Tantangan League of Legends dari Sejarah Mobile MOBA

0
349

Bila kita melihat ke masa lalu dunia gaming, bermain game menggunakan joystick ataupun stick konsol sangatlah diterima luas. Tren ini pun semakin menggelora ketika muncul fenomena baru mobile esports.

Dengan tren yang semakin berkembang ini, tidak heran bila akhirnya game developer untuk PC memutuskan untuk tidak ketinggalan tren mobile ini (demi mendapatkan peluang pendapatan baru).

Tren mobile esports ini sendiri juga cukup menjanjikan, khususnya dengan perkembangannya untuk melakukan payment terhadap konten dalam game.

Contoh developer PC yang sudah merencanakan perilisan game versi mobile-nya adalah Riot Games dengan League of Legends-nya. Kabarnya, mereka sudah mengembangkan game ini selama setahun lebih dan kini berada di masa prapendaftaran.

Di atas segalanya, memasuki pasar mobile esports ini adalah kesempatan besar bagi Riot Games dengan satu game andalannya untuk terus meningkatkan jumlah pemain dari League of Legends (LoL). Saat ini LoL sudah mulai kehilangan pemainnya. Tren ini juga terjadi di berbagai judul PC lainnya, seperti Dota 2 yang juga mengalami krisis yang sama.

Tencent Holdings, selaku induk perusahaan Riot, mengandalkan permainan ini untuk bisa memperbaiki pendapatannya yang terus menurun 2% dari tahun ke tahun, sekaligus untuk kembali menguasai pasar Multiplayer Online Battle Arena (MOBA).

Sesungguhnya, perjuangan Tencent untuk menghadirkan genre mobile MOBA sudah lama ingin diwujudkan, namun harus kandas ketika tidak tercapainya kesepakatan untuk membawa spin-off LoL ke platform baru. Ya, Riot tidak menginginkannya pada saat itu.

Munculnya Honor of Kings dari Tencent

Sebagai gantinya, Tencent Games bersama dengan komplotannya di Timi Studio Group pun kemudian menciptakan Wangzhe Rongyao (bila diterjemahkan menjadi Honor of Kings). Ketika memasuki Indonesia, game ini pun dikenal dengan Arena of Valor. Secara garis besar permainan, game ini cukup mirip dengan LoL.

Honor of Kings

Judul gim Honor of Kings (HoK) ini menjadi salah satu permainan mobile yang hebat sepanjang masa di Tiongkok. Pada tahun 2017, jumlah user-nya meningkat mencapai 55 juta pemain, dan menghasilkan $145M pendapatan dalam sebulan.

Ekosistem esports HoK juga jauh lebih kecil dibandingkan apa yang ada di negara barat. Ajang kompetitifnya, King Pro League (KPL), hanya melibatkan 2 kota dengan sebuah pertandingan final di stadion per tahun.

Namun, di tahun 2019 ini HoK sudah banyak mengalami penurunan dengan persentase penurunan sebesar 34% tahun ke tahun. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pembatasan waktu bermain yang dilakukan Tiongkok, belum lagi munculnya genre favorit baru Battle Royale.

Arena of Valor, edisi internasional Honor of Kings

Tencent berusaha untuk memperluas jangkauannya ke pasar internasional dengan sebuah pengemasan ulang bernama Arena of Valor (AoV). Transisi ini turut menghilangkan berbagai unsur mitologi Tiongkok dan menggantikannya dengan kebudayaan negara barat, termasuk di antaranya karakter dari jajaran superhero hollywood DC.

Untuk menunjang pamor AoV, Tencent rela menyumbangkan dana sebesar $4M ke dalam hadiah Asian Games, agar AoV bisa mendapat tempat dalam cabang esports Asian Games 2018.

Setelah manuver ke pasar barat, Tencent tidak serta merta langsung mendapatkan return of investment yang sepadan. Performanya di pasar barat terbilang tidak begitu berhasil.

Kemenangan dominan Tiongkok di Arena of Valor bukanlah hal yang mengejutkan.

Menurut laporan dari Sensor Tower di Agustus 2018, AoV telah berhasil meraup pendapatan sebesar 3 juta dollar di Amerika Serikat sepanjang masanya. Angka ini jauh lebih sedikit dari yang HoK bisa berikan dalam satu hari di Tiongkok.

“Di negara barat, kami belum benar–benar melihat sebuah mobile MOBA yang telah memiliki basis pemain yang besar seperti Honor of Kings sudah dibangun di Asia,” kata Patrick Corney, CEO dari Tribe Gaming.

Advertisement

Label LoL saja tentu tidak cukup untuk membawa versi mobile-nya untuk bisa menerobos pasar. Pada akhirnya, gim mobile tersebut harus benar-benar luar biasa dan memiliki prospek yang bagus di masa depan. Kita sudah memiliki contoh untuk hal ini. Sebut saja PUBG Mobile yang turut sukses menguasai pasar mobile setelah sebelumnya menguasai pasar PC.

Meskipun tidak begitu berhasil di negara barat, AoV sendiri memiliki beberapa pencapaian di negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Singapura. Namun AoV tidak sendirian di pasar tersebut.

Tencent masih harus berhadapan dengan Moonton. Persaingan AoV dengan Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) tidak hanya berfokus pada penguasaan pasar, namun hingga ke urusan di pengadilan. Perselisihan ini pun dimenangkan Tencent atas gugatan hak ciptanya yang memberikannya pemasukan sebesar $2.89M.

Tantangan League of Legends di pasar mobile

Hingga hari ini, Tencent telah terbukti mampu untuk menyelesaikan perselisihan dengan Riot dan akhirnya mendapatkan permainan LoL untuk mobile. Namun keterlambatannya sendiri sudah menciptakan tantangan yang besar.

LOL Wild Rift
Sumber: Facebook Page @wildriftID

Tencent harus memperkenalkan MOBA baru dengan tema yang penuh kejutan untuk bisa mengalihkan perhatian-perhatian yang saat ini terfokus pada genre lain seperti PUBG Mobile, atau Call of Duty Mobile. Ironisnya, Tencent harus banyak bersaing dengan produknya sendiri.

Riot juga tidak sendirian dalam membawa format permainan dari PC ke mobile. Blizzard sendiri juga tengah mempersiapkan persiapan debut andalannya. yaitu Diablo: Immortal sejak Blizzcon 2018 lalu.

Valve juga telah mencuri start dengan menghadirkan spin-off dari Dota 2, yaitu Dota Underlords yang terinspirasi dari mod Auto Chess Dota 2.

Di pertempuran pasar mobile esports, kualitas gim tidaklah sepenting daya pemasaran. Walaupun label League of Legends sudah memberi keuntungan awal bagi Riot dan Tencent, fitur untuk bisa bermain secara lintas platform juga akan menjadi sebuah daya tarik bila dihadirkan. Fitur ini bisa digunakan sebagai marketing hack.

Permainan lintas platform jelas sangat merumitkan bila pemain mobile harus dihadapkan dengan kompleksitas mekanisme permainan dari platfrom PC. Bayangkan saja betapa rumitnya bila kamu harus bermain Dota 2 menggunakan aplikasi seperti Team Viewer di smartphone kamu.

Oleh sebab itu, daripada berusaha untuk mengimbangi kompleksitas permainan di kedua platform, 2 judul tersebut masih bisa tetap terhubung untuk berbagi cosmetics,emoji, ataupun karakter. Bisa juga dipakai untuk memperkenalkan item eksklusif yang hanya bisa didapatkan dari versi mobile, namun bisa dipakai di platform PC.

League of Legends Wild Rift
Sumber: Facebook Page @wildriftID

Dari sudut pandang esports, kehadiran LoL mobile ini akan difasilitasi dengan sirkuit kompetitif yang terpisah dari versi PC, sama seperti apa yang sudah dilakukan oleh PUBG Corp.

Di sisi lain, Tencent secara perlahan akan mengurangi Arena of Valor, namun tetap menjaga Honor of Kings. Besar kemungkinan Tencent untuk mendukung HoK dan LoL mobile secara bersamaan.

LoL untuk platform mobile ini sudah memiliki identitas, yaitu League of Legends: Wild Rift, dan sedang menunggu masa rilisnya. Gim ini adalah sebuah upaya untuk membangun judul MOBA untuk mobile yang populer di pasar barat. Sekaligus untuk menggantikan rezim Supercell dengan Clash of Clan-nya.


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah dimodifikasi oleh penulis sesuai dengan standar editorial Esportsnesia; Disunting oleh Satya Kevino; Sumber: The Esports Observer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here