Mengenali Jenis-jenis Bad Manners di Esports

0
29
bad manners esports

Bad Manners di Esports – Pada saat kita sedang bermain game atau berada pada suatu pertandingan game yang membutuhkan konsentrasi tinggi yang mempertaruhkan nama tim, rank, atau apapun itu yang membuat kita memperjuangkan kemenangan di game tersebut; kita pasti ingin memiliki environtment yang mendukung saat bermain dan bisa bermain dengan nyaman. Namun, pada beberapa kesempatan pasti kita pernah menjumpai hal–hal yang kurang mengenakkan pada saat kita bermain.

Baik itu tim yang kurang koordinasi dalam bekerja sama, musuh yang melakukan troll play dan membuat kita merasa rendah karena permainan mereka yang bercanda tapi tetap memimpin, dan lain sebagainya. Di antara semua hal yang mengganggu kita, ada satu hal yang lebih umum pada lingkungan ini, yaitu Bad Manners atau yang lebih dikenal dengan istilah BM.

BM merupakan tindakan yang kurang pantas dilakukan di saat para pemain sedang bertanding pada suatu match yang membuat para pemain lainnya menjadi terbawa emosi atau kurang focus pada permainan mereka.

Tindakan BM itu pada dasarnya merupakan tindakan yang bersifat disrespect terhadap lawan, baik pada saat bermain maupun diluar pertandingan. kita akan membahas beberapa hal tersebut di dalam artikel ini.

Bad Manners Esports #1: All Chat

All Chat merupakan sebuah fitur yang memungkinkan para pemain dari sudut tim yang berbeda untuk dapat berkomunikasi. Pada awalnya fitur ini ditujukan agar para pemain dapat berbagi suatu informasi dengan tim lawan atau sekedar mengucapkan “GLHF” (Good Luck Have Fun) sebagai tanda sportivitas dalam permainan. Akan tetapi hal ini bisa berubah ketika hal–hal yang dikirimkan pada chat tidak lagi tentang berkomunikasi.

toxic di esports

Di antaranya seperti Noob Calling, mengejek tim lawan, trolling dengan berbagi informasi rahasia di tim mereka (seperti memberitahu lokasi bomb, sedang solo Roshan/Baron, dsb), atau sekedar membuat konsentrasi buyar dengan melakukan provokasi kepada tim lawan.

Kamu pasti pernah menemui player seperti ini yang membuat konsentrasi kamu buyar dan mungkin juga jadi terprovokasi untuk membalas perkataan mereka tersebut.

Ini juga yang menjadi alasan kenapa kamu tidak akan pernah menemukan pertandingan profesional dimana para player-nya akan menggunakan All Chat karena melakukan All Chat itu sendiri dilarang pada pertandingan resmi agar menjaga pertandingan tetap kondusif.

Akan tetapi ada pengecualian ketika pertandingan resmi yang sedang diadakan merupakan pertandingan just for fun seperti pertandingan Allstars pada turnamen Dota 2 dan League of Legends.

Bad Manners Esports #2: Teabagging

Kalau kamu pernah bermain gim bergenre First-person Shooter (FPS) seperti Counter Strike, kamu pasti pernah menemukan player yang melakukan tindakan ini pada lawannya. Tindakan ini dilakukan dengan melakukan spamming pada tombol crouch sambal berdiri di atas mayat lawan. Tapi apa sebenarnya arti dari tindakan ini?

Asal mula istilah teabagging ini sebenarnya sedikit seksual karena berawal dari tindakan seseorang yang memberikan daerah selangkangannya pada lawannya berkali–kali. Istilah teabagging ini diambil karena tindakan ini mirip seperti mencelup – celupkan kantung teh ke dalam air berkali–kali.

Ini merupakan satu dari beberapa hal yang termasuk offensive bagi beberapa daerah/kalangan karena di kultur kita tidak pernah mengetahui tentang hal ini, mirip halnya ketika kita mengucapkan “N” word dan ketika ada orang kulit hitam yang mengucapkannya. Untuk itu, mari tidak melakukan tindakan ini supaya permainan kita tetap kondusif dan sportif.

Perlu diketahui, selain game FPS, terkadang teabagging juga dilakukan oleh para pemain game fighting dengan mendekati lawannya dan melakukan spamming tombol arah bawah di dekat lawannya. Pada dasarnya teabagging dapat dilakukan pada game dimana pemainnya bisa melakukan action jongkok dan bisa mendekati lawannya.

Bad Manners Esports #3: Inting (Intentional  Feeding)

Buat kamu yang bermain League of Legends, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Tindakan ini merupakan sebuah tindakan dimana seorang pemain akan dengan sukarela “mempersembahkan dirinya” kepada pihak lawan dengan tujuan meningkatkan lead dari lawan dan membuat timnya menjadi semakin tertinggal. Apa yang menjadi penyebab dari hal–hal semacam ini?

Buat pemain gim MOBA pasti pernah bertemu para pemain yang melakukan role hostage dimana seorang pemain akan meminta untuk dapat memainkan suatu karakter atau role dan ketika mereka tidak dapat memainkannya, mereka akan “merajuk” dan akan merusak permainan timnya.

Ada juga pemain yang sudah muak karena timnya toxic lalu kemudian membuat suasana semakin keruh dengan bermain malas – malasan atau membiarkan dirinya mati ditangan lawan. Ada lagi pemain yang marah kepada tim nya karena terus mengambil farm darinya, dan lain sebagainya.

Salah satu pemain yang terkenal sebagai icon dalam tindakan ini ialah Tyler1, seorang pemain/streamer League of Legends yang terkenal sangat toxic pada masanya. Ketika ia tidak dapat menggunakan Draven atau timnya mengecewakan dirinya, ia akan dengan sengaja maju ke tower musuh dan membiarkan dirinya dibunuh lawan hingga ia akhirnya terkena permanent ban.

Berikut adalah video Tyler1 pada masanya yang terkenal dengan toxicity-nya.

Sekarang ia telah menjadi seorang pribadi berbeda yang berusaha keras dan bahkan telah bergabung dengan tim SKT T1 dari Korea yang merupakan tim powerhouse di Korea Selatan setelah mengalami perubahan dan telah beberapa kali juga melakukan kolaborasi dalam sebuah video dengan salah satu pemain SKT yaitu Faker.

Kejadian ini juga membuat sebuah meme yaitu “T1 joins T1” yang kemudian diunggah di Youtube SKT sebagai pengumuman dari hal tersebut

Mungkin beberapa contoh di atas itu hanya contoh umum, akan tetapi kamu mungkin bertanya – Tanya apakah memang pernah terjadi BM pada saat turnamen esports? Untuk itu mari kita telusuri bersama – sama.

Bad Manners Esports #4: Bermain StarCraft dengan Kaki

Yep, kamu membacanya dengan benar. Ada suatu ketika dimana sebuah turnamen StarCraft yang mengundang seorang pemain dari Korea menjadi bahan perbincangan internet karena suatu tindakan yang membuat semua orang terheran–heran, yaitu bermain dengan menggunakan kaki kiri untuk menekan command. Pada saat turnamen.

Hal ini menimbulkan perbincangan hangat di internet mengenai pemain yang memiliki ID “Larva” ini. Beberapa orang menganggap bahwa Larva ialah seorang pemain yang memang suka melakukan tindakan aneh dan bercanda dengan hal–hal semacam ini. Akan tetapi di sudut lain orang mengatakan bahwa tindakan ini tidak terhormat dan mencoreng sportivitas dalam permainan.

Pemain tersebut kemudian di ban oleh penyelenggara untuk tidak dapat mengikuti event turnamen yang diselenggarakan oleh mereka. Akan tetapi beberapa komentar di internet masih tetap mendukung Larva karena ternyata lawannya tersebut pernah menyebutnya yang dalam Bahasa China berarti “sakit jiwa” atau “idiot” dan tidak meminta maaf kepada Larva atas hal tersebut.

Bad Manners Esports #5: Team OG Melakukan BM di The International 2019

Pada turnamen dengan prizepool terbesar di kancah esports ini, tim OG juga pernah melakukan BM dengan cara spamming chat emote, spray, dan meletakkan flag di sekitar lawan mereka, EG. Pada match ini terlihat bahwa tim OG sangat menikmati permainan mereka meskipun mereka tahu bahwa nama tim mereka menjadi pertaruhannya.

Sepanjang pertandingan ini, kedua tim saling lempar chat emote dan pada akhirnya tim OG tetap memenangkan turnamen TI 2019 dan menjadi juara. BM yang satu ini adalah salah satu bentuk BM yang dapat dibilang  salah satu BM for fun pada esports, seperti halnya yang selanjutnya

Bad Manners Esports #6: S1mple dan kemampuan knife-nya

Bagi pemain CSGO dari Na’Vi ini, bermain dengan profesional sudah menjadi bagian dari dirinya. Akan tetapi yang membuat pemain yang satu ini mencolok dari lainnya ialah bahwa ia seringkali menggunakan pisau untuk membunuh lawannya yang menggunakan senjata dan memenangkan pertandingan.

Istilah “don’t bring a knife to a gunfight” sepertinya tidak berlaku bagi pemain ini dan baginya istilah tersebut dapat dibaliknya sehingga terlihat seperti musuhnya yang tidak sopan karena membawa senjata ke pertarungan pisau.

Seperti yang kita lihat, BM yang satu ini lebih ke permainan mental yang membuat lawannya menjadi semakin lemah karena mereka dibunuh dengan menggunakan sebuah pisau ketika mereka membawa senjata.

Akan tetapi, sepandai–pandainya s1mple menggunakan pisau, pasti akan gagal juga. Salah satu momen yang membuat pemain ini tercoreng sejarahnya ialah ketika ia menyadari timnya sudah tinggal 1 game lagi pada map point dan mereka bisa menang, s1mple mencoba memisau lawannya tetapi gagal dan membuat ketertinggalan lawannya semakin terkejar hingga akhirnya tim mereka kalah dan harus gugur dalam turnamen tersebut.


Nah, sudah banyak contoh dan cerita yang kita ulas pada artikel yang satu ini? Masih kurang atau ada yang terlewatkan yang kamu ingin tambahkan? Ayo berikan komentar kamu supaya kita sama–sama mengerti lebih jauh soal BM di kancah esports dan belajar dari pengalaman mereka yang pernah mengalaminya. Sekian untuk artikel ini, gxg signing out!