori Expo tentang game fighting

Di bulan September 2016, FGE Bandung kembali hadir di Toys & Games Republic Mark VI. Berpartisipasi dengan open booth dan mengadakan turnamen, komunitas FGEB kembali berhasil dalam gerakannya untuk menyebarkan semangat bermain fighting game melalui mabar dan juga tutoring session-nya.

Sesi tutor di booth di Toys & Games Republic Mark VI
Sesi tutor di booth di Toys & Games Republic Mark VI

Colony Collection Market adalah aksi open booth selanjutnya yang dilakukan oleh FGE Bandung. Bergerak dengan misi yang sama, strategi open booth sebagai kegiatan menjalin hubungan silaturahmi dan memperbesar lingkaran keluarga pun semakin terasa dengan Doki Doki Station dan D’fox Dojo.

Baca juga:  Berkenalan dengan Pionir Komunitas Esports di Cirebon, Komunitas AOV Cirebon
Gelud di Colony Collection Market - gathering game fighting
Gelud di Colony Collection Market – gathering game fighting

Memasuki tahun 2017, FGE Bandung kembali meramaikan suasana esports di Hotaru 6 ITB. Bermodalkan sebuah booth, komunitas ini berhasil mendokumentasikan momen bermain fighting game “para sultan”.

Gelud di Hotaru 6 ITB, Mei 2017
Hotaru 6 ITB, Mei 2017

Pada September 2018 lalu, komunitas ini kembali eksis di AFAPLAY @AFAID 2018. Open booth dan mengadakan turnamen sudah bukan hal pertama yang diadakan. Dibekali dengan pengalaman yang sudah banyak, rasa antusiasme dari para pengunjung pun terlihat luar biasa.

Semifinal Gulity Gear Xrd Rev 2 di AFAPLAY @AFAID 2018
Semifinal Gulity Gear Xrd Rev 2 di AFAPLAY @AFAID 2018

Perkembangan Gelud

Sampai saat ini, tidak terdapat hubungan yang terikat maupun resmi antara Gelud dengan komunitas lain, ataupun lembaga-lembaga lainnya. Namun dapat dipastikan, bahwa komunitas ini sudah mendapatkan jejaringan tidak hanya dari Bandung dan sekitarnya, namun juga sudah menjangkau Jakarta, seperti: D’fox Dojo, begitu juga dari Malang dengan adanya Cross Gathering.

Gelud di Toys & Games Republic Mark VI
Free play dan pendaftaran turnamen Gundam EXVS di booth FGEB bareng Doki Doki Station

Selain kekuatan jaringan, komunitas Fighting Game Enthusiasts ini juga memiliki segudang prestasi yang layak untuk dibanggakan. Sejauh ini, pencapaian terbesar yang pernah diraih pada skala internasional adalah dengan bisa membuka booth di AFAID2018 bareng D’fox Dojo.

Tantangan yang dihadapi

Dalam perkembangannya, tidak banyak gamer yang menyukai genre fighting. Kesulitan mengajak teman sekitar untuk bertanding sudah menjadi konsumsi sehari-hari Fighting Game Enthusiasts.

Di Hotaru 6 ITB, para sultan sedang free play di booth
Di Hotaru 6 ITB, para sultan sedang free play di booth

Wajar saja, fighting game memiliki genre yang berbeda. Tidak bisa juga menyalahkan game lainnya. Kemungkinan, penyuka fighting game tidak terlalu signifikan dikarenakan genre ini mempunyai entry barrier yang cukup tinggi.

Namun, usaha Fighting Game Enthusiasts tidak berhenti pada kurangnya minat gamers pada genre fighting. Beberapa solusi sudah dilakukan, seperti setiap kali membuka booth rekan komunitas pasti akan dengan senang hati untuk membantu para pemula dalam mencoba fighting game yang tentunya semua dimulai dari basic terlebih dahulu.

Pandangan Gelud terhadap dunia esports

Fighting Game Enthusiasts meyakini bahwa masih banyak masyarakat yang tentunya buta mengenai dunia esports yang nyatanya luas sekali. Hal tersebut didukung oleh reaksi dari setiap individu yang bertanya saat berada di open booth, terkait penghasilan yang mampu diberikan jika mampu focus dan memiliki karir yang baik di dunia esports, sama halnya seperti ESL, The International, EVO, dan banyak lainnya.

Baca juga:  Cerita Manis Vainglory Bekasi Community, Komunitas Esports Muda di Tanah Jawa

Begitu juga dengan perkembangan komunitas Fighting Game Enthusiasts, peran yang signifikan tentunya masih belum terlihat, baik dari masyarakat, maupun pemerintah daerah setempat dalam mendukung adanya kegiatan acara terkait esports, maupun fighting game.

Booth free play di AFAPLAY
Booth free play di AFAPLAY

Terkait dengan fokus berkarir di dunia esports, komunitas Fighting Game Enthusiasts mengatakan bahwa sudah menjamur anak muda di masa kini yang memulai karirnya di industri esports.

Bermain mobile game sudah bukan hal baru lagi di zaman now.  Rekan komunitas Fighting Game Enthusiasts juga mengatakan bahwa umur 17 tahun ke atas sudah dapat mempertanggungjawabkan pilihannya sendiri, seperti di komunitas fighting game internasional ada atlet esports fighting game NuckleDu yang sukses muda.

NuckleDu memenangkan Capcom Cup di usia 17 tahun. Kesuksesan akan tercapai jika menekuni pilihan yang diambil dan dikelilingi oleh teman-teman yang sudah paham di bidangnya. Ini juga yang menjadi salah satu alasan didirikannya komunitas ini, yaitu untuk saling mencari dan menemukan.

Penutup

Sebagai penutup, Maulana selaku bagian dari komunitas Gelud mendukung para anak muda zaman now untuk tidak takut mencoba berkarir di dunia esports. Walau sarana dan prasarana masih belum memadai, Maulana berharap bahwa anak-anak muda saat ini tidak mudah mundur, namun tetap mengejar apa yang diinginkan.

NuckleDu (kiri) di Evo 2016 via Wikipedia
NuckleDu (kiri) di Evo 2016 via Wikipedia

Komunitas–komunitas esports saat ini sudah mudah ditemukan. Bisa juga sambil menelusuri halaman profil komunitas Esportsnesia.  Tidak hanya genre fighting game, namun juga berbagai judul esports lainnya.

Masa depan esports tidaklah buram, mengingat pertumbuhannya yang pesat. Dengan meyakini dan berlatih, Maulana yakin karir esports yang ditekuni akan mengalir berkat.

Maulana juga berpesan tidak lupa untuk selalu menambah wawasan, sekalipun melalui esports. Misalnya, melalui game FPS (first person shooter), bisa menambah pengetahuan dengan mempelajari lebih tentang dunia persenjataan, serta sejarahnya, dan tidak menutup kemungkinan bahwa kelak pengetahuan tersebut bisa berkontribusi untuk mendukung karirnya sebagai seorang diplomat atau ahli sejarah.

(Disunting oleh Satya Kevino)