Melirik Potensi Genre Collectible Card Games (CCG) di Esports

0
44
Hearthstone stage
Credit: Blizzard

Salah satu dampak positif dari pagelaran esports di Asian Games 2018 adalah peningkatan popularitas untuk genre collectible card games (CCG). Hearthstone, sebagai salah satu cabang esports yang dipertandingkan, juga turut mengalami endorsement mewakili genre game kartu.

Hearthstone gameplay

Keberadaan game kartu tersebut pun mula terlihat jelas di industri esports. Hal ini juga turut didukung oleh kabar yang datang dari pihak pengembang DotA 2, yaitu Valve, yang saat ini sedang menciptakan game baru.

Sementara itu di genre CCG, beberapa judul game lain berusaha untuk mengingkatkan sensasi bermain melalui proses transisi kartu fisik menjadi kartu digital.

Perkenalkan, inilah 6 judul game CCG yang harus kamu tahu di esports.

Hearthstone

Hearthstone diikuti oleh atlet dari India, Jepang, Hong Kong, Kyrgyzstan, Thailand, Indonesia, Arab Saudi, dan Vietnam. Sementara itu, Korea Selatan, Thailand, Iran, Indonesia, Taiwan, India, Vietnam, dan Kazakhstan bersaing di StarCraft II.
Credit: Blizzard

Saat ini, Hearthstone sudah tidak diragukan lagi sebagai salah satu kelas berat di dunia CCG digital. Didukung oleh penerbit populer seperti Activision Blizzard, Hearthstone telah menjadi ikon permainan kartu digital.

Salah satu faktor dominasi berkelanjutannya adalah ketersediaannya di PC dan di platform seluler. Lebih jauh lagi, Hearthstone juga telah mendapatkan dukungan dari Blizzard dalam atmosfer kompetitif esports sejak game tersebut diluncurkan pada tahun 2014.

Hearthstone Championship Tour mengadakan turnamen di seluruh dunia yang dapat diikuti oleh seluruh pemain secara online. Dari sana, mereka dapat mengumpulkan poin untuk lolos kualifikasi pada liga musiman, yang nantinya dilanjutkan untuk mengikuti kejuaraan tingkat dunia.

Magic: The Gathering

Magic: The Gathering
Credit: Wizards of the Coast

Magic: The Gathering telah menjadi permainan kartu fisik yang populer sejak pertengahan tahun 90-an. Sejak awal kemunculannya, Magic sudah bertanding pada ajang pertandingan dunia, walaupun ajang tersebut terbatas hanya pada permainan kartu yang terbuat dari bahan kertas.

Sampai saat ini, pengembang Wizards of the Coast tengah berusaha mewujudkan permainan dengan format digital modern. Platform digital online saat ini dikenal dengan nama Magic: the Gathering Online.

Permainan ini memiliki jumlah fan base yang kecil namun berdedikasi, dilengkapi dengan beberapa turnamen yang tersebar sepanjang tahun, termasuk kejuaraannya sendiri. Masa depan Magic di dunia esports dapat terlihat melalui fitur Arena di dalamnya.

Baca juga:  4 Alasan Mengapa Esports Adalah Olahraga

Magic: the Gathering Arena merupakan pendekatan yang benar-benar berbeda dalam sebuah game. Dengan fokus utama yakni pada peningkatan grafis dan gameplay, Arena jauh lebih user friendly dan dimaksudkan untuk menarik pemain baru dan kasual.

Ditambah lagi dengan peningkatan fokus Wizards pada Gaming Influencer dan celebrity esports, strategi dukungan ini dapat membawa perkembangan game kartu menuju era baru.

Namun di tengah masanya menuju tren kejayaan esports, masih belum diketahui apakah Wizards of the Coast memiliki keinginan untuk mengubah Arena menjadi bernuansa esports yang sepenuhnya kompetitif.

Pihak penerbit game pun telah menunjukkan beberapa tanda-tanda yang mendukung orientasi esports, seperti memfasilitasi fitur ramah penonton. Sebagai contoh, jika kamu menonton dari Twitch, kini sudah ada fitur yang memungkinkan penonton untuk mengarahkan mouse mereka pada kartu untuk membaca teks lengkapnya.

Menggabungkan tampilan Arena yang diperbaharui dan menarik secara visual, ditambah dengan dukungan ekosistem esports tentu akan menghasilkan sebuah sensasi baru yang istimewa.

Pokemon Trading Card Game

Pokemon Trading Card Game
Credit The Pokemon Company

Pada awalnya judul Pokemon Trading Card Game (TCG) ini adalah bagian dari produk Wizards of the Coast, namun saat ini telah diterbitkan oleh The Pokemon Company. Pokemon TCG telah mengalami pertumbuhan yang pesat juga berbarengan dengan Magic, hanya saja tidak begitu mendapat banyak sorotan.

Meskipun memiliki platform online yang mirip dengan Arena, atmosfer kompetitifnya sebagian besar masih terbatas pada produk fisik.

Tidak hanya permainan kartu, video game Pokemon yang dibuat oleh Nintendo pun telah memasuki ranah esports, namun masih belum dapat menarik minat sponsor, organisasi esports, dan para audiens, untuk bersaing dengan judul-judul besar esports yang lain.

Kendati demikian, fokus Pokemon TCG pada demografi yang lebih muda adalah langkah yang strategis karena akan menjadi niilai eksklusivitas tersendiri, yang tidak ditargetkan oleh banyak permainan kartu lainnya.

Yu-Gi-Oh!

Yu-Gi-Oh! Duel Links
Credit: Konami

Permainan kartu yang tidak kalah ‘senior’ lainnya adalah Yu-Gi-Oh!, yang berasal dari manga dan seri anime Jepang. Permainan trading card game yang didukung Konami ini telah melakukan penjualan rutin setiap musimnya dari kedua produk kartu fisik dan juga video game selama lebih dari 10 tahun dalam sejarahnya.

Baca juga:  Melirik Peluang Investasi Esports di Genre Fighting Game

Sama seperti kompetitornya yang fokus di produksi kartu fisik, Yu-Gi-Oh! telah menikmati popularitas yang berkelanjutan selama 2 dekade. Hal ini menunjukkan bahwa Yu-Gi-Oh! telah memiliki fan base yang dapat menerima keseruan menonton pertandingan kompetitifnya.

Produk digitalnya saat ini, Yu-Gi-Oh! Duel Links, dapat dimainkan di kedua platform PC dan mobile. Duel links memiliki nuansa esports yang resmi sebagai divisi dari ajang kejuaraan dunia Yu-Gi-Oh! yang berlangsung tiap musim semi.

Sebagai catatan, kualifikasi untuk Duel Links World Championship hanya dapat di akses melalui event dalam game. Hal ini jelas sangat berbeda dari mayoritas permainan kartu lainnya, yang lebih menekankan pada partisipasi pemain di turnamen langsung.

Shadowverse

Shadowverse
Credit: Cygames

Salah satu kunci kesuksesan utama Shadowverse adalah evolusi konstannya dalam bentuk jadwal perilisan konten / expansion yang konsisten. Bagi para penggemar hardcore-nya, hal itu berarti ada sebuah ranah kompetitif yang jelas terutama dalam perubahan penyusunan strategi bermain.

Berlandaskan fondasi tersebut, Cygames telah memperkenalkan sirkuit esports-nya yang bernilai 1 juta dolar, serta kini mencari pengakuan dengan menarik perhatian dari organisasi esports besar, seperti Echo Fox, Tempo Storm, dan Panda Global.

Selain Hearthstone, Shadowverse adalah satu-satunya CCG dimana tim-tim esports terkemuka terlibat dalam ranah kompetitifnya.

Cygames juga telah menunjukkan inovasinya dalam mencari kemitraan. Tahun ini Cygames bekerja sama dengan Street Fighter dari Capcom, dan juga turnamen game fighting berskala internasional, Evo, sebagai bagian dari promosi uniknya.

Artifact

Artifact
Credit: Valve

Judul esports bergenre CCG terakhir yang saat ini masih belum dirilis adalah Artifact, yang tengah dikembangkan oleh Valve. Permainan ini didasarkan pada dunia Dota 2, yang membuatnya terlihat menarik bagi penggemar esports Dota 2 yang juga penikmat genre CCG.

Valve juga bermimpi besar dengan merilis Artifact di berbagai platform, seperti Windows, macOS, dan Linux, serta di platform mobile pada tahun depan.

Dengan fokus baru pada perdagangan melalui Steam market yang kuat, Valve berharap untuk dapat membangun kembali sebuah permainan yang memiliki fungsi seperti CCG berfisik yang hidup di era milenium.

Baca juga:  Apakah Streamer Bagian dari Ekosistem Esports?

Artifact akan meminjam banyak elemen dari Dota 2, tidak hanya pada tema dan karakternya saja. Valve telah mengkonfirmasi dukungan untuk permainan kompetitif esports dengan turnamen yang memiliki total hadiah 1 juta dolar untuk awal tahun 2019.

Pihak pengembang juga telah mengkonfirmasi bahwa keuntungan dari penjualan card packs akan digunakan untuk mendanai hadiah esports, mirip dengan compendium untuk turnamen The International Dota 2. Tahun ini saja, compendium The International kembali memecahkan rekornya sendiri dengan jumlah hadiah melebihi 25 juta dolar.


(Dilansir dari The Esports Observer; Disunting oleh Satya Kevino)