Industri Esports Jepang: Raksasa yang Tertidur

0
427
Raksasa yang Tertidur: Industri Esports Jepang
Credit: The Japan Times

Jepang adalah sebuah rumah bagi banyak perusahaan video game. Sejarah mencatat bahwa eksistensi Nintendo, Sony, Namco Bandai, Konami, dan perusahaan lainnya sudah lama beroperasi dan bertahan melayani pasar yang ada di Jepang, dan bahkan dunia internasional.

Akan tetapi, meskipun perusahaan tersebut cukup eksis di mancanegara, tidak ada satu pun dari perusahaan-perusahaan ini yang dikenal membuat genre permainan yang kompetitif. Di negara itu sendiri, gagasan tentang esports sebagai olahraga baru-baru saja mulai populer.

Paolo Gianti, seorang manajer pengembangan bisnis di industri game Jepang, akan menjelaskan bagaimana esports berhasil muncul, dan hal apa yang masih menahannya.

Jepang, Pasar Tanpa Persaingan

Dengan total pemain 67,6 juta, pasar video game Jepang adalah yang terbesar ketiga di dunia. Bahkan bila dibandingkan dengan Tiongkok, yang berada di nomor dua, Jepang rajin mengekspor lusinan judul franchise game ke pasar barat, seperti Mario, Final Fantasy, Metal Gear, Pokémon, dan Resident Evil.

Paolo Gianti, direktur dari kemitraan strategis dan bisnis global di QBIST, dan juga mantan eksekutif Nintendo Europe, menjelaskan bahwa pasar Jepang masih sulit ditembus, bahkan untuk perusahaan Asia lainnya.

“Karena hal ini, game yang paling populer dan juga ada di ponsel, jelas dikembangkan oleh perusahaan Jepang,” jelasnya. “Sangat jarang untuk melihat game sukses yang datang dari luar negeri, bahkan di peringkat 20 atau 30 teratas. Jadi, ini adalah pasar yang sangat spesial… Contoh paling gampang adalah tentang penjualan PS4, dimana sebanyak 7,5 juta unit telah terjual di Jepang, sementara Xbox One hanya sekitar 100 ribu unit.”

Game MOBA, secara keseluruhan, tidak begitu populer di Jepang.

Pagelaran esports populer bergenre MOBA, seperti League of Legends dan Dota 2 yang dikembangkan oleh perusahaan game Amerika, memiliki presensi yang sangat minim di Jepang.

Banyak yang mengatakan bahwa ini akibat dari undang-undang perjudian yang ketat, sebagai penjelasan di balik lambatnya pertumbuhan esports di Jepang. Akan tetapi, menurut Gianti, masalahnya lebih terletak pada budaya dibandingkan dengan undang-undang.”

Baca juga:  Apakah Esports Adalah Olahraga?

Game MOBA, secara keseluruhan, tidak begitu populer di Jepang,” katanya. “Sebenarnya, setiap permainan yang membutuhkan pembentukan tim dan bekerja sama dengan orang lain, sedang berusaha untuk berkembang di Jepang.

Orang Jepang lebih suka bermain melawan CPU, karena ini menghindari interaksi dengan manusia. Mereka lebih suka menghindari manusia sungguhan yang bisa mengganggu mereka saat mereka berlatih.”

Fighting game yang bersifat satu lawan satu secara historis tetap memiliki presensi yang besar di Jepang sejak Capcom merilis Street Fighter II pada tahun 1991. Namun, sempat ada perbedaan persepsi antara turnamen game, dengan versi baratnya, esports.

“Untungnya tren ini sudah sedikit berubah. Sekarang sudah ada beberapa tayangan iklan TV tentang “esports“, sehingga kata esports sudah menjadi lebih luas.

Dari kemajuan yang lambat hingga ke lisensi pemain pro

Aktor kunci dalam pertumbuhan industri esports di Jepang baru-baru ini adalah Japan Esports Union (JeSU). Serikat ini mencakup 26 perusahaan yang terdaftar sebagai anggota, termasuk penasihat-penasihat yang berasal dari Sony, Tencent Jepang, dan Namco Bandai.

Japan Esports Union
via Esports Observer

“Mereka juga bekerja untuk memberikan lisensi kepada pemain untuk dipertimbangkan sebagai atlet olahraga profesional di Jepang,” ujar Gianti. “Kendati demikian, Gianti juga mencatat bahwa sistem ini dapat menghalangi sisi lain dari industri ini yang belum berkembang.

“Perusahaan-perusahaan yang tidak dipilih oleh JESU akan memiliki kesulitan untuk diakui di Jepang sebagai entitas esports.”  Pengenalan esports di berbagai acara-acara game Jepang juga telah menarik perhatian perusahaan domestik.

JESU memperkenalkan esports ke dalam program Tokyo Game Show 2018, dengan perusahaan-perusahaan domestik yang turut mendukung acara tersebut, seperti penyulingan Suntory, toko swalayan Lawson, dan brand pakaian Beams.

Pada awal tahun baru ini, diumumkan juga bahwa pemerintah Tokyo akan mengadakan acara olahraga dengan hadiah JPY 50 juta (USD 460 ribu) dari anggaran tahun 2019 fiskal.

“Ini semacam kemitraan antara JESU dan kota Tokyo,” ujar Gianti. “Ini sangat besar karena kita berbicara tentang lebih dari 15 juta orang di sebuah area, didukung juga dengan fakta bahwa ini akan diadakan pada satu tahun sebelum pertandingan Olimpiade 2020.”

Baca juga:  4 Alasan Mengapa Esports Adalah Olahraga

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here