Sudah Kenal Drop The Cap? Ini Dia, Komunitas Fighting Game Asal Surabaya

0
214
Profil Komunitas Drop The Cap

Maraknya video games kompetitif atau yang kini disebut dengan esports kini sudah bukan hal biasa. Mulai dari Mobile Legends, AOV, hingga fighting game seperti Super Smash Bros,  Tekken 7, dan Dragon Ball FighterZ.

Genre fighting game yang kini memiliki potensi besar di esports, mulai mengembangkan sayapnya untuk menjangkau lebih banyak penggemar. Pertumbuhannya tentu saja tidak akan lepas dari peranan komunitas yang mendukungnya.

Awal penurunan popularitas RTS

Berawal dari hobi hingga berujung komunitas, kali ini tim Esportsnesia berkesempatan untuk mewawancarai ketua komunitas fighting game asal Surabaya Drop The Cap, Dwiky Armand Sucahyo.

Sekilas tentang Drop The Cap

Berawal dari ketertarikan bermain game sederhana, seperti game kartu, board game, dan juga game konsol; tepatnya pada masa-masa perkuliahan di Universitas Airlangga dan berkenalan dengan banyak mahasiswa baru yang ternyata gamer, sejak saat itulah Dwiky dan rekan juniornya sering berkumpul bersama untuk mabar.

Komunitas Drop The Cap

Bagai kutu loncat, menjadi hal yang wajar bagi Dwiky dan rekan sepermainannya untuk terus mencoba games yang sedang kekinian. Singkat cerita, Dwiky cs. Pun jatuh hati pada genre fighting game dan inisiatif membentuk sebuah komunitas pun mulai muncul.

Maka sejak saat itu, Drop The Cap pun muncul ke permukaan.

Bagai tuan rumah yang menyambut tamumya dengan ramah, Dwiky dan rekan komunitas menyediakan beberapa saluran media sosial yang dapat digunakan para gamers untuk menghubungi komunitas ini.

Lebih lanjut, kamu dapat menghubungi mereka melalui saluran berikut ini.

Kontak
  • Dwiky (Ketua) – 081703871455

Kegiatan Drop The Cap

Hingga saat ini, Drop The Cap sudah berjumlah 14 orang. Tidak menutup kemungkinan untuk tetap terus bertambah. Dengan anggota yang masih terbilang cukup, Komunitas ini tetap aktif berkegiatan demi melebarkan sayapnya untuk terus menjangkau fighting gamers yang lain.

Baca juga:  Tujuh Menit Lebih Dekat Bersama PES Community Surabaya AM:PM
Gathering Mingguan

Gathering Mingguan Drop The Cap

Setiap 2 minggu, Dwiky dan rekan komunitas mengupayakan untuk bisa berkumpul. Walau hanya kumpul-kumpul biasa, namun hal tersebutlah yang membuat hubungan Dwiky dan sesama rekan semakin erat.

Bukan hanya bercerita tentang kesibukan sehari-hari, namun juga seputar cara menjadi jago dalam permainan, seperti sharing tips dan trik fighting games.

Cross Gathering Major Tourney di Starnifest Surabaya

Cross Gathering Major Tourney di Starnifest Surabaya

Tepat satu tahun yang lalu, November 2017, Drop The Cap mengikuti turnamen di Surabaya yang dikenal dengan Cross Gathering Major Tourney. Setelah sebelumnya gathering mengasah skill, pasukan Drop The Cap pun pergi bertempur.

Open Booth di Japanese World UNAIR

Drop The Cap - Open Booth di Japanese World UNAIR

Februari 2018 lalu di Japanese World UNAIR (Universitas Airlangga) terdapat sebuah stand khusus untuk para komunitas esports. Drop The Cap berkesempatan untuk mengisi salah satu stand  tersebut.

Kegiatan ini bersifat untuk memperkenalkan komunitas kepada jangkauan masyarakat yang lebih luas, dan tentunya disertai dengan free play. Dengan senang hati para teman komunitas menyambut teman-teman UNAIR yang ingin mengenal fighting game serta profil komunitas Drop The Cap.

Open booth di JapaniVersal UNTAG

Drop The Cap Open booth di JapaniVersal UNTAG

Kegiatan ini bersifat display komunitas dan difasilitasi dengan free play, sama halnya dengan kegiatan sebelumnya di UNAIR. Kegiatan yang dilaksanakan pada Juli 208 ini, mengundang para rekan komunitas untuk memberi pandangan, juga trik dan tips sukses bermain fighting game.

Gathering dengan komunitas fighting game Malang, Cross Gathering

Drop The Cap Gathering dengan komunitas fighting game Malang, Cross Gathering

Sebagai sesama komunitas yang ingin berkembang di dunia esports, tentunya menjalin hubungan baik dengan komunitas yang lain adalah sebuah anjuran. Selain untuk bertukar pikiran dan menjadi rival dalam pertandingan, silaturahmi juga bisa menjadi wadah untuk mengembangkan diri.

Gathering antar komunitas di bulan Juli lalu ini dihadiri oleh banyak anggota dari kedua komunitas.

Acer Predator Tournament di Airlangga Convention Center

Drop The Cap Acer Predator Tournament di Airlangga Convention Center

Practice makes perfect. Tidak jauh dari kalimat populer tersebut, Dwiky dan rekan komunitasnya berusaha untuk sering mengikuti turnamen demi mengasah kemampuan diri.

Semakin sering bertanding, maka semakin banyak trik dan tips yang tentunya bisa didapat demi memperkuat diri menghadapi lawan. Turnamen yang diadakan oleh Aceh Predator ini bertempat di Airlangga Convention Center.

Baca juga:  Dari Sabang Hingga Merauke, Komunitas AOV Pekanbaru Hadir untuk Indonesia
Open booth Chibi Daisuki Japan Fest, Tunjungan Plaza Surabaya

Drop The Cap Open booth Chibi Daisuki Japan Fest, Tunjungan Plaza Surabaya

Kegiatan penghujung tahun, Drop the Cap berkolaborasi dengan Cross Gathering membuka stand komunitas di Chibi Daisuki Japan Fest, Plaza Surabaya.

Tentunya, bulan Desember ini menjadi penutup kegiatan yang cukup berkesan bagi kedua komunitas.

Tidak hanya sekedar gathering maupun display komunitas, Dwiky dan rekan komunitas Cross Gathering juga menawarkan adu kemampuan bermain, hingga mengajar tutorial bagi yang masih penasaran.

Keberadaan Drop The Cap yang membawa kontribusi

Dwiky, selaku ketua komunitas dari Drop The Cap menyadari bahwa tidak banyak komunitas esports yang terbentuk, khususnya di sektor fighting game. Berawal dari niat “menciptakan rumah” untuk para fighting gamers, Dwiky membentuk komunitas hingga apa adanya kini.

komunitas Drop The Cap

Masih berumur jagung, sebuah kebanggan bagi Dwiky dan rekan komunitas sudah mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat walau hanya dengan sekedar pengenalan fighting game dari satu ke lain orang melalui pengisian stand di festival-festival yang membagikan informasi seputar fighting game dan esports di Facebook Page mereka.

Tantangan dalam Mengembangkan Drop The Cap

Menurut Dwiky, tantangan terbesar hingga kini ialah ketertarikan masyarakat, khususnya masyrakat Indonesia, yang sering berganti-ganti ketertarikan atau tidak konsisten dalam satu permainan saja.

Hal ini dikarenakan pesatnya muncul game baru dalam jangka waktu beberapa saat. Adanya hal tersebut membuat sulit membangun dunia esports, karena harus terus bersanding dengan budaya populer lain.

Belum lagi, budaya bermain di dunia esports kini dianggap masih sama dengan permainan anak-anak lainnya, yang hanya sekedar bermain game tanpa masa depan.

Fenomena ini menjadi kesultan tersendiri bagi komunitas esports yang ada, dikarenakan sulitnya masyarakat untuk melihat potensi yang ada di dunia esports, yang kini sudah bisa dijadikan sebagai pilihan karir.

Perkembangan esports di Surabaya

Untungnya, perkembangan esports sudah menjangkau basis kota dimana Drop The Cap berada. Pengetahuan anak-anak milenial di Surabaya ini cukup maju, meskipun referensi orang-orang masih terpaku hanya pada game bergenre MOBA seperti Dota 2, AoV, dan Mobile Legends.

Baca juga:  Berkenalan dengan Pionir Komunitas Esports di Cirebon, Komunitas AOV Cirebon

Menurut Dwiky, hal yang patut untuk disyukuri lainnya ialah keberadaan IESPA yang sudah lama resmi dan berada di bawah pemerintahan, membuktikan bahwa berkarir di esports memiliki harapan dan kepastian masa depan.

Meat (kiri) saat mengikuti IeSF World Championship 2018 Sumber: Stanley Tjia
Meat (kiri) saat mengikuti IeSF World Championship 2018 Sumber: Stanley Tjia

Selain itu, Dwiky juga bersyukur karena pemerintah memberikan dana pengabdian kepada komunitas esports, dengan memberangkatkan salah satu pemain Tekken lokal, Adrian “Meat” Jusuf, ke kancah IESF World Championship 2018.

Pandangan Drop The Cap terhadap isu-isu seputar industri esports

Terkait dengan tren anak usia dini yang sudah berkeinginan untuk berkarir di esports via smartphone mereka, Dwiky beranggapan bahwa hal tersebut tidaklah seharusnya.

Apalagi jika anak yang dimaksud masih belum berusia 17 tahun. Masih belum waktunya untuk memfokuskan diri ataupun berkarir di dunia esports. Paling tidak harus menjalani pendidikan formal selama 9 tahun terlebih dahulu.

Atmosfer gaming di Korea Selatan via Wikipedia
Atmosfer gaming di Korea Selatan via Wikipedia

Akan tetapi, Dwiky tidak mengingkari bahwa jika kelak akademi esports memang sudah ada dan cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya, tentu saja hal itu menjadi sah-sah saja untuk berkarir sejak dini.

Harapan Drop The Cap ke depannya

Komunitas ini  meyakini bahwa esports mempunyai masa depan yang baik khususnya di masa mendatang.

Untuk itu, harapan Dwiky dan rekan Drop The Cap lainnya kepada para pembaca dan juga gamers di masa kini yang sudah memutuskan untuk menerjunkan diri di dunia esports, adalah untuk tetap konsisten berlatih dan aktif berkomunitas dengan sesama teman yang menekuni bidang yang sama.

Dwiky juga tidak mengingkari bahwa kehidupan di alam esports ini bukan semata-mata berfokus secara individual. Para atlet esports akan sering bertanding dengan lawan dan juga memiliki rekan.

Jangan juga melupakan keberadaan pihak-pihak lain seperti fans, pihak sponsor ataupun manajemen tim, dimana kesuksesan yang berarti di esports tentu harus turut menjangkau orang banyak tidak hanya diri sendiri.

Atlet esports juga harus selalu memiliki plan B dalam karirnya yang sama halnya dengan atlet olahraga tradisional.

(Disunting oleh Satya Kevino)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here