Apa Itu Artifact?

0
89
Apa Itu Artifact?

Apakah kamu familiar dengan judul esports Dota 2? Dota 2 yang merupakan competitive gaming bergenre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) ini dikembangkan dan dirilis oleh Valve. Setelah kesuksesan Dota 2, Valve kembali berinovasi dan melahirkan sebuah judul baru untuk meramaikan industri esports.

Game turunan dari Dota 2 ini sudah tidak lagi bergenre MOBA, melainkan bernuansa CCG (collectible card games). Gameplay dari game ini pun sudah pasti berbeda banyak, namun para pemainnya masih bisa bernostalgia dengan hero-hero Dota 2 beserta skills-nya.

3 arena Artifact ala lane Dota 2
3 arena Artifact ala lane Dota 2

Artifact, yang dirilis sejak tahun 2018 kemarin, adalah sebuah permainan kartu virtual yang tersedia secara berbayar di Steam. Penasaran dengan isi di dalamnya? Yuk kita kupas sama-sama apa itu Artifact!

Alur cerita Artifact

Sama halnya dengan judul-judul lain yang berpotensi dari genre collectible card games (CCG) di esports; Artifact yang merupakan game turunan dari Dota 2 ini berfokus pada kisah konflik sengit antar 3 faksi utama dalam Dota 2, atau yang lebih dikenal dengan sebuah kejadian Call to Arms.

Semua kartu karakter yang dirilis dalam Artifact tidak lain berasal dari faksi Bronze Legions, yang dipimpin oleh Legion Commander a.k.a Tresdin, faksi Red Mist Army yang dipimpin oleh Sorla Khan, dan faksi Vhouls yang dipimpin oleh Rix.

Pertempuran antar 3 faksi tersebut menjadikan Roseleaf (rumah dari Treant Protector dan Enchantress) sebagai arena pertempuran. Cerita yang diusung dalam Artifact memang sama persis dengan cerita yang ada di Dota 2. Pemain juga harus memahami konflik yang ada berdasarkan deskripsi dari masing-masing kartu yang ada.

Kisah prekuel dari Dota 2

Secara umum, Artifact bisa diartikan sebagai prekuel dari Dota 2. Ceritanya bermula ketika sebuah organisasi yang bernama The House berusaha untuk mencegah perang besar yang dilakukan oleh ketika faksi di atas.

The House berusaha agar pertempuran yang selama ini kita mainkan di Dota 2 tidak terjadi. Untuk melakukan hal tersebut, The House mempunyai kemampuan untuk menguji dan melihat seperti apa konsekuensi yang muncul ketika setiap faksi dihadapkan satu sama lain, tentunya melalui sebuah permainan kartu.

Baca juga:  Skill Bumerang di DotA 2

Prekuel dota 2, Artifact

Setiap pertarungan dalam Artifact akan menghasilkan sebuah konsekuensi menarik untuk setiap permainan Dota 2. Setiap pertempuran yang terjadi di Dota 2 akan turut dihitung sebagai canon atau masuk ke dalam cerita Artifact.

Ratusan ribu pertempuran yang terjadi setiap tahunnya di Dota merupakan konsekuensi dari satu timeline yang diuji pada simulasi Artifact. Akan tetapi, bukan timeline damai yang mereka inginkan. Hal ini tentu menjadi tambahan kisah yang menarik untuk semesta Dota 2.

Pay to Play

Dibanderol dengan harga 300 ribu rupiah, dalam permainan Artifact juga tersedia berbagai in game purchase untuk mendapatkan kartu-kartu karakter yang lebih kuat.

Salah satu hal yang menarik dari Valve ini adalah bahwa kamu bisa menjual kartu-kartu yang tidak kamu butuhkan dengan mengakses Community Market. Melalui market tersebut, kamu juga bisa membeli kartu hero yang kamu butuhkan.

Gameplay unik

Pada umumnya genre CCG maupun TCG selalu menampilkan sebuah arena atau zona pertarungan. Hadir dengan konsep eksklusif, Artifact menyajikan permainan dengan tiga zona, sembari mengadaptasi dari gameplay Dota 2.

Gameplay unik Artifact

Jika permainan CCG pada umumnya mencapai kemenangan dengan mengalahkan deck kartu musuh, Artifact justru mengharuskan kita untuk menghancurkan tower musuh dari 2 lane atau menghancurkan monumen ancient yang berada di belakang tower.

Jadi mudahnya, kamu hanya harus berfokus pada salah satu sisi saja untuk dapat memenangkan permainan ini. Dalam membuat deck, kamu harus menysusun 5 kartu hero yang mempunyai klasifikasi dari 4 jenis warna: merah, biru, hijau, dan hitam.

Kamu juga akan mendapatkan gold dalam setiap permainan, yang nantinya bisa digunakan untuk memperkuat kartu hero kamu dengan bantuan item.

Mode permainan

Artifact deck

Setelah menyiapkan deck, kamu bisa memainkan berbagai mode permainan ini:

  • Automated: mode ini sangat mudah untuk dimainkan, kamu hanya perlu menekan tombol otomatis untuk dapat memainkan, tanpa perlu direpotkan dengan strategi pada saat bermain.
  • Pauper: mode ini menggunakan sistem open tourney, yang akan menandakan adanya rotasi permainan dengan tema yang sama. Dalam mode ini, player hanya diizinkan untuk menggunakan deck kartu biasa, tetapi player diperbolehkan menukar deck kartu untuk setiap permainan berikutnya.
  • Free For All: mode permainan ini yang paling umum digunakan. Kamu harus mengalahkan banyak player lain dalam batasan waktu 3 jam. Mode permainan ini digunakan untuk kompetisi. Player dengan jumlah kemenangan terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang.
  • Bot Gauntlet: mode dimana player bermain melawan bot atau AI. Semakin tinggi level bot semakin sulit juga tingkat deck yang digunakan.
  • Call to Arms: mode tambahan ini memungkinkan player untuk bermain dengan random deck yang dibagikan oleh sistem saat player memasuki permainan.
Baca juga:  Apa Itu The International?

Turnamen esports Artifact

Artifact Preview Tournament
Artifact Preview Tournament

Pihak developer Artifact tidak hanya mempersiapkan game semata. Mereka juga bekerja sama dengan salah satu organizer yang sudah berpengalaman dalam industri esports. Rencananya, mereka akan membuat turnamen Artifact dengan mengundang para pemain terkenal dari game TCG seperti Joel “heffaklumpen” Larsson, Mogawai dan juga kapten dari juara The International 2018 Kuro “Kuroky” Salehi Takhasomi.

Ketiga nama tersebut merupakan bagian dari 128 pemain yang diundang untuk mengikuti turnamen Artifact Preview Tournament. Tujuan diadakannya turnamen ini untuk menjelaskan bahwa Artifact bersifat kompetitif.

Buktinya KuroKy yang seorang pro player Dota 2 ternyata mampu mengalahkan pro player dari game TCG sejenis. Walaupun akhirnya tetap kalah juga di tangan heffaklumpen yang tidak pernah kalah untuk melaju ke babak final.

Setelah turnamen perdana Artifact, Valve juga merencanakan untuk melanjutkan pola yang sama pasca kesuksesan The International. Sama seperti di tahun 2011, Valve pun akan menjadwalkan sebuah turnamen akbar berhadiah 1 million dollar.

(Disunting oleh Satya Kevino; Sumber gambar: Valve)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here