Esports dan Asian Games 2018

1
158
Esports dan Asian Games | Esportsnesia.com
via BukaReview

Asian Games 2018 telah berlangsung sukses di Jakarta dan Palembang. Para atlet yang mewakili negaranya masing-masing bertanding pada berbagai cabang olahraga seperti sepak bola, renang, tenis, serta League of Legends dan Arena of Valor.

Untuk pertama kalinya, esports hadir di Asian Games. Meskipun tidak dalam kapasitas penuh, sebanyak 6 judul esports ditampilkan sebagai olahraga demonstrasi, yang artinya tidak ada medali yang diberikan.

Asian Games adalah peluang besar bagi esports untuk secara potensial menemukan wadah dalam acara kompetisi tradisional.

Kendati demikian, masuknya esports merupakan sebuah langkah besar akan penerimaan esports di kancah perlombaan olahraga internasional. Esports yang dijadwalkan akan menjadi olahraga yang sepenuhnya dipertandingkan di Asian Games tahun 2022 mendatang, ternyata masih belum ada kepastian.

Apa yang terjadi?

Masuknya esports dalam Asian Games 2018 dan 2022, diumumkan pada bulan April 2017 lalu. Pengumuman itu disampaikan oleh OCA (Olympic Council of Asia) dengan bantuan Federasi Olahraga Elektronik Asia (AESF) serta Komite Penyelenggara Game Asia Indonesia (INASGOC).

League of Legends (LoL) adalah judul esports paling populer untuk genre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang memimpin 3 hari kompetisi dari tim Tiongkok, Korea Selatan, Indonesia, Taiwan, Kazakhstan, Vietnam, Arab Saudi, dan Pakistan.
League of Legends via Gunnar

Esports diikutsertakan dalam Asian Games 2018 sebagai sarana uji coba. Cabang tersebut diklasifikasikan sebagai olahraga demonstrasi, yang berarti pemenangnya tidak menerima medali resmi untuk pencapaian mereka.

League of Legends (LoL) adalah judul esports paling populer untuk genre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang memimpin 3 hari kompetisi dari tim Tiongkok, Korea Selatan, Indonesia, Taiwan, Kazakhstan, Vietnam, Arab Saudi, dan Pakistan.

Meskipun demikian, hal ini merupakan peluang besar bagi esports untuk secara potensial menemukan wadah dalam acara kompetisi tradisional. Keenam kompetisi esports ini diadakan di BritAma Arena di Mahaka Square di Jakarta, dan dari yang disiarkan, tampaknya hal ini menjadi arena yang cukup besar dengan nilai produksi yang melonjak.

Mungkin ini adalah acara demonstrasi, tetapi Asian Games tidak berorientasi pada presentasi semata. Banyak pertandingan telah disebarluaskan dan disiarkan melalui sejumlah platform di berbagai negara, bersamaan dengan saluran YouTube resmi.

Judul esports dari Konami, Pro Evolution Soccer (PES) 2018 diikuti oleh atlet-atlet esports dari Hong Kong, Malaysia, Indonesia, Jepang, Iran, Kazakhstan, India, dan Vietnam. Tidak lupa, sepasang judul mobile esports, yaitu Arena of Valor dari Tencent dan Clash Royale dari Supercell.
Clash Royale via clashroyale.com

Ada pembatasan internasional dalam penyiaran yang membatasi beberapa penonton secara geografis. Konten streaming yang tidak resmi di Twitch pun terlihat mengalami peningkatan sebagai dampaknya, dengan salah satu siaran League of Legends yang menarik lebih dari 500.000 penonton yang datang melalui Tiongkok. Hal ini terjadi saat penggemar tidak memiliki cara resmi untuk menonton siaran tersebut.

Baca juga:  ESL Telah Tiba di Indonesia!

Pertandingan dan para pemainnya

League of Legends (LoL) adalah judul esports paling populer untuk genre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang memimpin 3 hari kompetisi dari tim Tiongkok, Korea Selatan, Indonesia, Taiwan, Kazakhstan, Vietnam, Arab Saudi, dan Pakistan.

Beberapa atlet League of Legends tingkat dunia pun saling bersaing, termasuk Lee “Faker” Sang-hyeok dari Korea Selatan dan Jian “Uzi” Zi-Hao asal Tiongkok. Blizzard Entertainment juga memiliki 2 judul esports dipertandingkan, yaitu Hearthstone dan StarCraft 2.

Hearthstone diikuti oleh atlet dari India, Jepang, Hong Kong, Kyrgyzstan, Thailand, Indonesia, Arab Saudi, dan Vietnam. Sementara itu, Korea Selatan, Thailand, Iran, Indonesia, Taiwan, India, Vietnam, dan Kazakhstan bersaing di StarCraft II.

Hearthstone diikuti oleh atlet dari India, Jepang, Hong Kong, Kyrgyzstan, Thailand, Indonesia, Arab Saudi, dan Vietnam. Sementara itu, Korea Selatan, Thailand, Iran, Indonesia, Taiwan, India, Vietnam, dan Kazakhstan bersaing di StarCraft II.
Hearthstone via playhearthstone.com

Judul esports dari Konami, Pro Evolution Soccer (PES) 2018 diikuti oleh atlet-atlet esports dari Hong Kong, Malaysia, Indonesia, Jepang, Iran, Kazakhstan, India, dan Vietnam. Tidak lupa, sepasang judul mobile esports, yaitu Arena of Valor dari Tencent dan Clash Royale dari Supercell.

Peserta untuk cabang Arena of Valor (AoV) berasal dari Hong Kong, Laos, Vietnam, India, Indonesia, Taiwan, Thailand, dan Tiongkok. Sementara pemain Clash Royale berasal dari Laos, Hong Kong, Indonesia, Tiongkok, Vietnam, Uzbekistan, Arab Saudi, dan India.

Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki kuota khusus di ke-enam cabang pertandingan tersebut. Cabang Arena of Valor mengadakan babak kualifikasi di Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan untuk kuota yang tersisa.

Sedangkan untuk StarCraft 2, pertandingan sengit berlangsung antara Maru dari Korea Selatan melawan Nice dari Taiwan. Indonesia sendiri juga turut mengirimkan atlet, namun perjalannya harus terhenti ketika berhadapan dengan Iran.
StarCraft II via starcraft2.com

Lima cabang permainan lainnya mengadakan babak kualifikasi untuk wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah, dan Asia Barat. Babak kualifikasi adalah gabungan dari turnamen online dan offline, tergantung pada cabang permainan dan wilayah.

Hasil pertandingan esports

Judul MOBA mobile esports dari Tencent cukuplah popular di Tiongkok, dimana permainan AoV disebut dengan Honor of Kings. Dengan adanya familiaritas terhadap pola permainan mobile MOBA, tidaklah mengherankan jika Tiongkok mendominasi cabang permainan tersebut.

Kemenangan dominan Tiongkok di Arena of Valor bukanlah hal yang mengejutkan.
Arena of Valor via Nintendo

Tiongkok hanya kalah pada satu pertandingan selama turnamen berlangsung yang tetap berakhir dengan kemenangan 2-1 pada putaran ketiga melawan Vietnam.

Kemenangan dominan Tiongkok di Arena of Valor bukanlah hal yang mengejutkan.

Namun di Clash Royale, Tiongkok hanya sanggup memenangkan posisi runner-up. Sebaliknya, Indonesia yang berhasil meraih kemenangan. Sebelumnya Indonesia berhasil menjatuhkan tim Tiongkok ke loser’s bracket, akan tetapi Tiongkok berhasil berjuang kembali hingga ke babak grand final dan meraih kemenangan 3-0 untuk mendapatkan reset bracket.

Meskipun Tiongkok berhasil mengembalikan keadaan, Indonesia tetap bertahan dan mampu menyapu seri kedua dengan skor 3-0 untuk mengamankan kemenangan secara keseluruhan.

Baca juga:  RTS dan Asian Games 2018

League of Legends adalah satu-satunya pertandingan yang memakan waktu lebih dari satu hari. Pada babak terakhir, Korea dan Tiongkok saling melawan satu sama lain. Tiap pemain yang tergabung di dalamnya merupakan 10 pemain terbaik di dunia, yang mengarah ke pertarungan para superstar yang langka dan kompetitif.

Roster tim Tiongkok yang berisikan Uzi berhasil mengalahkan tim Korea Selatan dengan skor 3-1 di grand final. Asian Electronic Sports Federation juga turut memberi komentar “pertempuran yang sangat tegang dan berlarut-larut,” yang disertai dengan opini “jelas bahwa Tiongkok memiliki kerja sama tim, komunikasi, dan momentum yang lebih baik.

Sedangkan untuk StarCraft 2, pertandingan sengit berlangsung antara Maru dari Korea Selatan melawan Nice dari Taiwan. Indonesia sendiri juga turut mengirimkan atlet, namun perjalannya harus terhenti ketika berhadapan dengan Iran.

Cabang esports untuk genre RTS (Real-time strategy) ini pun dimenangkan oleh Korea Selatan atas Taiwan dengan skor 4-0, yang menjadikan Korea Selatan sebagai champion, dan Taiwan sebagai runner-up. Untuk posisi ke-3 diraih oleh MeomaikA dari Vietnam, dan disusul oleh DeMiGoD dari Iran.

Untuk cabang Hearthstone, Indonesia berhasil meraih medali perak. Sepak terjang atlet Hearthstone Indonesia, Jothree, terlihat begitu cemerlang sejak kemenangan 3-1 pertamanya di babak quarterfinals melawan Disdai dari Thailand. Kemenangan berikutnya mengalahkan Tuan dari Vietnam berhasil mengantarkannya pada babak final, dimana Indonesia harus mengikhlaskan kekalahannya melawan kin0531 dari Hong Kong.

Pada cabang PES 2018, para partisipan terbagi menjadi 2 group stage, yakni group A dan B, dimana negara yang berhasil melanjutkan pertandingan ke babak selanjutnya adalah Iran, Malaysia, Jepang, dan Vietnam. Hong Kong, Kazakhstan, Indonesia, dan India telah tereliminasi pada babak group stage.

Pada cabang PES 2018, para partisipan terbagi menjadi 2 group stage, yakni group A dan B, dimana negara yang berhasil melanjutkan pertandingan ke babak selanjutnya adalah Iran, Malaysia, Jepang, dan Vietnam. Hong Kong, Kazakhstan, Indonesia, dan India telah tereliminasi pada babak group stage.
Pro Evolution Soccer (PES) 2018 via Konami

Kemenangan Jepang atas Malaysia sebesar 2-0 di babak semi-final dan Iran atas Vietnam sebesar 2-1, berhasil mempertemukan Jepang dengan Iran di babak perebutan medali emas. Sementara itu, Malaysia dan Vietnam pun memperebutkan medali perunggu. Cabang esports PES 2018 pun menghasilkan Jepang pada posisi 1, disusul secara berurutan oleh Iran, Vietnam dan Malaysia pada posisi 2, 3, dan 4.

Baca juga:  ESL Bekerja Sama Dengan Square Enix Untuk Turnamen Go4 

Ketidakpastian esports di 2022

Demonstrasi Asian Games 2018 seharusnya menjadi batu loncatan untuk masuk secara penuh pada tahun 2022 pada pertandingan di Hangzhou, Tiongkok. Namun, sudahkah esports resmi menjadi cabang yang diperlombakan?

Menurut komentar dari direktur umum OCA, Husain Al-Musallam. Dia menyarankan bahwa esports membutuhkan federasi internasional sebelum dapat dikonfirmasikan sebagai cabang olahraga bermedali. “Mereka harus bersatu untuk memutuskan satu badan pemerintahan,” katanya.

Banyak yang melihat bahwa masuknya esports pada Asian Games adalah langkah yang tepat sebagai langkah logis berikutnya menuju masuknya esports di Olimpiade, dengan presiden AESF Kenneth yang mendukung agenda Olimpiade.

Pada bulan Juli kemarin, Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Asosiasi Global Federasi Olahraga Internasional (GAISF) mengadakan forum esports di Museum Olimpiade di Lausanne, Switzerland untuk membahas kemungkinan inklusi esports di masa depan.

Namun, dengan keberhasilan penyelenggaraan lomba tersebut, apakah esports sudah akan dimasukkan sebagai cabang olahraga resmi untuk Asian Games 2022? Belum dikonfirmasi. Begitulah jawaban dari Olympic Council of Asia (OCA).

Selanjutnya, para pemangku kepentingan dalam esports, industri game dan olahraga tradisional akan mengadakan Esports Liaison Group untuk melanjutkan diskusi tersebut dan membahas langkah selanjutnya.

Fok juga mengatakan bahwa dia “sangat yakin” bahwa esports akan benar-benar menjadi olahraga yang sepenuhnya diperagakan di Asian Games 2022. Namun, Fok juga mengakui bahwa “ada banyak jembatan yang perlu dibangun”, khususnya akan kebutuhan sebuah federasi internasional.

(Sumber: esportsobserver.com, Liquipedia, Wikipedia; Disunting oleh Satya Kevino)